You and dance is everything to my life ( chap 4 )

Chap 4
Hyun Mi pov
Saat aku berusia 10 tahun, aku eomma, appa, yoo chun oppa, jungmin oppa sering datang kesini setiap kami liburan ke rumah nenek. Tempat dengan padang rumput yang luas dan danau di depannya tidak pernah terlewatkan untuk di kunjungin. Aku biasa melihat kedua oppa ku bermain tembak – tembakan atau layangan yang di belikan appa, sedangkan aku selalu bermain boneka di ayunan pohon yang ada di tengah taman ini. Dan aku ingat saat ada anak laki – laki yang iseng merebut boneka ku, aku menangis dan kedua oppa ku mengejar anak itu sampai ikut menangis juga.
Hahahaha, jika aku mengingatnya aku ingin tertawa. Ku lihat tujuh ekor anak kura – kura yang ku beli tadi secara tidak sengaja di tempat itu. Mereka terlihat seperti keluarga. Ku ambil spidol permanen yang ada dalam tas ku.
” Ini pasti eomma.” Ku ambil kura – kura yang selalu terlihat diam di pojok kandangnnya, lalu ku tulis dengan spidol eomma. ” Dan ini pasti appa.” Ku ambil kura – kura yang ukurannya peling besar di antara yang lain, lalu ku tulis lagi di cangkangnya appa. ” Dan ini sudah jelas kedua oppa ku, mereka yang selalu bermain bersama atau bahkan bertengkar.” Ku tulis lagi di kedua cangkan kura – kura itu, yoo chun oppa dan jungmin oppa. ” Dan ini pasti Hyukie ku, kura – kura yang tidak bisa diam.” Ku ambil kura – kura yang memang dari tadi berenang kesana kemari. ” Dan ini sudah pasti aku.” Ku lihat kura – kura yang cangkangnya sedang terbalik, dan membuat dirinya tidak bisa berbuat banyak. ” Ya ini aku, aku yang lemah. Dan kau tanpa nama.” Ku ambil kura – kura yang sedang bertangkring di atas batu.
Pernyataan dokter tadi membuat ku sedih dan bingung, apa yang harus aku lakukan. Ku ingat saat dokter itu berkata.
Flashback
” Bagaimana dok, keadaan saya?” Tanya ku penasaran dengan hasil pemeriksaan kesehatan ku. ” Aku sakit apa?”
” Nonna, apa selama ini kau merasa sehat? Atau selama beberapa tahun ini mempunyai keluhan tentang kesehatan mu?” Tanya dokter itu, pertanyaan yang membuat ku bingung.
” Ya dok, semenjak smp aku memang mempunyai penyakit migran. Itu menurut dokter ketika saya berobat padanya. Dan selama itu pula jika saya merasa sakit di kepala hanya meminum obat yang biasa saya minum semenjak smp. Dan kurang lebih 2 tahun belakangan ini intesitas saya migran memang lebih sering, saya hanya berfikir mengapa itu terjadi karena saya mempunyai kegiatan yang lebih padat dan sakit kepala itu datang.” Jelas ku pada dokter itu.
” Owh begitu ya Nonna, berati kau untuk saat ini jangan teralu lelah dulu usahakan istirahat yang banyak dan rutin berobat.”
” Maksud dokter apa? Saya tidak mengerti, sebenarnya saya sakit apa?” Tanya ku penasaran.
” Maaf nonna, sakit kepala yang ada rasakan dulu hingga saat ini serta mengapa sekarang anda sering mimisan itu ada kaitannya dengan penyakit anda. Sepertinya ketika anda masih bersekolah semuanya belum terdeteksi dengan benar. Anda menderita kanker otak.”
Deg, perasaan sedih bercampur aduk dengan takut itu yang ku rasakan saat itu. Dan dokter menyebutan penyakitku sudah masuk pada stadium 3, ini sudah parah. Jika aku tidak mengambil tindakan untuk kemotrapi, sudah cukup jelas, waktu hidup ku hanya tinggal beberapa bulan saja.
