~My Prince My Enemy~

~My Prince My Enemy~
(FF one shoot)
author: Choi Hyunreii

genre: romance

rating: tau ah..😄

cast:
* Choi Hyunreii (me)
* Lee Hyumi (keke kpopers)
* Kim Kibum (ukiss)
* Kim Hyung Jun (SS501)

wuaaa.. Aku datang bawa FF agy..😄
liadd Kibum yg ganteng bgd bqin gue terinspirasi.. Nyahahahaahh..
Cekidot.. —>>

———————author pov———————–

“maumu apa sih? Tega sekali kau membuang sebelah sepatuku ke danau!! Dasar pabo namja!” Hyunreii menggerutu kesal dan cemberut pada Kibum. Dipandangnya namja itu tajam, lalu ia mendengus dan membuang muka.

“kau ini lucu puppy, mukamu tambah jelek kalau seperti itu.. Haha” Kibum tertawa.

“berhenti memanggilku puppy! Dasar bodoh! Huh! Aku benci kau!” teriak Hyunreii sambil mencopot sebelah sepatunya dan berlari menuju kelasnya.

Ia berjalan tergesa-gesa, tanpa memakai alas sepatu. Di depan kelasnya, 5 yeoja yang tergabung dalam genk Jungshinbyungja menghadangnya. Mereka Shin Yoorin, Min Raein, Kim Ahra, Jung Nam byul, dan Park Deomi. Tanpa basa basi, Raein mendorong Hyunreii hingga terjatuh. Hyunreii yang hanya sendirian menunduk, ia tau, genk itu bisa menghabisinya tanpa berperi kemanusiaan. Tak ada bukti untuk melaporkan mereka, karna sonsaengnim yang adda d sekolah ini telah tertipu daya oleh akal licik mereka.

“lihatlah, sampah kecil ini chingudeul! Betapa kotornya dia! Haha.. Bagaimana mungkin ia bisa masuk di kelas kita!” kata Raein menendang kaki kiri Hyunreii.

“ne, bener tuh! Masa sih yeoja kaya gitu banyak yang naksir? Apa ngga gila namja disini? Nappeun yeoja!” nambyul ikut mencibir.

“awas aja kalaau kau berani mendekati Hyung Jun oppa! Kau akan kami bunuh! Arasseo?!!” Yoorin menjambak rambut Hyunreii dan membenturkan ke tembok.

“aaahh..” Hyunreii mengaduh pelan. Ia memegangi kepalanya. Ingin sekali melawan mereka, namun apa daya ia hanya sendirian.

“duakk!!!” Sebuah bola basket terlempar tepat mengenai kepala Yoorin. Seorang namja mendatangi mereka dan tanpa dikomando ia seret tangan Yoorin, lalu ditamparnya yeoja itu. Yoorin hampir menangis, ia memegangi pipinya. Raein ingin menolong temannya, namun hanya dengan sekalli dorongan,ia terjatuh.. *ceritanya ni si Raein tu pendek, kecil,hahaha*. Nambyul yang tak terima teman2nya diperlakukan seperti itu berusaha memukul namja itu dengan balok kayu. Namun dengan sigap, Hyunreii menendangnya hingga Nambyul terjatuh. Sementara itu, Deomi dan Ahra berlari menuju markas mereka diikuti Raein, Yoorin dan Nambyul.

Namja itu sangat aneh. Ia memakai sebuah topeng yang menutupi setengah wajahnya. Dan topi yang melekat di kepalanya hingga tak ada orang mengenalinya. Hyunreii mendekatinya, ia pandang wajah tertutup itu, sepertinya tak asing baginya…

“ehmm.. Kamsahamnida..” ujar Hyunreii membungkukkan badannya 90 derajat. “mian, kalau boleh tau, kau siapa?” tanya Hyunreii lagi.

“cheonma.. Kau tak perlu tau siapa aku.. Berhati2lah Hyun-ah..” jawabnya sambil berlalu pergi.

