WHITE LIE Chap 1 Part 2

Chapter 1 Part 2

(POV Yunho)

Ponsel khususku berdering. Aku bergegas menuju kamar untuk mengangkatnya. “Tuan, ada pergerakan misterius di koordinat 67 LU selatan Incheon airport. Kami menunggu instruksi dari anda.” “Aku akan segera ke sana. Jangan bertindak gegabah, tetap awasi mereka!” perintahku pada anak buahku. Tanpa mandi, aku segera berganti pakaian dengan baju casual.

“Mau ke mana hyung?” tanya Junsu.

“Berkencan dengan pacarku. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya.” Jawabku berbohong.

“Kau tidak mandi dulu?” tanya Jaejoong.

“Pacarku lebih suka aku tidak mandi. Katanya bau keringatku enak.” Jawabku ngasal.

“Cewek macam apa itu? Jorok sekali.” Gerutu Jaejoong

“Boleh aku ikut? Aku bosan berada di sini. Siapa tahu pacarmu punya kenalan cewek cantik.” Tanya Junsu.

“Tidak boleh! Kau hanya akan menggangguku.”

“Aku tidak akan mengganggu hyung. Aku janji…..” bujuk Junsu padaku.

“Nikmati saja atmosfer ruangan ini bersama mereka.” Kataku sekenanya. Aku berjalan dengan terburu-buru mendekati meja makan. “Ibu, mana makananku? Aku harus segera berangkat.” Teriakku.

“Belum matang. Tunggu sebentar lagi. Aku akan membuatkan bekal juga untukmu.” Sahut Jaejoong dari dapur. “Ah, aku sudah terburu-buru.” Aku mengambil 2 helai roti tawar di meja makan dan bergegas keluar rumah.

Aku memacu mobilku dengan kecepatan 100 km/jam melewati sudut-sudut kota yang sudah ramai pagi itu. Sambil menyetir, aku berganti pakaian dengan pakaian dinasku. Kemeja hitam, jas hitam dan kacamata hitam agar identitasku sebagai U-know Yunho tidak terbongkar. Kuambil dua buah pistol di bawah jok mobilku dan mengisi pelurunya. Memang sih, aku tidak mengizinkan siapapun juga untuk mendekati mobilku, tapi aku juga harus tetap waspada pada setiap kemungkinan yang mungkin terjadi. Kuselipkan kedua pistolku di bawah jas hitamku. Aku siap untuk berperang. Beberapa menit kemudian aku sampai di lokasi. Sebuah tempat pembuangan mobil bekas di selatan Incheon airport. Aku memarkirkan mobilku sekitar 200m dari lokasi. Dan mengendap-endap masuk ke sana.

Di sini banyak sekali mobil-mobil bekas yang keadaannya sudah sangat parah. Aku mendekati salah satu anak buahku yang sudah bersiap dari tadi. Kami mengintai sekelompok orang yang nampaknya sedang mengadakan sebuah transaksi senjata api dan narkotika. Aku mengamati sejenak keadaan tempat itu dan mulai mengatur strategi penyerangan. Aku segera menginstruksikan anak buahku mengenai strategi penyerangan dengan memakai kode-kode khusus kepolisian.

Terjadi baku tembak antara kami dan para penjahat itu. Beberapa penjahat yang melawan, kami tembak mati di tempat, sementara yang lainnya kami tangkap semua. Tak akan kubiarkan salah satu di antara mereka bebas berkeliaran. “Kami dari kepolisian! Jangan melawan dan ikutlah kami ke kantor untuk interogasi!” perintahku pada mereka. Aku terus menodongkan pistolku ke arah mereka. Bersiap jika seandainya mereka menyerangku. Tanpa diduga, ada salah satu di antara mereka yang bersembunyi di belakangku dan mengarahkan pistolnya ke arahku dan bersiap menembakku. Dengan sigap, kutangkal pelurunya dengan peluruku. Untung saja aku menyiapkan 2 pistol tadi. Jadi setidaknya aku bisa melakukan 14x penembakan tanpa mengisi ulang peluru.