Saat keluar dari rumah sakit itu, aku berjalan tanpa arah dengan pikiran yang bercampur aduk, aku sangat ingin menangis, tapi aku tidak mau orang terdekat ku mengetahui hal ini. Itu hanya membuat mereka khawatir dan membuat ku menjadi beban pikiran mereka saja. Saat aku tersadar dengan lamunan ku aku berhenti di depan toko permen, ku beli banyak permen. Hal ini aku lakukan untuk menenangkan pikiran ku, dan saat ku lihat toko hewan ku lihat kura – kura ini. Entah dari mana ide itu, aku pun membelinya beberapa ekor.
End flashback
Tanpa terasa hujan turun dan air mata ku sudah tak terbendung lagi, aku pun menangis sejadinya di tempat itu. Yang kurasakan saat ini hanya takut meninggalkan orang – orang yang ku sayang, meninggalkan impian. Ku peluk kaki dan ku benamkan wajah ku di dalamnya. Bukan hanya dingin hujan yang kurasakan, namun hati ku terasa lebih dingin. Dan bodohnya saat seperti ini, aku malah mendengar eunhyuk memanggilku, suaranya sangat khawatir. Namun saat ku mengangkat wajahku, eunhyuk memang sudah ada di depan ku. Aku hanya diam, dan ku yakin dia melihat air mata ku.
Dia menyeka air mata ku. ” Maafkan aku, membuat mu seperti ini.” Tidak perlu minta maaf, itu adalah perkataan ku nanti yang akan meninggalkan mu. Sebenarnya aku belum ingin melihatnya dalam keadaan ku yang masih dilanda kaget dengan kenyataan yang aku terima. Aku hanya bisa diam dan menatapnya saja, dia membawaku dalam peluknya.” Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakitimu.” Kata – katanya malah semakin membuatku menangis, dia menyadari kesalahannya tadi siang itu. Namum bukan itu masalahnya, ini tentang keadaan ku bukan soal tadi. Aku bahkan lupa dengan kejadian siang itu.
Eunhyuk pov
Sepulang latihan aku pun bergegas ke apartementnya, namum nihil aku tidak menemukannya. Lalu aku pergi ke kampusnya ku cari keseluruh ruangan favoritenya yang pernah dia ceritakan kepada ku. Perpustakan, taman belakang kampus, kolam renang, bahkan studio dance tempat pertama kali aku bertemu dengannya, namum sekali lagi nihil aku tidak menemukannya. Aku pergi kesemua tempat makan kesukaannya, kesemua tempat biasa dia bersenang – senang, tapi aku tetap tidak menemukan sosoknya.
Ku lihat fotonya di wallpaper ponsel ku, dia tersenyum di foto itu. ” Hyun mi ah dimana dirimu, jangan buat aku khawatir seperti ini.” Sekarang sudah hampir tengah malam, namum aku belum menemukan dirinya. Ku amati lagi foto itu, foto itu di ambil beberapa bulan yang lalu di sebuah taman di pinggir kota ini. Dan aku pun tersadar dengan hal itu, aku yakin pasti dia ketempat itu. Aku pun langsung bergegas ketempat itu.
Benar perkiraan ku, dia ada ditempat itu. Dia sedang terduduk di pinggir danau, ku amati dari jauh dia bermain dengan kura – kura. Dan tiba – tiba saja ku lihat dia menangis, apa yang terjadi sampai membuatnya seperti itu. Aku mendekatinya, ku panggil dia namum tidak ada reaksi apapun. Saat dia mengangkat wajahnya ku lihat air matanya yang bercampur dengan air hujan.
Ku seka air matanya. ” Maafkan aku, membuat mu seperti.” Namum dia hanya diam dengan tatapan yang tidak aku mengerti. Aku takut terjadi hal buruk padanya, kupeluk dia dengan erat. Tubuhnya sangat dingin, dan pakaian yang digunakan masih pakaian latihan tadi, pantas saja dia sangat kedingingan tubuhnya gemetar. ” Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakitimu.” Ku katakan hal itu, aku sadar dengan kesalahanku tadi siang, namum itu membuatnya semakin keras menangis. Ku peluk dia lebih erat.
