my present

cast
Super Junior Ryeowwook
Super Junior Hangeng
Super Junior Kibum
Jung Sae Riie >> Sai-Amandafujoshiamvipseulongd KeyunJaejoongyoosuminkamekatz EternalCassiopeiadbskjustfive
Lee Seung Mi >> -Mil Mila
Geun Hyun Jae >> Ratria Elfaplusprimbeauty 이준 오원빈

**
Kembali, kembali aku hanya bisa memandangnya dari jauh. Menikmati keindahannya saat dia berlari, berlari membelah udara yang kasat mata.
Kembali, kembali aku hanya bisa memandang senyum indahnya dari kursi penonton. Senyuman yang selalu mekar di wajahnya ketika dia berhasil mencapai garis finish. Entah itu kalah atau menang.
Kembali, kembali aku hanya bisa menyesal. Menyesal karna kepengecutanku yang tak kuasa menyatakan perasaan yang sudah lama terpendam.

“Hei! Memandangnya lagi?” kata Hangeng mengagetkanku, “Hyung? Huft, hanya itu yang aku bisa hyung.” jawabku parau. Ya, inilah yang sudah kulakukan hampir 2 tahun ini, hanya memandang dari jauh gadis yang ku cintai. “Andai aku bisa mengatakannya lebih cepat, mungkin aku yang ada di posisi Kibum sekarang” sesalku.

“Geunamhae, aku yakin kalau kalian berjodoh kalian pasti bisa bersama.” Hangeng menepuk pundakku pelan. Jung Sae Riie, itulah dia. Pelari berbakat yang berhasil merebut hatiku. Namun sayang, Kibum yang berhasil mendapatkan hatinya. “Oppa lihat! Sae Riie mendekati garis finish!” teriak Seung Mi pada Hangeng. Tak lama dapat kulihat dia merentangkan tangannya dan badannya menyentuh kain yang menandakan dia memenangkan pertandingan hari ini.

Author POV
Ryeowook, Hangeng, dan Seung Mi mendekati Sae Riie di pinggir lapangan, “Chukae jagi,” terdengar Kibum memeluk Sae Riie dengan sedikit mengangkatnya. “Sae Riie ah!!! Kamu hebat sekali” Seung Mi berlari dan segera memeluk Sae Riie, “Gomawo Mi ah. Kalian datang juga?” tanya Sae Riie pada Hangeng dan Ryeowook. “Tentu saja, kita ini sahabat kan? Oh ya, bagaimana kalau kita makan-makan?” ajak Hangeng yang mendapat anggukan setuju.

**

Bersabar, itulah yang bisa kulakukan sekarang. Entah apa yang akan terjadi esok hari aku tidak tahu. Rasa cinta ini memang sulit untuk di hilangkan, ini kah cinta sejati? Atau hanya aku yang bodoh mengharapkan apa yang tak mungkin menjadi milikku?

**

-5 tahun yang lalu-
“Sae Riie, kenapa berlari terus? Istirahatlah sebentar!” ajak Ryeowook yang masih berusia 12 tahun. Sae Riie mendekati Ryeowook dan mengambil botol minuman yang disondorkan Ryeowook, “Ah~~ lelahnya.” ucap Sae Riie, “Gomawo wookie ah, mau menemaniku latihan lagi.” Ryeowook tersenyum pada sahabatnya.

“Jadi benar, kamu ingin menjadi pelari?” Sae Riie mengangguk, “Ini impian appa, aku harus bisa mewujudkannya.” jawab Sae Riie sambil menatap langit biru, “Sebelum appa pergi, dia berpesan agar aku tidak menyia-nyiakan bakatku dalam bidang lari. Dan kurasa appa benar.” tambahnya lagi. “Wookie, nanti kalau SMA kamu pasti akan menyukaiku.” ucap Sae Riie mengagetkan Ryeowook.

