WHITE LIE Chap 2 Part 2

Edit
WHITE LIE Chapter 2 Part 2
by Aulia Silvina Anandita on Sunday, October 3, 2010 at 7:12pm

Chapter 2 Part 2

Ctik!!!!

Aku membuka mataku. Apa yang terjadi? Pistolku tidak berfungsi. Kutarik pelatuknya sekali lagi. Masih sama. Pelurunya tidak keluar. Aku baru ingat, aku sama sekali tidak mengisi ulang peluruku tadi karena kupikir mereka tidak sebahaya ini. Peluruku habis tanpa kusadari saat aku bergulat dengan anak buah Yoochun tadi. Aku memandang berkeliling. Beberapa orang di sana langsung bangkit dan kembali mengarahkan pistolnya ke arahku. DOR!!!! Sebuah peluru di lepaskan ke arahku berbarengan dengan titik hujan pertama yang jatuh mengenai wajahku. Dengan sigap Yoochun menarik lenganku menghindari peluru itu. Yoochun menarik lenganku dan membawaku lari bersamanya. Kami diberondong tembakan bertubi-tubi dari mereka. Yoochun melindungiku yang saat itu masih linglung dari tembakan-tembakan dan membalas tembakan itu. Melihat Yoochun yang semakin kewalahan, aku berusaha mengisi ulang peluru pistol sambil terus berlari. Kami terlibat baku tembak yang sengit dengan para anggota teroris itu. Mereka tidak lagi mementingkan keselamatan Yoochun kali ini. Mereka menganggap yoochun sebagai pengkhianat. Kami berlari mencari jalan keluar di labirin itu. Beruntung, Yoochun hapal konstruksi labirin itu dan dengan mudah membawaku keluar dari sana. Yang aku pikirkan dari tadi adalah kenapa Yoochun mau mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan aku, orang yang jelas-jelas dikirim untuk membunuhnya.