Melihatnya seperti itu, aku jadi tidak tega ku gendong dia menuju mobil, hyun mi masih menangis dan tubuhnya gemetar.
” Oppa, jangan tinggalkan kura – kura itu sendirian disini, bawa mereka pulang.” Ucapnya tiba –tiba.
” Ne, akan ku bawa. Tapi aku harus mengantarmu ke dalam mobil dulu, hujan semakin deras aku tidak mau kau sakit. Baju mu basah semua.” Jelasku padanya.
Setelah sampai mobil pun, aku langsung menyalakan penghangat lalu ku buka baju basahnya. ” Apa yang akan kau lakukan oppa.” Tanyanya, keadaannya setengah sadar. Ku pegang keningnya, suhu tubuhnya panas sekali, dia deman.
” Aku bukan orang bodoh yang akan membiarkan kau mati kedingin, cepat buka baju mu tidak ada pilihan lain.” Setelah baju basahnya sudah di lepasnya aku memberikannya selimut tebal yang selalu tersedia dibagasi mobil ku. ” Kau tunggu aku, aku akan membawa kura – kura itu.” Ucap ku lalu berlari menuju tempat tadi untuk mengambil kura – kura itu.
Hyun Mi pov
Ku lihat dia berlari ke arah tempat kura – kura berada. Keadaanku kacau, banyak sekali yang kurasakan. Banyak hal yang membuatku takut saat ini, tubuhku masih saja tidak berhenti bergetar. 5 menit kemudian dia kembali. ” Mana kura – kura itu?” Tanya ku cemas.
” Kau tidak perlu khawatir, kura – kuranya sudah aku masukan bagasi. Justru yang mengkhawtirka itu dirimu, kita harus segera ke rumah sakit, kau deman tinggi.” Ucapnya sambil menyalakan mesin mobil dan melaju jalan.
” Oppa jangan bawa aku ke rumah sakit. Aku tidak mau.” Aku hanya takut kondisi ku yang sebenarnya akan dketahui oleh dirinya saat ini, aku tidak mau. Cukup aku membuatnya khawatir hari ini.
” Kau harus tetap kerumah sakit.” Ucapnya tegas.
” Oppa aku mohon jangan bawa aku kerumah sakit, aku tidak suka di suntik.” Mohon ku padanya dengan alasan sepele.
” Kau ha….” Omongannya langsung aku potong.
” SUDAH KU BILANG AKU TIDAK MAU KERUMAH SAKIT !!” Ucapku dengan nada tinggi, dan aku yang tidak dapat menahan emosi air mata ku pun jatuh. Ku lihat dia sekilas, dia tampak terkejut dengan sikap ku. Tapi melihat wajahnya hanya membuat ku sedih ” Maafkan aku oppa.” batin ku.
” Baiklah, kita segera pulang saja.”
Eunhyuk pov
Aku kaget dengan sikapnya yang tiba – tiba marah seperti itu. Ku lihat dia menangis lagi, dan aku jelas semakin khawatir. Aku hanya dapat menuruti perintahnya.
” Baiklah, kita segera pulang saja.” Ku pacu mobil dengan cepat, agar dapat merawat hyun mi dengan cepat pula.
Ku lihat dia sudah tertidur, namum aku mendengar dirinya mengigau dengan bahasa yang tak dapat aku mengerti. Setelah sampai apartementnya pun aku langsung menggedongnya menuju tempat tidur. Ku ganti semua pakaian basahnya. Ku siapkan obat penurun panas serta alat untuk mengompres dirinya.
” Hyun Mi ah, bangun dan minumlah oba ini.” Ucapku sambil membangunkan posisi tidurnya. Dia masih setengah sadar saat aku membangunkannya untuk minum obat. Ku cek suhu tubuhnya dengan termometer dan kulihat angka suhunya. ” 40 derajat, panas sekali.” Aku langung mengompresnya. Ku dengar dia mengigau.