“Jinjja? Kenapa aku harus menyukaimu?” tanya Ryeowook, “Molla, tapi aku ingin kamu menyukaiku lebih dari sekedar sahabat. Karena aku juga menyukaimu,” Sae Riie tersenyum malu-malu.

>>

Entah itu sebuah kutukan atau hanya ucapan ngelantur seorang gadis kecil. Tapi itulah yang kurasakan sekarang, aku menyukainya. Ani, mencintainya lebih tepat. Dan karena kebodohanku sendiri, kini dia menjadi milik orang lain.

“Wookie!!!” teriak Kibum padaku. “Wae?” Kibum mendekatiku dengan nafas yang terputus-putus. “Hah.. chakaman.. hosh hosh.” Kibum duduk di sampingku untuk mengatur nafas. “aku ingin memberi hadiah untuk Sae Riie, keunde…. apa yang harus ku berikan?” tanyanya, “Em, molla~. Berikan saja apa yang dia suka.” jawabku seadanya, “kamu ini sahabatnya. Jadi apa yang dia suka?”

‘Haruskah aku memberitahunya? Hal satu-satunya yang aku tahu dia suka dbsk.’ Batinku
“Wookie~~” rengek Kibum padaku, “Boneka. Ku tahu banyak boneka di kamarnya.” jawabku asal. Kibum tersenyum dan memelukku lalu pergi, “Gomawo!!!!” teriaknya dari kejauhan.

“Gomawo untuk apa Wookie?” tanya Sae Riie yang sudah duduk di sampingku. “YA!!! Jangan mengagetkanku bisa tidak?” ku pukul kepalanya pelan, “Oh ya, sebentar lagi kamu ulang tahun. Mau hadiah apa?” tanyaku sambil memeluk pundaknya, “Em~~ temukan aku dengan dbsk!!” katanya bersemangat.

“Hei, kamu pikir aku punya uang sebanyak apa hah? Makanan, akan ku buatkan makanan kesukaanmu.” kataku memberikan buku resep yang selalu ku bawa *inspirasi : no limit*
Sae Riie mengambil dan membuka halaman demi halaman. “Aku mau ini!!!” katanya menunjuk sop kentang, “Just it?” Sae Riie mengangguk, “Dengan tambahan kimchi di dalamnya, dan untuk cakenya…”
lagi-lagi dia membalik halaman demi halaman, “Ini, ganti gambarnya dengan dbsk!!!” teriaknya riang dan merobek halaman yang tadi di tunjuknya.

**

“Jangan menyiksa diri, tidak baik untuk kesehatan.” kata Hangeng saat dia sedang membantuku memasak untuk Sae Riie, “Hahaha, apa hubungannya hyung? Oh ya, kimchinya dimasukkan kapan?” Hangeng meningalkan cake yang sedang dihiasnya, kemudian cicipinya sup yang sedang ku masak, “10 menit lagi. Biarkan sedikit lebih matang, tambahkan garam sedikit. Aih, kecilkan apinya.” ucapnya dan kembali ke cakenya.

“Jadi apa maksud ucapanmu tadi hyung?” ku masukkan sedikit garam seperti anjuran Hangeng, “Kesehatan hatimu. Sudahlah, anak kecil tidak akan mengerti” katanya sambil melanjutkan kegiatannya. Kami memasak dalam diam. Ku sajikan masakanku di meja ruang tamu rumah Sae Riie, “Jadi kapan dia datang?” tanya Hangeng pada Seung Mi, “Sebentar lagi. Sudah ada Kibum dan Hyun Jae bersamanya.”

