WHITE LIE Chap 1 Part 1

Chapter 1 Part 1

(POV Yunho)

Ponsel khususku berdering ketika aku sedang mengemudikan mobil menuju kantor tempatku bekerja. “Di sini 009, siap menjalankan perintah.” Kataku begitu mengangkat telepon yang ternyata dari atasanku. “009, segera ke kantor pusat! Ada perintah mendadak untukmu.” kata Mr. Porter atasanku. “Siap laksanakan!” aku segera membanting setir menuju kantor pusat.

Kantor pusat berada jauh dari tempatku saat itu. Mungkin sekitar 100 km. Aku mengemudikan mobil secara gila-gilaan agar cepat sampai di kantor yang terlihat seperti sebuah kantor perusahaan biasa. Sesampainya di kantor pusat yang berada di pinggiran kota California itu, aku melangkah memasuki gedung kantor. Di sana semua pegawai menunduk menghormatiku. Keadaan yang berbeda dengan tempat kerjaku. Aku yang harus menghormati mereka, karena aku hanya di tempatkan sebagai pegawai rendahan. Aku memasuki ruang Mr. Porter. Dia duduk di kursi putar. Dia membelakangiku seperti biasa. “009 siap melaksanakan tugas.” Kataku.

“009, DCI (Director of Central Intelligence) memutuskan untuk memindahkan tugasmu ke Korea karena tugasmu mengungkap peredaran narkotika di kantor itu sudah selesai dengan baik. Di sana kau menyamar sebagai anggota boy band DBSK yang akan didirikan oleh sebuah managemen. Tugasmu adalah mengungkap identitas pemimpin Terrorist yang membahayakan dunia. 019 telah berhasil mengetahui di mana keberadaan mereka saat ini, dan tugas untuk mengungkap identitas mereka, kami percayakan padamu.” Ucap Mrs. Zusan, sekretaris Mr. Porter.

“Siap laksanakan!” teriakku lantang.

“Segala sesuatunya sudah dipersiapkan, namamu di sana adalah Jung Yunho. Kami akan membekalimu dengan spy kits. Laporkan semua yang mencurigakan di sana!”

“Laksanakan!” setelah memahami semua instruksi, aku bergegas keluar dari ruangan.

“Tunggu!” perintah Mr. Porter.

“Kau harus mengungkap identitas seseorang yang dijuluki Sum-eo Jal! Dimungkinkan dia yang bertugas menyembunyikan semua barang bukti.” Kali ini Mr. Porter yang memberiku instruksi.

Aku mengangguk mantap dan mulai berjalan keluar ruangan. Mulai hari itu, aku Jung Tae Woo dikabarkan mati. Itulah resikoku sebagai salah satu anggota CIA. Tak ada seorangpun yang mengetahui siapa aku sebenarnya kecuali Mr. Porter, Mrs. Zusan dan beberapa anggota CIA lainnya. Bahkan keluargakupun tak tahu, yang mereka tahu aku telah mati karena sebuah kecelakaan kerja. Mayat palsu yang wajahnya telah hancur pun di kirim ke rumah keluargaku. Semua ini untuk menjaga identitasku. Demi kepentingan dunia, aku akan mengabdikan diriku sebagai anggota CIA.

Aku telah merubah wajahku menjadi Jung Yunho dan siap untuk dikirim ke Korea. DCI telah memanipulasi identitasku dan memasukkan namaku sebagai anggota DBSK bentukan SM Entertaiment. DCI juga mencantumkan namaku sebagai salah satu anggota satuan polisi khusus Korea untuk berjaga-jaga jika suatu saat ada yang mencurigaiku. Mereka akan mengira aku hanyalah seorang anggota polisi biasa. Aku bertemu keempat anggota DBSK lain di kantor SM Entertaiment. Dan kami berlima tinggal seatap mulai saat itu juga. Itulah awal persahabatan kami berlima.

2 Tahun Kemudian…..

(POV Junsu)

Seperti biasa, aku selalu rajin bangun pagi. Setelah menggeliat beberapa saat dan menguap beberapa kali, aku bangkit dari tempat tidur. Rutinitas pertamaku saat pagi hari adalah mendekati ranjang Yunho hyung yang satu kamar denganku, dan menjahilinya. Tapi, dia tidak juga bangun. Kuputuskan untuk keluar kamar, mengambil air minum di dapur, dan membangunkan member lain.

“Ah, kau sudah bangun?” kata Jaejoong hyung yang sedang sibuk memasak.

“Hmmm….” Aku mengangguk sambil menggaruk-garuk pantatku. Kebiasaan.

“Kebetulan sekali kalau begitu, tolong……” sebelum Jaejoong hyung meneruskan kata-katanya, aku langsung berlari meninggalkan dapur. ‘Pasti dia mau menyuruhku mencuci piring.’

“Ya! Junsu! Jangan lari!” teriak Jaejoong hyung. “Aish, dasar pemalas!” umpat Jaejoong hyung.

Menghindar dari tugas Jaejoong hyung, sampailah aku di ruang tengah. Yoochun hyung tidur di kursi goyang tanpa mematikan lagu dari ipodnya. Dia juga tidur dengan memeluk serial komik One Piece kesukaannya. Bukan pemandangan yang aneh kalau di karpet, Changmin tidur tanpa melepas kacamata dan memeluk buku pelajaran. Dia memang paling genius di antara kami.

“Changmin, bangun!” kataku sambil mengguncangkan tubuhnya.

“Uhmmm…. Ngantuk…” balasnya. Kurasa dia mengigau.