Hari itu sudah gelap, hujan turun dengan derasnya. Kami melarikan diri dengan mobil milikku yang di parkir jauh dari sana. Para teroris itu tak menyerah. Mereka mengejar kami dengan mobilnya. Ada sekitar 3 mobil berjajar mengejar kami. Yoochun mengemudikan mobilku dengan gila-gilaan. Sesekali dia melepas tembakan ke arah mereka. Aku juga membantunya. Mereka juga menembaki mobilku, tapi karena aku adalah salah satu anggota CIA, mobilku sama sekali tidak tertembus peluru, karena mobilku anti peluru. Setelah kami berdua berhasil melumpuhkan tiga mobil itu, Yoochun mengemudikan mobil dengan sedikit pelan. Kami melewati sebuah area sepi yang di kanan kirinya banyak di Tanami pepohonan. “Hentikan mobilnya!” perintahku pelan. “Untuk apa kita berhenti di sini?” tanyanya. “Kubilang hentikan mobilnya!” teriakku marah. Yoochun meminggirkan mobil dan aku langsung keluar dari mobil diikuti olehnya. “Hyung! Kau mau ke mana?” tanyanya sedikit berteriak. Hujan sangat deras saat itu, jadi dia harus berteriak untuk memanggilku agar aku mendengarnya. Dia berlari mengikuti langkahku. Aku tak mempedulikannya. Aku hanya terus berjalan menjauhinya. Dia menarik tanganku dan mencoba menghentikan langkahku. “Lepaskan!” aku mengibaskan tangannya. Kutatap wajahnya dengan tatapan tajam. Aku bergerak maju ke arahnya dan memukul wajahnya hingga dia jatuh ke tanah. Aku terus memukulinya tanpa ampun. Aku berada di atas tubuhnya sekarang. Dia sama sekali tidak membalas. “Kenapa kau tak membalasku? Ayo! Ayo pukul aku!” teriakku. Dia hanya tersenyum dengan wajah yang babak belur. “Brengsek! Kenapa harus kau? Kenapa harus kau yang harus kubunuh? Dari mana kau dapatkan kode intel di plat nomormu?” tanyaku marah. “Hhhh ternyata kakek benar, aku harus mewaspadaimu. Ternyata kau memang seorang anggota polisi khusus. Kau tidak tahu? Aku pernah bersekolah di sekolah khusus polisi penanganan teroris sepertimu. Dan aku juga yang ditugasi mengajarkan kode itu pada semua anggota teroris yang di pimpin kakekku.” Jawaban Yoochun benar-benar membuatku marah. Aku menarik kerah bajunya dan kuambil pistol dari jasku dan mengarahkan ke dahinya. Kulihat wajahnya hanya tersenyum getir tanpa mencoba melawan. Semakin kulihat wajahnya, aku semakin lemah. Wajahnya benar-benar mengingatkanku saat kami berlima tertawa bersama, bercanda bersama, dan segala yang pernah kulewati bersama mereka terlintas jelas di wajahnya. “Aish!!!!” Aku bangkit dari atas tubuhnya dan membanting pistolku ke tanah. “AAAAAAAAHHHHHHHHHHH” aku berteriak liar melampiaskan segala yang mengganjal di hatiku. Dia menang. Aku lemah teradapnya. Aku terus-terusan menyalahkan diriku sendiri yang sama sekali tidak sanggup untuk memilih. Aku berjalan ke mobil dengan sedikit limbung. Aku hendak terjatuh di depan mobil karena kurasakan nyeri luar biasa di perutku. Aku menyandarkan lenganku di kap mobil. Aku terduduk di depan mobil dengan tangan yang terus memegangi perutku. “Hyung!” teriak Yoochun. Dia berhambur ke arahku. Melihat sejenak kondisiku dan memapahku masuk ke mobil. Kami berdua basah kuyup. Dia memasangkan sabuk pengaman ke tubuhku dan mulai memacu mobilnya menuju Rumah Sakit. ‘Kenapa kau begitu baik Yoochun? Apa sebenarnya yang kau inginkan? Kenapa kau membuatku lemah terhadapmu?’ Dalam rintihan kesakitanku, aku terus memikirkan Yoochun, DBSK, janji kami malam itu. “aaaahhhhh” rintihku. “Hyung bertahanlah! Aku akan membawamu ke Rumah Sakit. Bertahanlah hyung!” sesaat kemudian aku sudah tak sadarkan diri.

(POV Junsu)

Yoochun hyung menelepon kami malam itu. Dia berkata bahwa Yunho hyung masuk Rumah Sakit. Kami sangat khawatir dengan Yunho hyung. Kami bertiga pun segera bergegas ke Rumah Sakit. Di sana kulihat Yoochun hyung duduk sendiri di kursi di luar ruangan Yunho hyung. Dia hanya menunduk kesepian di sana. “Hyung, kenapa kau tidak masuk?” tanyaku. Changmin dan Jaejoong hyung sudah masuk duluan melihat keadaan Yunho hyung. “Aku di sini saja.” Jawabnya singkat. Kulihat wajahnya. Memar. Darahnya juga belum mengering. Air mukanya pun terlihat redup. “Hyung! Kenapa wajahmu?” tanyaku khawatir. “Ah tadi aku mengalami sedikit kecelakaan.” Jawabnya berbohong. Aku tahu pasti ada yang disembunyikan. Tapi aku diam saja. Aku tak ingin mencampuri urusan mereka. “Aku masuk dulu ya hyung, cepat obati lukamu! Akan kupanggilkan dokter untuk memeriksa lukamu.”pamitku. “Tidak usah. Ini tidak parah kok.” Ucapnya. “Baiklah kalau itu maumu.” Aku masuk ke kamar Yunho hyung. Dia belum sadarkan diri. Changmin menangis melihatnya. Jaejoong hyung juga terlihat sedih. Aku mengambil posisi di samping Jaejoong hyung. “Hyung, bagaimana keadaan Yunho hyung?” tanyaku. “Aku belum tahu. Sepertinya maagnya kambuh lagi. Hari ini dia lupa makan lagi. Aku akan menemui dokter. Kalian di sini saja dulu.”