5 menit kemudian pintu rumah Sae Riie terbuka, “SAENGIL CHUKAE JUNG SAE RIIE!!!” teriak kami berlima, Sae Riie mendekat ke meja dan duduk di sampingku, “Oppa, hiasannya indah. Gomawo.” katanya pada Hangeng. Kami merayakan ulang tahun Sae Riie dengan gembira sebelum Kibum mengatakan berita yang membuat suasana berubah 100%

“Guys, ada yang ingin aku katakan.” Kibum menghentikan ke ramaian kami sesaat, “Mwo?” tanya Sae Riie. Kibum menghela nafas dan memberikan hadiahnya pada Sae Riie, “Sebelumnya, izinkan aku memakaikan ini jagi,” di keluarkannya kalung bertuliskan RiieBum. “Areumdaun,” ucap Sae Riie memegang kalungnya, “Jadi apa yang akan kamu katakan?” tanya Hyun Jae.

“Aku akan ke Amerika, appa dan ommaku memintaku meneruskan sekolah di sana.” kata Kibum menundukkan kepala, “Kapan kembali oppa?” tanya Sae Riie dengan nada yang terdengar aneh, “Molla~ ada kemungkinan aku akan menetap disana.” segera Sae Riie menampar pipi kiri Kibum, “Sae Riie ah?” kini terlihat jelas, Sae Riie menangis.
“Babo! Kalau mau pergi, pergi saja!” katanya dan meninggalkan ruangan.

Sae Riie POV
‘Babo!! Baka!!!’ ku seka air mata yang mengalir di pipiku, “Jagi, dengarkan aku,” Kibum membalik badanku, “Aku juga tidak ingin seperti ini. Omma, omma membutuhkanku, jagi. Jebal mengertilah.” mohonnya padaku. Omma Kibum memang terkena kanker otak stadium3, “Kenapa harus kamu oppa? Bukankah appamu orang kaya? Kalian bisa menyewa suster kan?” protesku.

“Bukan itu yang omma butuhkan, keberadaanku lah yang dibutuhkannya. Dukungan dariku. Mianhae jagi~~” Kibum memelukku. Ne, kehilangan orang yang berarti memang menyakitkan. “Ne oppa, arasso. Pergilah,” ucapku pelan.
end

**

Kini hanya kesedihan yang tergambar di wajahnya, keceriaannya seakan hilang terbawa angin. Tak ada tawa yang terlepas dari mulutnya, tatapannya kosong. “Sae Riie ah?” dia tersenyum terpaksa, dan kembali memandang lapangan tempat biasa dia berlatih. “Tidak latihan?” tanyaku. Sae Riie menggelengkan kepalanya. ‘Tuhan, apa yang harus aku lakuakan? Bagaimana aku bisa menghiburnya?’ keluhku dalam hati.

“Wookie~~ perasaanku aneh,” ucapnya pelan,
“Aneh?”
“Hem, walaupun aku sedih Kibum meninggalkanku. Tapi aku sedikit lega saat dia pergi. Aku kenapa?” pertanyaannya membuatku berfikir, “Apa sebenarnya perasaanku pada Kibum bukanlah cinta? Kenapa denganku ya?” tanyanya lagi. “Kalau kamu tidak mencintainya, bagaimana kamu bisa bertahan denganya selama ini?” tanyaku.

Sae Riie memandangku dengan kepala yang menempel pada lututnya, “Rasa cinta dan kagum memiliki jarak yang dekat. Kadang kita tidak tau kalau perasaan cinta kita hanyalah rasa kagum, begitu juga sebaliknya.” Kembali dilayarkan pandangannya ke lapangan hijau di depan kami. “Hei, sebenarnya arwah siapa yang merasukimu?” kataku sedikit menjauh.

“Apa maksudmu?” tanyanya, aku tersenyum dan membelai rambutnya pelan. “Kamu bukan Sae Riie yang aku kenal. Sae Riie adalah anak yang ceria, penuh tekad, bersemangat, dan tidak mudah menyerah. Dan yang lebih penting kamu selalu tersenyum.” Sae Riie tersenyum lebar padaku, “Kamu benar. Aku ini Jung Sae Riie yang ceria, kuat, dan bersemangat. Wookie, temani aku berlari,”

“Heh? Anio anio, aku..”
“Ah!!! Palli!” katanya menarikku dan membawaku ke lapangan, “Sae Riie~~” dia menggelengkan kepalanya keras. “Ikut!” diraihnya tanganku dan menarikku berlari bersamanya. Kini dapat kulihat senyumannya kembali, ‘Akhirnya kau tersenyum lagi Sae Riie.’