“mwo? Dia tau namaku? Dia itu siapa?? Kenapa menolongku? Tapii.. Bibir itu.. Hidung itu.. Sepertinya aku pernah melihatnya.. Aishh.. Aku ini kenapa sih? Aku penasaran dengan namja itu!” omel Hyunreii.

Ring Ding Dong..

Bel pulang sekolah pun berbunyi. Hyunreii mengambil tasnya, dan sebelah sepatunya, lalu ia berjalan k koridor sekolah dengan langkah gontai. Kepalanya pusing, benturan itu jelas masih terasa. Apalagi ia mengidap kanker otak stadium akhir. Hidupnya kini hanya tinggal 2 bulan…

Di rumah Hyunreii..

“eon, kau sudah pulang? Kenapa wajahmu pucat sekali?” tanya Hyumi, adik angkat Hyunreii..

“ah, aniyo.. Jeongmal gwaenchanna.. ” jawabnya pendek.

“lah? Sebelah sepatumu kemana eon?” tanya Hyumi lagi.

“ah, dasar cerewet.. Ini tuh gara2 si Kibum brengsek itu!” teriak Hyunreii kesal dan membanting sepatunya yang tinggal sebelah itu.

“mwo? Jadi dia gangguin eonni lagi? Ah dasar michyeo! Kalau begitu, aku akan menghajarnya!” Hyumi bangkit berdiri dan bersiap mengambil gagang sapu.

“heh, sudahlahh.. Jangan dibesar2kan.. Memang tiap hari Kibum mengerjaiku kan? Huh” Hyunreii menyandarkan kepalanya ke tembok. Ia menahan sakit yang luar biasa hebatnya.. Namun, hanya ia yang tau akan penyakitnya itu. Appa dan amma nya bekerja di luar negeri, ia hanya tinggal bersama Hyumi, adik angkatnya itu.

“memang sihh.. Coba aja dia bisa kaya hyungnya! Kn lumayan tuh eon..” ujar Hyumi sambil ikutan menyandarkan kepalanya di tembok.

“kau kenal hyungnya dia??” tanya Hyunreii pelan.

“tentu saja! Dia kan namja chinguku eon.. Gimana sih?? Tu dia orangnya datang..” teriak Hyumi kegirangan melihat kedatangan Hyung Jun.

“annyeong..” sapanya. Hyungjun melihat ke arah Hyunreii yang terkapar tak berdaya itu. “chagi.. Eonni mu kenapa? Wajahnya pucat sekali..” tanya Hyungjun.

“itu gara2 namdongsaengmu oppa! Lihat saja, eonni pulang ngga pake sepatu kanan nya, gara2 dibuang Kibum ke danau!” Hyumi berteriak-teriak keras.

“sudah Hyumi.. Aku baik2 saja..” Hyunreii mencoba membujuk Hyumi untuk menurunkan emosinya.

“mwo? Kibum masih mengganggumu juga? Ah,dia memang anak kurang ajar.. Nanti aku bilangin dia..” Hyungjun kesal juga mendengar adiknya membuat masalah lagi.

“ne oppaa..” kata Hyunreii dan Hyumi serempak.

Hyunreii memandang wajah Hyungjun sekilas. Ia merasa pernah melihat namja itu. ia bertanya-tanya pada dirinya, namun tak ia dapati jawaban itu.

———————-hyunreii pov——————–

namja itu.. Aku sepertinya pernah melihatnya.. Tapi, dimana?? Ah, pangeran penyelamatku! Jangan-jangan.. Dia..
Aishh.. Mikir apa aku ini? Dia itu kan namja chingunya Hyumi! Jelas tak mungkin kalau ia menolongku! Tapiii.. Persis..
Ah tau ahh..

———————-author pov———————-

Keesokan harinya,, di sekolah..

“byurrrr…” seember air dijatuhkan tepat mengenai tubuh Hyunreii. Di atas tangga, seorang namja tertawa terbahak2 melihat gadis itu basah kuyup.