Beberapa saat kemudian Jaejoong hyung kembali ke kamar membawa berita gembira. “Yunho bisa pulang setelah dia siuman. Dia hanya kambuh saja. Mulai hari ini kita harus lebih ketat menjaga pola makannya.”kata Jaejoong hyung menenangkanku, Changmin dan Yoochun hyung yang sudah berani masuk ke kamar Yunho hyung. Malam itu kami berempat bergantian menjaga Yunho hyung. Yoochun hyung terlihat kuyu. Bajunya yang basah belum diganti. Jaejoong mendekatinya. “Yoochun, tadi aku membawa banyak baju Yunho, kau pakailah salah satu. Nanti kau masuk angin.” Jaejoong hyung menyerahkan sepotong baju dan celana untuk Yoochun hyung. Dia menerimanya dan beranjak menuju kamar mandi. Kulihat wajahnya belum diobati. Jaejoong hyung juga tidak bertanya apa-apa padanya. Apa Jaejoong hyung tahu sesuatu? Setelah dia berganti pakaian, Jaejoong hyung mendekatinya lagi dan dengan lembut mengobati luka di wajahnya. Dia hanya diam saja memandangi Yunho hyung yang belum juga siuman. Aku semakin yakin ada sesuatu yang terjadi di antara mereka.

Dini hari saat giliranku berjaga, Yunho hyung siuman. “Hyung, kau sudah bangun?” tanyaku. “Di mana ini?” “Rumah Sakit hyung. Yoochun hyung yang membawamu ke sini.”jawabku. Yunho hyung mengamati sekitar ruangan. Yoochun hyung tidur di pangkuan Jaejoong hyung dengan luka memar di wajahnya. Sementara Changmin tidur di kursi dekat ranjang. “Gwenchana hyung?” tanyaku. “Ne…” Yunho hyung kembali tertidur setelah dia mengamati lekat-lekat wajah Yoochun hyung.

Pagi itu Yunho hyung sudah boleh pulang. Kami berempat mengantarnya. Tapi ada yang aneh. Yoochun hyung dan Yunho hyung sama sekali tidak berbicara satu sama lain. Apa mereka bertengkar? Sesampainya di Rumah, kami langsung istirahat, kecuali Jaejoong hyung. Dia memasak untuk kami semua terutama untuk Yunho hyung.

(POV Yoochun)

Aku merasa sangat bersalah pada Yunho hyung. Dia begitu gara-gara aku. Andai saja aku tak bertemu dengannya, andai saja dulu aku memutuskan untuk tinggal di panti asuhan, bukannya mengikuti kakek. Aku berandai-andai sendiri di kamar. Tiba-tiba ponselku berdering. Kakek. Dia menyuruhku untuk segera menemuinya. Mungkin karena kejadian semalam. Aku merasa bertanggung jawab untuk itu semua. Tanpa berpamitan pada yang lain kecuali Jaejoong hyung, aku pergi menemui kakek.

“Yoochun, kenapa kau berbalik mengkhianati kami?” tanya kakek marah.

“Aku tidak berniat sedikitpun untuk mengikuti kakek. Aku tidak suka menjadi seperti ini.”

“Lalu apa maumu? Hah?” teriak kakek.

“Aku hanya ingin terus bersama DBSK.”

“Aku mengirimmu ke sana untuk menyelidiki Tokyo dome dan tempat hiburan lain dan aku ingin kau selalu menyembunyikan barang bukti yang kita gunakan. Ingat Yoochun, orang-orang Amerika brengsek itu yang telah membunuh ayah dan ibumu.”