“Changmin sayang, ayo bangun….” Rayuku sambil mengelus pipi Changmin dan menciumnya.

“Ahhhh, apa-apaan sih? Menjijikkan!” omel Changmin. Dia mengusap pipinya yang tadi kucium dan kembali tidur. Kutarik tangannya sampai dia berdiri. Sedikit limbung, dia berdiri menatapku dengan tatapan jengkel. Sesaat kemudian dia sudah lenyap dari hadapanku dan masuk ke kamar mandi. Perhatianku beralih ke Yoochun hyung. ‘Ah percuma membangunkan dia. Lebih baik kutinggalkan saja dia.’

Aku beranjak hendak masuk ke kamar, sebelum tiba-tiba tanganku di tarik dari belakang.

“Cuci piring, atau jatahmu akan kukurangi!” Jaejoong hyung menempelkan dahinya ke dahiku dan menatapku dengan mengerikan.

“Ah… Ne!” jawabku singkat. Aku selalu takut dengan tatapan maut Jaejoong hyung. Apalagi di tangannya ada pisau. Salah-salah leherku bisa lepas. Dengan berat hati dan sangat terpaksa, aku membantu Jaejoong hyung mencuci piring.

Piring terakhir selesai kucuci. Aku membereskan sarung tangan dan mencuci tanganku. Yunho hyung dengan boxer merahnya melewati kami berdua sambil menguap.

“Yunho, Junsu melakukannya lagi.” Ups, Jaejoong hyung kau memang bermulut besar! Batinku.

“Apa?” sahut Yunho hyung sedikit kaget. Cepat-cepat dia menuju kamar dan berdiri di depan kaca. Hana, du, se …..

“JUNSUUUUUUUUUUUUU!!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriaknya. Drap drap drap….. Dia berlari ke arahku. Ekspresi marahnya tertutup oleh riasan wajah menor yang kubuat tadi saat dia tidur. Aku berlari dan tertawa-tawa melihatnya begitu. Yunho hyung mengejarku. Aku berlari ke tempat Yoochun hyung tertidur dan bermain kucing-kucingan dengan Yunho hyung mengitari kursi goyang Yoochun hyung.

“Junsu! Kau selalu seenaknya ya! Aku akan membalasmu! Lihat saja nanti! Aku pasti menangkapmu!”

“Hahahaahahahaha……” Aku terus waspada mengamati gerak Yunho hyung. Aku berdiri di belakang kursi dan Yunho hyung ada di depanku, sementara Yoochun hyung yang masih pulas tertidur berada di antara kami.

“Awas kau Junsu!” Yunho hyung berusaha meraihku, tetapi aku terus berusaha melepaskan diri. Akhirnya kursi yang diduduki Yoochun hyung jatuh ke belakang bersamaan dengan Yunho hyung yang juga jatuh menimpa tubuh Yoochun hyung.

Gubrak!!!!!! @!!!#$#@%!#@%!^!&

“Awwwww!!!!” kepala Yoochun hyung membentur kursi dan badannya pun tertindih Yunho hyung. Yoochun hyung merintih kesakitan.

“Ah Yoochun, mianhe…. Ini semua gara-gara Junsu.” Yunho hyung bangkit dan membantu Yoochun hyung berdiri. Yoochun hyung terus memegangi kepala bagian belakangnya.

“Bukan aku! Yunho hyung yang salah!”

“Kau menyalahkanku?” bentak Yunho hyung.

“Ah aniyo….” Aku menunduk. Yunho hyung terlihat kesal sekarang.

“Mianhe Yunho hyung, Yoochun hyung….” Kataku lagi sambil menggosokkan kedua telapak tanganku di depan wajah.

“Yoochun, gwenchana?” tanya Yunho hyung mengabaikanku.

“Neee…..” jawabnya. Yoochun hyung berbalik menuju dapur tanpa mempedulikanku dan Yunho hyung.

“Ibu, hari ini kita makan apa?” tanyanya pada Jaejoong hyung. Kami memanggilnya begitu karena dialah ibu bagi kami.

“Kimchi super pedas dan kepiting.” Jawabnya.

“Wah…. Ibu hari ini kau memasak masakan favoritku. Buatkan porsi dobel untukku ya!” timpal Changmin dengan wajah berseri.

“Baiklah, tapi sebelum makan kau harus merapikan kamarmu dulu! Mataku sakit melihat CD kotormu bertebaran di mana-mana.”

“Neeee….” Changmin bergegas membereskan kamarnya.

“Ibu, kenapa super pedas lagi? Kau kan tahu aku tidak suka pedas….” Ucapku ngambek.

“Tenang saja, aku sudah menyiapkan ikan goreng yang tidak pedas untukmu.”

Aku berlari ke arah Jaejoong hyung dan memeluknya. “Gumawo ibu….” Aku mencium pipinya.

“Junsu, kau bau. Mandi sana!” Dia melepaskan pelukanku dan mengelap bekas ciumanku.

“Nanti saja aku mandi.”

Sesaat kemudian dering aneh dari ponsel Yunho hyung berbunyi. Sebenarnya benda itu agak aneh. Tidak seperti ponsel, tetapi Yunho hyung tidak akan memaafkan siapapun juga yang berani menyentuh ponsel itu. Apa karena di dalamnya banyak film porno? Yunho hyung memang sering menonton film porno. Katanya sih itu penting. Tapi aku selalu saja tidak diizinkan untuk ikut menonton. Curang!

Tentang bbkoreafanfiction

this is just blog for fun :)
Pos ini dipublikasikan di Chapter. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s