Setelah yakin tak ada penjahat yang tersisa, kami segera pergi dari tempat itu dan membereskan mayat-mayat mereka sebelum wartawan datang. Penjahat yang masih hidup di bawa ke kantor dengan mobil polisi, sementara aku mengendarai mobilku yang telah kuganti platnya sebelum berangkat tadi. Sesampainya di kantor, aku langsung memasuki ruang interogasi. Di sana gelap. Hanya ada satu lampu di tengah ruangan yang tidak berjendela itu. Ada sekitar 7 penjahat hidup yang harus kukorek informasinya. Penjahat pertama masuk ke ruangan. Aku langsung memberondongnya dengan beberapa pertanyaan. Dalam menginterogasi, aku tidak pernah basa-basi. Aku langsung menanyakan siapa pemimpin mereka. Saat dia tidak menjawab, sesekali aku memukul meja atau memukulnya.

7 Penjahat sudah keinterogasi, tetapi tak satupun di antara mereka yang buka mulut tentang identitas dan keberadaan pemimpin mereka. Padahal sudah segala cara kulakukan. Mengancam mereka akan membunuh keluarga mereka, menyiksa mereka dan sebagainya. Tapi ternyata mereka sangat setia pada pemimpin mereka. Aku jadi semakin penasaran dengannya. Sudah 2 tahun lebih sejak Mr. Porter menugasiku menyelidiki identitas jaringan teroris terbesar itu, tapi sampai sekarang sama sekali belum mendapatkan hasil. Walaupun selama ini aku sudah berhasil menangkap sekitar 29 anggota teroris, tapi tak satupun di antara mereka yang bersedia buka mulut. ‘Aish! Menyebalkan! Harus bagaimana lagi?’ Aku kesal dan memukul setir mobil dengan keras. Aku sedang dalam perjalanan pulang ke dorm. Sudah gelap. Mungkin sekarang sekitar pukul 21.00. Sebelum sampai dorm, aku mengganti pakaianku lagi. Krrrrrryyyuuuukkkk……… Baru aku ingat, sepanjang hari ini aku belum makan sama sekali. Hanya 2 lembar roti tawar tanpa isi yang masuk ke lambungku.

(POV Jaejoong)

Malam itu kami berempat sedang berkumpul bersama di kamar Junsu dan Yunho. Tiba-tiba bel rumah berbunyi. Aku segera bergegas membuka pintu. ‘Itu pasti Yunho.’ Kakiku melangkah cepat menuju pintu. Entah kenapa aku sangat khawatir. Hari ini Yunho sama sekali belum makan. Pasti perutnya kumat lagi. Kubuka pintu rumah. Kulihat Yunho sedang mencoba menahan berat tubuhnya di tembok dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang perut. Wajahnya sangat pucat. Dia pasti sedang kesakitan sekarang. “Yunho! Perutmu sakit lagi ya?” Aku langsung memapah Yunho masuk ke dalam rumah. Anggota lainnya langsung berhambur ke arah kami. “Yunho hyung, gwenchana?” tanya Junsu khawatir. “Sepertinya perutnya sakit lagi. Aku akan buatkan makanan untuknya. Kalian bawa Yunho ke kamar!”perintahku. “Ne hyung!” jawab mereka bersamaan.

Aku bergegas menuju dapur dan segera meracik bumbu-bumbu untuk membuat bubur. Aku meraciknya dengan terburu-buru. Aku tak mau Yunho menunggu terlalu lama. Kasihan dia. ‘Seandainya tadi aku bangun lebih pagi, dia pasti tidak akan menderita seperti ini.’ Yunho memang kebiasaan selalu lupa makan kalau sedang berada jauh dari kami. Biasanya Junsu yang selalu mengingatkan. Tapi tadi dia terburu-buru. ‘Huh pacarnya kenapa tidak memperhatikan kesehatan Yunho sih? Pacar macam apa itu? Bodohnya Yunho.’ Umpatku berkali-kali dalam hati.

