WHITE LIE Chap 2 Part 1

Chapter 2 Part 1

(POV Jaejoong)

Malam itu kami pulang ke dorm setelah seharian berada di lokasi syuting. Kami semua merasa sangat lelah. Tapi malam ini Yoochun belum kembali ke dorm sejak dia berpamitan pada manager di akhir syuting. Ke mana sebenarnya dia, kami sama sekali tidak tahu. Kami memang bersahabat. Tapi kami tidak pernah merasa sakit hati kalau salah seorang di antara kami menyembunyikan sebuah rahasia. Bagi kami persahabatan itu juga ada batasnya. Kami tidak ingin mengganggu kepentingan pribadi sahabat kami kecuali dia mau membaginya.

Karena aku sangat lelah, aku tidak sanggup lagi untuk memasak. Yunho hyung pun keluar rumah untuk membeli makan malam. Aku, Changmin dan Junsu berkumpul di kamar. Aku punya ide bagus untuk mengerjai Yoochun. “Hei, aku punya ide bagus!” kataku pada mereka berdua. “Ide apa hyung? Mengerjai Yoochun hyung lagi?” tanya Junsu. Dia tahu benar bahwa aku sama sekali tidak berani mengerjai Yunho. Karena aku menghormatinya sebagai leader kami. Berbeda dengan Junsu yang selalu menjahilinya. “Ne…. Changmin, sekarang kau kunci semua pintu rumah ini! Kalau Yoochun pulang, kita berpura-pura tidak ada di rumah.” Kataku jahil. “Tapi kalau Yunho hyung yang pulang duluan bagaimana?” tanya Changmin. “Yunho hyung kan sedang membeli makanan di tempat yang jauh…Hahahaha aku menyuruhnya membeli belut di restaurant yang cukup jauh dari sisi.” Aku cekikikan sendiri membayangkan wajah Yoochun yang bête karena menunggu terlalu lama. “Wah kau ternyata sudah mempersiapkannya hyung. Baiklah… ayo kita jalankan!” Junsu ikut cekikikan, sementara Changmin hanya tersenyum.

Setelah Changmin mengunci semua pintu, kami bertiga berkumpul di ruang keluarga yang letaknya paling dekat dengan pintu utama. Beberapa menit kemudian Yoochun pulang. Dia membunyikan bel rumah beberapa kali, sementara kami hanya cekikikan menahan tawa. Yoochun mengetuk pintu lain, tapi kami sama sekali tak berniat untuk membukanya. Yoochun kembali ke pintu utama dan membunyikan belnya lagi. Kali ini dia setengah berteriak memanggil-manggil nama kami. Mungkin dia kira kami sudah tidur. Drrrtttttdrrtttt….. ponselku bergetar. Yoochun menelepon. “Ssssttt Yoochun menelepon. Tak usah di angkat! Hmmmpphhh….” Kataku sambil menahan tawa. Changmin dan junsu menahan tawa sambil memegangi perut mereka. Ternyata Yoochun juga menelepon ponsel Junsu dan Changmin. Tetapi mereka sudah kusuruh untuk tidak mengangkatnya. Mungkin Yoochun juga menelepon Yunho, karena tak lama kemudian Yunho hyung mengetuk pintu dan membuat kami bertiga berhenti tertawa. “Ya! Buka pintunya! Atau kudobrak!” perintah Yunho pada kami. Kami sedikit ketakutan. Aku membuka pintu utama. Changmin dan Junsu bersembunyi di balik punggungku. “Kenapa kalian tidak membuka pintunya?” tanya Yunho dengan nada kesal. “Kami hanya ingin sedikit bermain-main dengan Yoochun hyung.” Jawab Junsu dari balik punggungku. Dia memegangi bajuku dari tadi. Yoochun hanya diam dan senyum-senyum melihat kami di marahi Yunho. Mungkin dia puas melihat kami dimarahi. Huh dasar Yoochun!

Sekembalinya Yunho dan Yoochun ke dorm, kami berlima langsung makan bersama di atap. Bercanda bersama sambil menikmati indahnya langit malam itu. “Hei, kalau seandainya DBSK bubar, apa yang akan kalian lakukan?” tanyaku tiba-tiba.

“Kalau salah satu di antara kalian keluar, aku akan kembali ke kehidupan sekolah.” Kata Changmin

“Aku tak ingin DBSK bubar. Aku ingin terus bersama kalian. Aku sayang kalian.” Kata Junsu dengan wajah yang menggemaskannya.

“Tapi aku tak ingin bersamamu Junsu.” Canda Yunho.

“Ah hyung!” Junsu memukul lengan Yunho yang sedang menertawakan ekspresinya.

“Aku tidak bisa membayangkan bila suatu saat nanti kita berpisah. Aku tidak ingin itu terjadi.” Yoochun menunduk setelah mengatakan hal yang sangat menyentuh bagi kami.

“Aku adalah leader kalian, dan kalian adalah anggota tubuhku. Aku tidak bisa hidup tanpa salah satu di antara kalian.”