“kau!!” teriak Hyunreii. Ia hampir menangis saking kesalnya melihat ulah Kibum yang keterlaluan.

“hahahaha… Kau tambah jelek kalau sedang marah..” teriak Kibum sambil mengejek.

“huaaa… Dasar nappeun namja! Miwohaeyooo!!” Hyunreii menggerutu kesal seraya berlari menuju kamar mandi.

Hyunreii menangis sendirian. Ia benar2 kesal dengan tingkah laku Kibum. Belum lagi masalahnya dengan genk Jungshinbyungja, masalah penyakitnya yang kini semakin parah. Ia tak punya sahabat dekat di sekolahnya, setiap hari hanya diganggu oleh Kibum. Hyunreii tak punya seseorang untuk menumpahkan semua unek2nya..

“hahahaha.. Lihatlah.. Dia basah kuyup!” Nambyul menjeblak pintu kamar mandi dan menendang tong sampah di dekat Hyunreii.

“cuih.. Mungkin di rumahnya tak ada air! Jadi dia mandi d sini! Hahaha” yoorin ikut mencibir.

“gara2 dia kita kmarin diserang oleh namja gajelas! Dia harus menerima akibatnya!” teriak Raein seraya menarik kerah Hyunreii. Ia mengambil gunting dari sakunya dan mulai menggunting seragam Hyunreii. Deomi dan Ahra memegangi kedua tangan Hyunreii.

“lepaskan..” rintih Hyunreii pelan, namun mereka tak menghiraukannya. “mimpi kau!” bisik Raein di telinga Hyunreii dan melanjutkan aksinya.

“JEBLAKKK!!!” Pintu terbuka. Namja itu menarik Raein dan mendorongnya ke lantai. Gunting itu direbutnya, dan tanpa basa basi lagi ia goreskan ke kaki Raein. Yang lain menjerit pelan.. Raein menangis. Namja itu menggores2kan gunting itu semakin liar. Dan terakhir kalinya, ia tusukkan ke telapak tangan Raein,hingga ia menjerit keras sekali. Anggota yang lain langsung menolong Raein yang terkapar, dan berusaha kabur. Tpi ditutupnya pintu kamar mandi.

“itu akibatnya karena kalian masih berani mengganggu Hyunreii! Sekali kalian mengganggunya, aku tak segan2 membunuh kalian semua!” teriak namja itu. Pintu kamar mandi dibukanya, lalu didorongnya kelima anggota Jungshinbyungja hingga jatuh tersungkur.

Namja itu mengambil sebuah handuk kecil, lalu ia sodorkan pada Hyunreii. “ini,pakailahh.. Sepertinya kau kedinginan..” katanya sembari berjalan keluar pintu.

“t.. Tunggu..” teriak Hyunreii. Namja itu menghentikan langkahnya. “mwo?” jawabnya tetap tak menoleh. “nuguseyo? Kenapa kau selalu menolongku? Jeongmal kamsahamnida..” ujar Hyunreii. “sudahh kubilang kau tak perlu tau siapa aku. Aku hanyalah orang tak penting.. Kalau ingin berterima kasih, cukup kau tak usah tanyakan siapa aku..” jawabnya kemudian meneruskan langkahnya.

“ne, ne..” sahut Hyunreii. Namun ia telah memotret namja itu dengan ponselnya. Siapa tau, ia bisa menemukan identitas namja itu dalam waktu dekat.

Di rumahnya, Hyunreii masih memandangi foto itu. Sungguh ia tak bisa menebak namja itu. Tak lama kemudian, Hyumi mendekati eonni nya yang sedang bersandar di tempat tidurnya.