**

sudah setahun Sae Riie kembali menjadi dirinya yang ceria. “Sunbae, kenapa tidak nyatakan perasaan sunbae saja? Bukankah Kibum sudah dengan Hyun Jae? Jadi ini kesempatan buat sunbae bukan?” saran Seung Mi, “Hem, lagipula sepertinya kutukan yang diberikan Sae Riie tidak akan luntur. Bukankah dia bilang dia menyukaimu? Mungkin saja perasaan itu masih ada.” tambah Hangeng meyakinkan. “Molla hyung, Seung Mi. Aku ragu dia masih menyukaiku, bagaimana kalau dia menolakku dan kami tidak lagi menjadi sahabat?”

“Sae Riie bukan orang yang seperti itu. Ayo sunbae!!” Seung Mi mengepalkan tangannya dan sedikit menghentakkannya. “Aku tidak yakin Seung Mi ah,”
“Yakin? memangnya ada apa Wookie?” tiba-tiba Sae Riie sudah duduk di sampingku, “Apa aku ketinggalan berita?” tanyanya lagi dengan wajah bingungnya.

“Wookie akan menyatakan cinta pada…..”
“Anio anio.” ku dekap mulut Hangeng cepat, “Menyatakan cinta? Jinjja?”
“Anio~, hyung jangan sembarangan.” Hangeng mendorong tanganku, “Puah!!! Babo! Mau membunuhku?” protesnya. “Sae Riie, kita beli minum yuk. Sepertinya akan ada perang spatula sebentar lagi.” ajak Seung Mi.

**

Mengejutkan, sungguh mengejutkan. Kini dia terbaring lemah, lemah sekali. Wajahnya yang pucat, badannya yang sedikit panas, dan kenyataan yang akan di hadapinya saat dia bangun. Tuhan, begitu berat ujianmu ini.

kecelakaan 3 hari yang lalu membuat semua kebahagiaan Sae Riie kembali hilang, “Ada beberapa syafar di kakinya yang rusak. Kemungkinan untuk sembuh hanya 25%,” kata dokter yang menangani Sae Riie. “Apa tidak ada cara lain dok?” tanya Jung ajumma, omma Sae Riie, “Terapi, tapi saya tidak bisa menjamin, kemungkinannya sangat kecil.” kata dokter lalu meninggalkan kami.

==

Sae Riie POV
“Auch~~~” ku rasakan seluruh badanku serasa hancur, “Auh!!!” teriakanku keluar saat aku berusaha menggerakkan kakiku. Blak! Pintu terbuka, dan segera saja omma, Ryeowook, Hangeng, dan Seung Mi masuk, “Jagi, wae? Mana yang sakit?” kata omma sambil menangis, “Omma, aku kenapa? Kakiku sakit sekali omma.”

Omma meenceritakan apa yang terjadi padaku selama 3 hari ini, “Ah aku ingat, waktu itu aku sedang membeli minum. Dan kenapa kakiku sakit sekali omma?” tanyaku, raut wajah omma sekilas berubah, takut. “Omma, waeyo? Ada apa sebenarnya?” desakku. Ku lihat wajah ketiga sahabatku menunjukkan ekspresi yang sama.

“Wookie, Han oppa, Seung Mi? Aku kenapa?” kurasakan aura ketakutan di kamarku, “JANGAN DIAM SAJA!!” teriakku membuat omma dan Seung Mi menangis, “Jebal~~ katakan padaku, apakah separah itu lukaku sehingga kalian tidak memberitahuku?” Ryeowook mendekatiku, tangannya meremas tanganku cukup keras, “Wookie ah, aku kenapa?” kini Ryeowook menangis, “Kamu….”