Kami pun berkumpul dan berpelukan bersama di bawah langit yang berhias bintang-bintang. Aku benar-benar tidak menyangka, ternyata perasaan kami sama. Persahabatan kami lebih kuat dari kebanyakan orang, karena kami bicara dan bernapas di ruang yang sama dan kami makan dan tidur di tempat yang sama. Kalau ditanya siapa anggota DBSK yang paling kusayangi, aku akan menjawab aku sayang semua member sama besarnya. Malam itu kami berjanji tidak akan berpisah karena alasan apapun. Kami akan terus bersama sebagai DBSK.

(POV Yunho)

Aku mengikrarkan janji yang entah bisa kutepati atau tidak. Mengingat aku di sini adalah sebagai anggota CIA yang sedang menjalankan tugas dan suatu saat aku pasti akan dipindah tugaskan. Tapi aku sangat ingin menepati janjiku pada mereka. Kami tertidur di ruang tengah. Kami tertidur seperti tumpukan ikan mentah di atas karpet di depan TV. Pagi itu aku terbangun dengan suara ribut Junsu yang memang selalu menjadi alarm bagi kami. Kulihat sekitarku. Changmin masih tidur. Jaejoong sudah sibuk memasak. Junsu duduk di kursi sambil menyanyi tak karuan. Yoochun…. Di mana dia? Tumben dia bangun sebelum aku. “Junsu-ya, di mana Yoochun?” tanyaku. “Pergi hyung.” Jawabnya.

“Ke mana?”

“Entahlah. Tadi dia pergi setelah menerima telepon.”

“Kau tidak menanyainya mau pergi ke mana?”

“Memangnya kenapa sih? Mungkin dia ada kencan dengan pacarnya.”

Aku langsung beranjak ke dapur meninggalkan Junsu yang sudah langsung sibuk menyanyi tak karuan. Aku membuka lemari es dan mengambil sebotol air. Aku meneguknya perlahan. “Ibu, Yoochun ke mana?” tanyaku pada Jaejoong. “Entahlah. Dia pergi pagi-pagi sekali tadi. Katanya sih ada urusan.” Aku kembali mendapat jawaban yang tidak memuaskan. Aku pun bergegas masuk ke kamar, mengambil jaket dan mengendarai mobilku untuk mencari Yoochun. Entah kenapa aku sangat penasaran dengan apa yang dilakukannya. Aku terlalu ingin tahu siapa dia sebenarnya.

Aku memacu mobilku dengan kecepatan menengah. Aku tak tahu arah saat itu. Ke mana aku harus mencarinya? Karena putus asa, aku beralih mengelilingi kota untuk jalan-jalan sejenak. Aku pun terdampar di suatu tempat yang tak kukenal. Aku sendiri heran bagaimana bisa aku mengarahkan mobilku ke situ. Kuhentikan mobilku di sebuah jalan tak beraspal di tengah padang ilalang. Aku keluar dari mobil. Udara di situ sangat segar. Tapi daerah itu benar-benar sepi. Aku terus bertanya-tanya dalam hati bagaimana bisa aku sampai di tempat itu. Mungkin karena dari tadi pikiranku dipenuhi oleh Yoochun. Kakiku melangkah menjauhi mobil. Melihat-lihat keadaan tempat itu. ‘Suatu saat member lain akan kuajak ke tempat ini.’ Pikirku.

Saat aku beranjak mendekati mobil untuk pulang ke dorm, dari kejauhan aku melihat beberapa orang berada di tumpukan container yang sangat besar membentuk sebuah bangunan persegi panjang yang besar. Aku mengambil teropongku dari dalam mobil. Di sana terlihat beberapa orang berbaju preman memegang pistol. Karena rasa penasaranku yang besar, aku pun mendekati tempat itu untuk mengamatinya lebih dekat. Sebelumnya aku berganti pakaian dengan pakaian dinas dan memakai kacamata hitam sebagai penyamaran. Kuambil 1 pistolku dan kumasukkan ke bawah jas hitamku. Aku mulai mendekati sasaran. Setelah cukup lama mengamati, aku tahu bahwa mereka adalah teroris yang sedang berjaga-jaga di luar karena di dalam sedang ada penyusunan rencana peledakan Tokyo dome. Apa ini markas besar mereka? Rasa penasaranku membuatku bertindak gegabah. Aku langsung menyusup ke dalam tanpa meminta bantuan kepolisian dan CIA. Aku harus memastikannya dulu sebelum melapor. Dengan keahlianku, aku berhasil menyusup ke dalam dengan sangat mudah. Aku melewati 6 orang bodoh yang ditugaskan berjaga di luar.

Ternyata mereka tidak sebodoh yang kukira. Sampai di dalam tumpukan container yang berbentuk seperti labirin raksasa itu, ada sekitar 4 orang yang menangkap basah aku sedang mengintai mereka. Mereka mengejarku dan berusaha menembakiku. Aku terus lari dan sesekali melepaskan tembakan. 4 orang itu berhasil kulumpuhkan dengan mudah. Aku mulai bersembunyi lagi. Karena mereka pasti mendengar suara tembakan dan akan berusaha mencariku. Aku mengendap-endap memilih jalan untuk keluar dan meminta bantuan dari kepolisian. Sudah kubilang, tumpukan container persegi panjang itu di dalamnya membentuk ruangan seperti labirin. Aku sedikit kesulitan mencari jalan keluar.