“eon.. mwo hago isseumnikka?” Tanya Hyumi sembari duduk di samping hyunreii. “ah, ini.. aku sedang menebak_nebak siapakah namja ini, tapi sampai sekarang pun aku tak bisa menebaknya..” jawab Hyunreii dan menyodorkan ponselnya pada Hyumi. “mwo??” hyumi mengerutkan keningnya. Wajahnya memerah hampir menangis. Dibantingnya ponsel itu hingga hancur berantakan. “apa-apaan kau ini? Kenapa kau banting ponselku seenaknya?” Hyunreii marah melihat tingkah laku Hyumi yang kurang ajar terhadapnya. Ia bingung kenapa Hyumi bisa melakukan seperti itu. “kau tau, siapa namja itu? Hyungjun oppa!!! Dia namja chinguku! Kenapa dia bisa selalu menolongmu? Kau pelet dia?!!“ hyumi semakin marah, matanya berkaca-kaca. Hyunreii tak tau harus berbuat apa. Kepalanya semakin sakit.. Hyumi berlari keluar.

“aku benci eonni!!“ teriaknya.

“aku harus berterima kasih pada Hyungjun oppa.. bagaimanapun dia telah berkali2 menyelamatkan aku…tapi Hyumi? Ah sudahlah.. hari ini aku akan membawakan kue untuknya.“ Kata Hyunreii pada dirinya sendiri.

Dirumah Hyungjun…

“annyeong..” sapa Hyunreii ketika sampai di depan pintu rumah Hyungjun. Ia membawa sebuah tart besar di tangannya,,

“ne, ada apa kau kemari?”ternyata Kibum yang membukakan pintu. Sesaat kemudian, senyum Hyunreii langsung hilang.

“kenapa yang muncul kau? Aku mencari kakakmu!” Hyunreii melotot.

“ini kan rumahku juga! Terserah donk siapa yang mau membukakan pintu! Kalau kau tak suka, mending pergi saja!” Kibum tak kalah sewot. Ia mendengus pelan.

Hyungjun yang mendengar ada keributan, segera mendatanginya. “kenapa sih kalian? Seperti anak kecil saja ribut2 di depan pintu..” raut muka Hyungjun terlihat sangat kesal sekali. “dan kau Hyunreii, apa yang kau lakukan pada Hyumi? Kenapa dia menangis? Kau sakiti dia?” Hyungjun menunjuk muka Hyunreii dengan telunjuknya. “ah aku tak melakukan apapun padanya.. Aku juga tak tau dia kenapa.. Aku hanya datang kesini untuk mengantar ini.. Kamsahamnida sudah sering menolongku..” ujar Hyunreii sambil menyerahkan kue tart tersebut. Kibum terkejut pelan, sementara itu Hyungjun yang sama sekali tak tau apa2 hanya bengong. “mwo? Menolongmu?” ia semakin pusing. “ne oppa.. Mohon diterima..” kata Hyunreii sembari membungkukkan badannya, lalu ia bergegas pulang.

“Kibum, apa maksudnya ini?” tanya Hyungjun yang bingung dengan tingkah laku Hyunreii tadi.

“molla.. Kenapa kau tanya aku?!” jawab Kibum dan meninggalkan Hyungjun berdiri mematung.

———————–Kibum pov———————-

jadii.. Dia menganggap orang yang selalu menolongnya itu Hyungjun?? Hah tidak masuk akal! Bagaimana bisa ia menganggap seperti itu? Kenapa ia tak bisa berpikir kalau aku yang sering menolongnya?! Aku yang mencintainya dari dulu! Kenapa kau tak bisa menganggapku ada hah?!! Shitt!!

———————–author pov———————

sudah seminggu Hyumi tak pulang. Hyunreii semakin cemas memikirkannya. Ditambah lagi masalah penyakitnya.. Hyungjun yang tak meresponnya.. Dan Kibum yang sepertinya semakin membencinya..

Pagi itu, Hyunreii terseok-seok berjalan ke sekolah. Penyakit mematikan itu selalu menyiksanya kapan saja. Namun, masalahnya berkurang dengan ketidak hadiran genk Jungshinbyungja di depannya.. Di sudut atap sekolah, ia melihat Kibum sedang melempar batu2an.. Dan.. Ia menangis..
hyunreii tak percaya dengan apa yang dilihatnya.. Baru kali ini ia melihat namja brengsek itu menitikkan air matanya.