” Oppa maafkan aku.” Selalu kata – kata itu yang di ucapkannya. Ku lihat wajahnya sangat pucat, dan ku seka air matanya saat dia tertidur. Apa yang kau rasakan sampai – sampai kau menangis dalam tidurmu. Saat panasnya mulai turun kekhawatiran ku mulai berkurang. Sekarang sudah jam 4 pagi, akan ku buatkan bubur untuk dia sarapan nanti.
Hyun Mi pov
Saat ku terbangun, hal pertama yang kulihat adalah jam. Sudah jam 7 pagi, aku bangun dari posisi tidurku. Ku dengar suara gaduh di dapur.
Blentank !!! Blentank !!! ( kira – kira begitu dah bunyi panci jatoh, persis kaya pas nyokap author marah – marah di dapur. Lho..hahaha )
” Oppa.” Panggil ku cemas dengan suara ku yang tidak sehat, terakhir kali eunhyuk menggunakan dapur yang ku ingat dia menghitamkan panci di apartementku. Dan tidak lama pun, dia datang sambil membawa semangkuk bubur beserta segalas vanilla milk kesukaan ku.
” Kau sudah baikan.” Tanyanya masih dengan wajah cemas. Dan menaruh nampan makanan di meja sebelah tempat tidurku.
” Ne, aku sudah tidak apa – apa.” Dia merasa tidak yakin, lalu memegang keningku.
” Panas mu memang sudah turun. Tapi kau harus tetap makan bubur dan minum obat.” Ku perhatikan wajah dengan seksama, sepertinya ada yang aneh. ” Mwo?” Tanyanya heran.
” Kenapa dengan mata mu? Kenapa merah.”
Bukannya menjawab malah tertawa.” Ini karena bawang merah.”
” Pabbo, cepat ambil obat mata. Oppa kau kan jam sembilan ini harus sudah berada di Smentertaiment. Sabtu ini, kau akan mengadakan konser dan hari ini kau ada konfersi pers dengan media dan latihan juga. Cepat lah mandi setelah itu kau harus pergi.”
” Aku tau itu, tapi aku tidak bisa membiarkan mu sendiri.”
” Aisshh….aku sudah tidak apa – apa.” Ucapku galak.
” Kau yakin tidak apa – apa?” aku mengangguk pasti. ” Tapi aku tidak yakin membiarkan kau sendiri, jika aku pergi harus ada yang menemani mu disini. Baiklah akan ku panggil nuna untuk menemani mu disini.”
” Jangan, aku tidak apa – apa. Pasti shora onni sedang sibuk. Aku tidak apa – apa sendiri.”
” Kalau kau ingin aku datang ke SM, kau harus menerima syarat ku ini.” Ucapnya seraya berjalan ke arah kamar mandi.
Sudah tidak ada hal yang bisa ku perbuat jika eunhyuk sudah bicara seperti itu. Lee shora nuna nya eunhyuk akan menemani ku disini, aku si senang dia datang tapi aku tidak senang kalau harus merepotknya. Eunhyuk sudah selasai mandi dan penampilan pun sudah rapi. Hari ini dia tampil dengan t-shirt putihnya beserta jeans hitam dan memakai topi kupluk serta kacamata hitam, tidak lupa dengan tas kesayangannya.

Dia mendekati ku dan duduk di sebelah ku di atas tempat tidur. ” Kau hari ini harus benar – benar istirahat. Nanti nuna akan datang jadi kau tunggu saja.” Aku hanya menggangguk, piring bubur masih ada di tanganku dan aku sedang mencoba menghabiskannya. ” Habiskan makanan mu, lalu kau minum obat.” Ucapnya seraya berdiri dan lalu dia mengecup keningku. Aku hanya tersenyum. ” Oya ada yang tertinggal.” Ucapnya sambil mengambil sesuatu dari kantongnya. Lalu menempelkannya di kening ku. ” Kau harus memakai plester kompres ini selama aku tidak ada, karena tidak ada orang yang akan mengompres mu saat kau deman.”
” Ne, baiklah….ya sudah kau hati – hati di jalan ya oppa.” Dia pun tersenyum kemudian berjalan keluar dari kamar ku.

Tentang bbkoreafanfiction

this is just blog for fun :)
Pos ini dipublikasikan di Chapter. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s