(POV Changmin)

Kami sangat khawatir begitu melihat Yunho hyung pulang dengan keadaan yang memprihatinkan. Kentara sekali dari wajahnya bahwa dia menahan sakit luar biasa di perutnya. Jaejoong hyung memerintahkan kami bertiga untuk membawa Yunho hyung ke kamar, sementara dia memasak masakan untuk Yunho hyung. Yunho hyung langsung kami tidurkan di kasurnya. Dia masih sadarkan diri, tetapi sama sekali tidak bisa di ajak bicara. Dia hanya merintih kesakitan. Aku sangat sedih melihatnya begitu. Junsu hyung membantunya melepaskan baju, Yoochun hyung melepaskan sepatunya, sementara aku mengambilkan pakaian longgar untuknya. Kami menggantikan baju Yunho hyung dengan baju rumah biasa.

“Yunho hyung, bertahanlah….. Aku akan mengambilkan obat untukmu.” Kata Yoochun hyung. Dia yang paling terlihat khawatir. Yoochun hyung bergegas menggeledah rak meja Yunho hyung untuk mencari obat maagnya. Setelah ketemu, dia berlari mengambilkan air minum. “Yunho hyung, minumlah….” Yoochun hyung mendudukkan Yunho hyung yang sudah tidak berdaya dan meminumkan obatnya. Aku dan Junsu hyung memijat-mijat kaki dan tangan Yunho hyung.

Beberapa saat kemudian Jaejoong hyung datang dengan membawa bubur hangat buatannya. Yoochun hyung mendudukkan Yunho hyung lagi. Jaejoong hyung menyuapi Yunho hyung. Dia makan dengan lahap. “Yunho, bagaimana perutmu?” tanya Jaejoong hyung. “Hmm sudah membaik. Terimakasih teman-teman….” “Syukurlah…Hyung lain kali jangan lupa makan lagi. Kami semua sangat mengkhawatirkanmu hyung…” kataku. Yunho hyung hanya tersenyum menatapku. “Aku beruntung memiliki kalian di sini.” Katanya lagi.

Setelah Yunho hyung sudah benar-benar membaik, kami berlima berkumpul di ruang TV. Rutinitas kami saat ada waktu luang adalah menonton serial drama korea. Malam itu kami menonton serial Cinderella’s Sister. Junsu hyung sampai menangis menonton film itu. Menyedihkan dan sangat menyentuh katanya. Menurutku sih biasa-biasa saja. Aku malah terlarut dengan buku sejarah Korea yang sedang kubaca. Sedangkan Yoochun hyung sudah menjelajahi alam bawah sadarnya dengan ipod yang masih mendendangkan lagu di telinganya. “Drama koreanya membosankan. Mendingan aku nonton film di kamar saja.” Kata Yunho hyung. Dia beranjak menuju kamar. “Hyung, aku ikut nonton ya….” Pinta Junsu hyung. “Tidak Junsu! Kau itu masih di bawah umur….” Kata Yunho hyung sambil mencubit kedua pipi Junsu hyung. “Aish! Aku sudah 17 tahun hyung…. Changmin yang masih di bawah umur.” Rengek Junsu. “Hahahaha masih kurang 4 bulan lagi. Sekarang umurmu kan juga baru 16 tahun.” Ledekku. “Ya…. Pokoknya tak akan kubiarkan anak di bawah umur menonton filmku. Dah!” ucap Yunho hyung. Dia langsung melesat menuju kamarnya dan mengunci pintunya. “Ah hyung! Nanti aku tidur di mana?”tanya Junsu hyung. “Kau tidur di tempat Yoochun saja. Aku yakin malam ini kamarnya kosong lagi.” Sahut jaejoong hyung. “Hmmmpppp” Junsu hyung menggembungkan pipinya dan melipat tangannya di dada dengan kesal.

Tentang bbkoreafanfiction

this is just blog for fun :)
Pos ini dipublikasikan di Chapter. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s