“waeyo Kibum? Kenapa kau menangis?” tanya Hyunreii. Ia melupakan kebenciannya pada namja di depannya itu sejenak.

“huh, sepertinya ada yang memergokiku,, ngga usah ikut campur! Pergi sana!” betak Kibum hingga membuat Hyunreii terlonjak. Ia tak percaya namja itu bisa membentaknya.. Serius..

“aku.. Aku..” ujar Hyunreii terbata. “kubilang pergi yeoja jelek! Siapa yang membutuhkanmu disini?! Kau ini tak berguna! Selalu tak berguna! Dan sampai kapanpun, kau tak akan jadi berguna!” teriak Kibum sambil menangis. Ia meluapkan kekecewaannya pada yeoja itu. Hyunreii kaget dan perlahan berjalan mundur. Matanya berkaca-kaca, dan ia berlari meninggalkan Kibum dengan berurai air mata.

“apa sih salahku? Kenapa semua orang membenciku? Wae??!!” Hyunreii berteriak sambil berlari.

Ditengah tangisannya itu, Hyunreii merasa telah kehilangan keseimbangan. Kepalanya berputar-putar, dan dalam hitungan detik, ia sudah tak sadarkan diri.

Begitu terbangun dari pingsannya, Hyunreii mendapati dirinya ada di sebuah rumah sakit. Ia memandang di sekeliling, namun tak ada satupun yg menunggunya. “ah.. Aku dimana sekarang?” ujar Hyunreii pelan. Seorang perawat yang sedang membersihkan kamar inapnya menoleh. “kau ada d rumah sakit noona, sejak kemarin kau tak sadarkan diri..” jawabnya.

Hyunreii mengerutkan kening, “mwo? Siapa yang membawaku kesini?”

“ah.. Nan molla.. Dia tidak memberitaukan identitasnya.. Dan wajahnya pun tidak jelas.. Ia memakai topeng yg menutupi wajahnya..” sang perawat itu bergegas pergi.

“hyungjun oppa..” bisiknya.

Keesokan harinya, Hyunreii sudah diperbolehkan pulang, ia berjalan tertatih menuju rumahnya. Kini ia benar2 sendirian.. Bahkan Hyumi pun masih belum pulang. Ketika ia menginjakkan kakinya di teras, Hyunreii kaget akan seorang yeoja yang menunduk lesu bersandar di tembok. Sepertinya ia kelaparan.

“Hyumi? Kau sudah pulang?” Hyunreii memandang yeoja itu seksama.

Hyumi mendongakkan wajahnya pelan, “ne eon.. Jeongmal mianhae.. Aku.. Tak bermaksud meninggalkanmu.. Waktu itu aku hanya emosi.. Maafkan aku eonni..” Hyumi berlutut di depan kaki Hyunreii.

Hyunreii memegang pundak Hyumi, dan mengajaknya berdiri. “sudahlah, jangan difikirkan.. Aku sudah memaafkanmu.. Tak apa..”

Hyumi menangis di pelukan Hyunreii, “eonni.. Aku sudah jahat padamu.. Kluargamu yang merawatku dari kecil, tapi aku tak tau diri.. Aku bodoh eon!”

“sudah sudah.. Aku tak apa Hyumi.. Jangan sedih, oke?” Hyunreii berusaha menenangkan adiknya itu.

“soal Hyungjun oppa.. Ak.. Aku.. Aku sudah merelakannya untuk eonni.. Aku.. Tak papa..”

“mwo? Tpi kau sendiri? Gwaenchannayo?”

“ne”

Raut kesedihan terpancar di wajah Hyumi. Namun gadis itu berusaha menyembunyikannya. Ia merasa berhutang budi pada kluarga Hyunreii, sehingga ia rela menyerahkan kekasih yang amat dicintainya itu pada eonninya.

Siang itu, Hyungjun menemui Hyumi..

“chagi.. Waeyo? Sepertinya kau berubah..” Hyungjun duduk di samping Hyumi.