Aku memegang pistol dengan kedua tanganku, mengendap-endap, menengok kanan kiri, dan bergerak maju. Entah saat itu aku sedang berada di mana. Tiba-tiba dari belakang ada yang memukul tengkukku. Aku terjatuh. Pistolku bergeser beberapa meter di depanku. Aku merangkak cepat meraih pistol itu. Setelah pistol kudapatkan, aku berbalik dan mengacungkan pistol itu tepat di depan orang yang memukulku tadi. Kutarik pelatuknya dan kutembak dia sampai mati. Tapi, sesaat kemudian kusadari ada tiga lubang peluru pistol yang ditempelkan di kepalaku. Samping kanan, kiri dan belakang. Spontan aku mengangkat kedua tanganku ke atas. “Siapa kau penyusup?” tanya salah satu di antara mereka. Aku hanya diam saja. Salah satu di antara mereka memukul wajahku, dan yang lainnya menendang perutku tanpa mengalihkan sedikitpun pistol dari kepalaku. Aku sangat terpojok dan tidak menemukan celah sedikitpun untuk kabur. Mereka lalu membawaku ke tengah ruangan. Mungkin aku akan di adili di sana oleh bos mereka. Aku di dorong hingga jatuh terduduk di tengah ruangan yang gelap karena di kanan kirinya container besar berdiri kokoh. Langit yang mendung terlihat di atasnya. Ruangan itu sama sekali tidak beratap. “Tuan, kami membawa penyusup!” teriak salah satu di antara mereka. Aku hanya menunduk dengan tangan yang tetap kuangkat ke atas. “Hei penyusup, letakkan senjatamu!” mereka memukul kepalaku dengan gagang pistol. Aku yang sama sekali tidak bisa melawan, meletakkan pistol itu di depanku.

Tak lama kemudian sesosok pria berjalan dari kegelapan sebuah celah menuju ke arahku. Kuangkat wajahku meneliti seluruh bagian tubuh pria itu dari bawah ke atas. Diakah pemimpin jaringan teroris itu? Aku menatapnya dengan tajam. Betapa terkejutnya aku ketika tatapanku sampai pada wajahnya. Seketika itu tubuhku bergetar hebat. Kaki-kakiku terasa lemas seperti tulangnya di lolosi dari dagingnya. Mulutku bergetar mengucap sebuah nama. “Yoo…chun…” ucapku terbata. Pemimpin mereka adalah Yoochun? Aku tak percaya dengan apa yang kulihat saat itu. Aku menenangkan diriku dengan berpikir mungkin saja wajahnya hanya mirip. “Hyung…. Aku sudah tahu suatu saat nanti kau akan menemukan identitasku.” Ucapnya. Dia terlihat tidak terkejut melihatku. Aku mengambil pistolku dan berdiri. Kakiku, tubuhku, tanganku, sama sekali tidak bisa berhenti bergetar. Aku terlalu syok menghadapi kenyataan yang ada di depanku. Kuacungkan pistolku ke arahnya dengan kedua tanganku yang masih bergetar. Pistolku pun ikut bergetar. Beberapa orang anak buah Yoochun yang ada di sana langsung mengarahkan pistolnya ke kepalaku, tetapi dengan cepat di cegah oleh Yoochun. “Kalian jangan ikut campur dengan urusanku!” bentaknya pada mereka. “Tapi keselamatanmu tanggung jawab kami tuan.” Sahut salah satu dari mereka. “Aku tidak peduli! Turunkan senjata kalian atau aku yang akan membunuh kalian dengan tanganku sendiri.” Mereka menuruti perintah Yoochun dan menurunkan senjatanya. Sementara aku sama sekali tidak bergeming. Mataku tidak bisa lepas memandangi Yoochun. Apa-apaan ini? Kenapa dia begitu? Siapa dia? Apa aku mimpi? Aku bingung menentukan pilihan. Membunuh Yoochun sahabat baikku sendiri untuk merampungkan tugasku dari CIA atau aku harus mengkhianati CIA yang berarti mengkhianati dunia dengan membiarkan Yoochun lolos. Pikiranku kalut saat itu. Aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Aku memejamkan mataku. “Hah hah hah Yoochun-ah Mianhe….” Kataku lirih. Aku sama sekali tidak bisa mengatur napasku saat itu. Dengan berat hati, kutarik pelatuk pistolku. Ini kesempatanku. Aku harus membunuhnya. Aku harus melindungi dunia. Walaupun aku memejamkan mata, tapi aku tahu Yoochun sama sekali tidak bergerak dari tempatnya untuk menghindari peluruku. Dia seperti membiarkanku untuk membunuhnya. Dalam hati aku berharap dia akan menghindari peluruku.

Tentang bbkoreafanfiction

this is just blog for fun :)
Pos ini dipublikasikan di Chapter. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s