“Tapi kek… aku…”

“Hei kalian! Beri anak ini pelajaran! Tapi jangan membunuhnya!” perintah kakek pada anak buahnya. Seketika mereka mengeroyokku hingga babak belur. Aku tak kuasa melawan mereka karena jumlah mereka terlalu banyak. Mereka meninggalkanku setelah aku benar-benar tidak berdaya. Aku menguatkan diriku untuk bangkit, tapi tidak bisa. Aku terkapar penuh luka di tempat itu. Hingga malam datang, aku belum juga kuat untuk bangkit. Aku berusaha sekali lagi untuk bangkit. Aku berjalan tertatih-tatih menuju mobil. Kukuatkan diriku untuk menyetir malam itu. Aku berusaha agar tidak kehilangan kesadaran saat aku menyetir. Beruntung, aku sampai di dorm dengan selamat. Aku berjalan limbung menuju pintu dorm. Aku membunyikan bel dengan sedikit tenaga yang kupunya. Seseorang membuka pintu itu, dan aku pun jatuh tak sadarkan diri di pelukan orang itu.

(POV Jaejoong)

Malam itu aku sedang membersihkan kamar bersama Changmin, Junsu sedang menonton TV dan Yunho sedang ada jadwal rekaman saat tiba-tiba kudengar seseorang membunyikan bel. Aku berjalan hendak membuka pintu itu. Setelah pintu kubuka, seseorang dengan darah yang bercucuran tiba-tiba jatuh ke pelukanku. “Yoochun! Apa yang terjadi?” aku panic melihat Yoochun tak sadarkan diri dengan luka di sekujur tubuhnya. Aku berteriak memanggil Changmin dan Junsu. Mereka berhambur ke arahku setelah melihat Aku terduduk dengan seseorang di pangkuanku. “Yoochun hyung! Apa yang terjadi?” tanya Changmin dan Junsu bersamaan. “Aku tak tahu. Sebaiknya kita bawa dia ke kamar dan mengobati lukanya.” Changmin dan Junsu membawa Yoochun ke kamar, sedangkan aku menyiapkan es dan obat-obatan untuk mengobati Yoochun. ‘Apa yang terjadi padamu Yoochun? Siapa yang melakukan ini padamu?’ Aku ke kamar Yoochun membawa obat-obatan dan es kopresan. Kami bertiga melepas baju Yoochun yang penuh darah dan menggantikannya dengan baju bersih. Aku mengobati luka Yoochun dengan hati-hati, Changmin mengompres memarnya, sementara Junsu berusaha menyadarkannya dengan mendekatkan minyak berbau menyengat ke hidungnya. Changmin dan Junsu menangis melihat keadaan hyung mereka yang mengenaskan itu. 2 jam kemudian Yoochun sadar. Bersamaan dengan itu, Yunho pulang ke dorm. Dia berjalan melewati kamar Yoochun. “Apa yang terjadi?” tanyanya panic melihat keadaan Yoochun yang lemas dan babak belur di ranjang. “Kami tidak tahu. Aku menemukannya pingsan di depan dorm.” Jawabku. Yunho masuk ke kamar dan berdiri di dekat Yoochun. “Siapa yang melakukan ini padamu?”tanya Yunho. Ini pertama kalinya dia berbicara dengan Yoochun setelah kejadian semalam. “Tidak ada. Aku hanya mengalami sedikit kecelakaan.” Yoochun menjawab dengan suara lemah, kemudian tersenyum. “Jangan bohong! Apa mereka yang…” sebelum meneruskan kata-katanya, Yoochun memotong ucapan Yunho. “Sudahlah, aku hanya kecelakaan biasa kok.” Jawabnya. Yunho tercekat melihat reaksi Yoochun yang memotong pembicaraannya. Dia berbalik dan meninggalkan kami semua di ruangan itu. Dia memukul pintu ruangan itu dengan buku-buku tangannya. Kami kaget dengan apa yang dilakukannya. Apa dia tahu sesuatu? Pikirku.

Tentang bbkoreafanfiction

this is just blog for fun :)
Pos ini dipublikasikan di Chapter. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s