Hyumi memandang kekasihnya itu perlahan, “jangan panggil aku chagi lagi.. Jauhi aku.. Jebal..”

“mwo? Kau ini kan yeoja chingu ku! Mna bisa aku menjauhimu! Kau ini kenapa sih? Aku mencintaimu Hyumi!” Hyungjun sudah kehilangan kesabarannya. Ia melempar bebatuan didepannya.

“ne, arasseo.. Tapii.. Aku tak bisa bersamamu lagii… Mianhae oppa..” Hyumi beranjak pergi meninggalkan Hyungjun sendirian.

“aku tak mengerti.. Knapa kau lakukan ini?” teriak Hyungjun, namun Hyumi sudah tak mempedulikannya.

Dirumah, Hyunreii sudah menunggu adiknya itu,, ia sudah berdandan extra, Hyumi hanya terbengong melihatnya.

“eonni? Mau kemana?” Hyumi menatap Hyunreii dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Hyunreii melotot, “kenapa kau melihatku seperti itu? Aku ingin ke sekolah,, ada acara disana.. ”

“ohh.. Yasudah, hati2 dijalan eonnii.. ” Hyumi memeluk Hyunreii erat.

Hyunreii melepaskan pelukan itu, dan menyentuh pundak Hyumi “Hyumi.. Aku tak tau apa aku masih bisa melihatmu lagi, kalau aku pergi, jaga diri baik2 ya.. Tolong jaga rumah ini juga.. Kau tau kan, amma appa menyuruh kita menjaganya? Kau boleh menempati kamarku, dan menggunakan barang2 ku.. Oke?”

Hyumi kaget mendengar ucapan kakaknya barusan. “kau.. Kenapa bicara seperti itu?” Hyumi masih tak mengerti.

“nanti kau juga akan tau.. Aku meninggalkan sebuah surat dibawah bantalku. Jangan dibuka sebelum aku suruh membukanya. Oke, sudah siang.. Aku berangkat dulu.. Annyeong..” Hyunreii melambai sambil tersenyum, meninggalkan Hyumi yang kebingungan dengan maksud kakaknya.

———————–hyunreii pov———————

maafkan eonni Hyumi.. Hari inii, mungkin hari terakhir aku hidup di dunia ini.. Aku ingin memakai gaun ini, sebelum aku benar2 tiada.. Gaun yang cantik,, pemberian amma sebelum ia meninggalkan aku sendirian.. Kini ia sudah tak peduli lagi denganku.. Aku menghabiskan sisa waktuku hanya dengan Hyumi.. Bahkan tanpa seorang kekasih.. Ahh.. Ternyata aku sangat tak beruntung..

———————–author pov———————

Hyunreii terus berjalan.. Tanpa arah dan tujuan.. Ia merasakan ada yang mengalir di hidungnya.. Darah..

Ia tetap tenang, segera diusapnya darah itu dengan sapu tangannya. Namun semakin lama, kepalanya semakin pusing. Hyunreii sudah sampai di seberang jalan menuju taman yang biasa ia datangi ketika sedang sedih. Perlahan ia berjalan menyeberang.. Tapi sakit di kepalanya kian menyiksa, ia bahkan tak sadar ada sebuah mobil melaju kencang yang mungkin sebentar lagi akan menghabisinya.

“Hyunreii awass!!!” seseorang berteriak, namun Hyunreii tak menghiraukannya.

orang itu menyeret Hyunreii dan memeluknya. Hyunreii kaget, ia berusaha melepaskan pelukan itu, namun namja tsb semakin erat memeluknya.

“dasar bodoh! Kau bisa mati tadi!” tukasnya.

“mwo? Kau menolongku lagi? Ah gomawo.. Tapi sepertinya kau tak perlu melakukannya Hyungjun oppa..” Hyunreii tersenyum.

“kenapa sih kau masih menganggapku Hyungjun? Kau ini memang bodoh puppy! Tak bisa membedakan orang!” namja itu bersungut kesal.

Reflek, Hyunreii melepaskan pelukan itu. Hidungnya berdarah lagi, banyak.. Sangat banyak.. Namja itu panik, dan berusaha mengelapnya, namun ditepisnya tangan itu.

“puppy? Kau memanggilku apa tadi? Jangan2 kau.. Kibum?”

Namja itu melepas topeng dan topinya hingga Hyunreii terlonjak kaget. “ne, ini aku.. Aku yang selama ini menolongmu..”

Hyunreii menghela nafas pelan, “ngga.. Aku tak percaya.. Bukannya tiap hari kau selalu menggangguku? Bagaimana bisa kau..”

“ya, aku mengganggumu karna ingin cari perhatian padamu! Apa kau tau, aku sangat mencintaimu!”

“mwooo?? Kauu? Mencintaiku?”

“ne.. Sangat.. Apa kau tau ketika aku marah dan membentakmu kemarin? Karna aku kecewa, kau telah menganggapku Hyungjun bego itu!” Kibum menendang kaleng softdrink disampingnya

“molla.. Jeongmal mianhae.. Kau tak bilang dari awal sih, lgian pke menggangguku segala! Sampai2 ada salah paham antara aku dan Hyumi..”Hyunreii mengelap hidungnya.

“hidungmu berdarah terus.. Ayo kuantar ke rumah sakit..” Kibum menyeret tangan Hyunreii, namun lagi2 ditepisnya.

“tak perlu.. Tak ada gunanya..”Hyunreii memegangi kepalanya, ia sudah tak kuat berdiri. Kibum memapahnya, dan menmbimbingnya duduk di kursi taman. “kau kenapa Hyun-ah?” tanya Kibum.

“aku mengidap kanker otak stadium akhir, dan mungkin hari ini aku harus pergi..” Hyunreii berbisik lemah.

“hah? Kanker otak stadium akhir? Bagaimana bisa? Ah, aku sangat menyesal telah mengganggumu selama ini..” Kibum meneteskan air mata penyesalannya.

Hyunreii memeluknya, “bukan salahmu.. Penyakit ini memang tak ada yang tau kecuali diriku sendiri.. Bahkan Hyumi pun tak tau.. Makasih, selama ini kau selalu lindungi aku.. Walaupun aku baru tau identitas aslimu hari ini, hari terakhirku.. Namun, aku bersyukur.. Kini aku tau, ada seseorang yang mencintaiku.. Na do saranghae Kibum-ah..”nafas Hyunreii mulai berat, darah mengucur dengan hebatnya, membasahi baju Kibum.

“kumohon.. Jangan pergi sekarang.. Jangan tinggalkan aku.. Jebal” Kibum menangis dalam pelukan Hyunreii.

“ini bukan kemauanku, kalau aku punya pilihan, aku ingin hidup.. Tapi aku tak punya pilihan lagi.. Ini takdirku..”

“kumohonn.. Hiduplah beberapa bulan lagi.. Demi aku..”

Hyunreii menghela nafas berat, “jangan sedih.. Kalau kau sedih, aku juga ga akan tenang disana.. Baik2 yahh.. Tolong katakan pada Hyungjun oppa, jaga Hyumi.. Dan tolong katakan pada Hyumi, ia boleh membuka surat itu sekarang.. Aku lega.. Kini aku tau pangeran penyelamatku.. Sekarang aku bisa pergi dengan tenang.. Aku akan slalu memperhatikanmu dari langit..” Hyunreii menghembuskan nafas terakhirnya..

“tidakkk!!! Ayo bangun Hyun-ah!” Kibum menggoyang2kan tubuh Hyunreii yang sudah tak bernyawa lagi. Tangisnya semakin keras, dan ia memeluk jasad itu dengan perasaan hancur,, *ya ampunn.. Kasian oppa.. Haha”

Tiba2, Hyumi dan Hyungjun datang bersamaan, ia kaget melihat Kibum yang mnangis, dan gaun Hyunreii yang bersimbah darah.

“ada apa inii?? Tadi eonni sms, aku dan Hyungjun disuruh kesini” Hyumi bertanya kebingungan.

Kibum mendongak, “kalian telat..” ujarnya smbil menangis.

“maksudmu?” Hyumi dan Hyungjun teriak bebarengan.

“dia.. Hyunreii.. Sudah pergi.. Meninggalkan kita semua..”

Hyumi shock dan hampir pingsan, beruntung Hyungjun langsung menangkapnya. “eonnii.. Tak mungkin.. Tadi pagi dia masih tersenyum.. Tapi sekarang? Jadi ini maksud ucapannya tadi?? Eonnii..” Hyumi menangis.

“ne, dia berpesan padamu hyung, jaga Hyumi baik2.. Dan kau Hyumi, surat itu sudah boleh kau baca..” Kibum tak bisa berkata apa2 lagi.. Ia memeluk jasad Hyunreii kembali..

Setelah pemakaman, Hyumi kembali ke rumah. Ia mencari sebuah surat untuknya.

——————————————————————————
Dear Hyumi, nae saranghaneun dongsaeng..

ah, Hyumi.. Aku berharap, saat aku pergi, kau sudah pulang kerumah..
Jadi kau bisa membacanya.. Hehe😀
sebelumnya mianhae,, aku tak bermaksud merebut Hyungjun oppa darimu.. Kau sendiri yang bilang, foto itu adalah foto Hyungjun oppa.. Padahal gambarnya pun ngga jelas kan?
Aku juga sebenarnya tak percaaya dengan apa yang kau bilang, karna aku tau, Hyungjun sangat mencintaimu..
Memang sih, hidung dan bibir itu mirip namja chingumu, tapi bisa aja bukan dia,, saudaranya mungkin.. Kibum! Ah dia.. Enemy ku.. Tapi, apa kau tau Hyumi, aku sangat mengharapkan namja itu adalah Kibum!
Yah walaupun dia sering menggangguku, tapi entah mengapa aku kangen diaa..
Aku sedih, ketika ia membentakku kemarin..😥
hiks hiks
ah sudahlahh..
Oia, taukah kau, aku mengidap kanker otak stadium akhir?
Hidupku kini tinggal beberapa hari lagi.. Maaf tak memberitaumu, karna aku ngga ingin merepotkanmu Hyumi..
Tapi aku berharap, aku bisa bertemu denganmu sebelum ajal itu datang..
Aku sangat mencintaimu Hyumi.. Walaupun kau bukan adik kandungku, tapi aku sudah anggap kau adikku sendiri. Setelah appa dan amma meninggalkanku sendiri, hanya kau yang menemaniku.. Hanya kau tempatku cerita.. Ketika aku diganggu genk Jungshinbyungja, ketika aku diganggu Kibum tiap harii..
Ah rasanya kangen masa2 menyebalkan itu..
Ya ampuunn.. Aku udah cape ni nulis suratnya.. Kalau aku pergi, jaga diri baik2 yahh.. Oke?
Hehehe
do’akan eonni, biar tenang di alam sana..
Eonni akan selalu menjagamu dari langit..
Saranghaeyo..

Hyunreii,,🙂
—————————————————————————

Hyumi menitikkan air matanya setelah membaca surat itu, Hyungjun memeluknya erat, dan Kibum masih menangis memandangi foto Hyunreii.

“ternyata, eonni sangat sayang padaku ya.. Aku menyesal sudah marah2 padanya..” bisik Hyumi di pelukan Hyungjun.

“sudah.. Relakan saja dia chagi..”

“ne, selamat jalan eonni.. Semoga kau bahagia disana.. Aku akan jagakan Kibum oppa untukmu.. Na do saranghae.. :’)”

“aku mencintai kalian semua.. Terutama kau, Kibum-ah.. Jeongmal saranghaeyo..” sosok Hyunreii muncul yang kemudian menghilang lagi.

————————————————the end—————————————————-

Tentang bbkoreafanfiction

this is just blog for fun :)
Pos ini dipublikasikan di Oneshoot. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s