**

Ku rasakan air hujan membasahi setiap sudut badanku. Ku pandang kaki kiriku yang sekarang sedang terluka, aku jalan terpincang-pincang menuju salah satu pohon di taman rumah sakit. Ku biarkan air hujan memandikanku dengan rasa dingin, rasa yang sekarang merajai tubuhku. Rasa yang membuatku mati, membuatku buta, bisu bahkan tuli.

“Sae Riie, apa indra perasamu telah mati? Ini hujan!” ku alihkan pandanganku pada Ryeowook yang sedang memayungiku, “Lalu? Aku memang sudah mati kan,” kataku pelan,
“Aih, apa yang kamu bicarakan? Kajja kita ke….”
“Lepaskan aku. Untuk apa ke dalam? Aku ingin disini, aku ingin mati di….”
“Berhenti berbicara seperti itu!!!” Ryeowook membuang payungnya dan menampar pipiku keras. “Kamu kira hanya kamu yang merasa sedih dengan keadaan ini? Kami juga, aku, Hangeng hyung, Seung Mi, bahkan ajumma. Apa kamu tidak memikirkan perasaan kami!?” teriakknya padaku.

“Appo~~” kupegang pipi yang kini terasa panas, “Itu, itu yang kami rasakan saat mendengar perkataan dokter tentang keadaanmu, bahkan lebih sakit.” Ryeowook mengambil payung yang tadi di buangnya dan kembali memayungiku, “Kajja~” di berikannya payung kepadaku dan dia berjongkok, “Mwo?” tanyaku.
“Naik.” katanya lalu menengadahkan tangannya ke belakang,
“Kamu kira aku….”
“Palli~~”

Dengan enggan aku menaiki punggung Ryeowook, “Kamu tidak bertambah tinggi Wookie?” tanyaku saat dia mulai berjalan menuju rumah sakit, “Setidaknya aku lebih tinggi 10 cm darimu. Dan itu cukup.” jawabnya datar. “Mianhae, aku sadar selama ini aku terlalu egois tidak memikirkan perasaan kalian. Ini sungguh berat untukku, aku tidak bisa berlari lagi.” Ryeowook hanya bergumam tak jelas.
end

**

-1.5 tahun kemudian-

“Aih, kenapa ini bisa trejadi?” tanya Kibum yang sedang liburan ke Seoul, “Ceritanya panjang, dan ku rasa dia sudah bisa menerimanya,” jawabku sambil melihat Sae Riie yang sedang bercanda dengan Hyun Jae dan Seung Mi. “Jadi kamu masih mencintainya?” tanya Kibum, “Heh? Maksudmu?”

“Aku yang memberitahunya, lebih tepatnya tidak sengaja mengatakannya.” kata Hangeng dari belakang, “Ah~ hyung. Kenapa kamu ini?” keluhku kesal, “Sudah ku bilang, aku tidak sengaja,” bela Hangeng, Kibum tersenyum, “Anio Wook. Tanpa di beritahu Hangeng hyung, aku sudah lama mengetahuinya. Matamu yang memberitahuku.” jawab Kibum lembut.

“Jadi kapan kamu akan bilang? Sudah terlalu lama kamu memendam perasaan ini kan?” Hangeng menyenggolku sedikit keras, “Molla~ dia masih shock dengan kecelakaan yang menimpanya, dan aku…”
“Ya sudahlah. Mungkin kamu akan bilang kalau aku dan Kibum sudah punya cucu. Itu waktu yang tepat Wookie.” ledek Hangeng sambil mengacak-acak rambutku.

**

“Tiga hari lagi kamu ulang tahun. Ingin hadiah apa?” tanya Sae Riie padaku, “Apa benar kamu mau memberiku hadiah?” Sae Riie mengangguk yakin, “Belikan aku sebuah restoran yang besar, bertempat di pinggir pantai, memiliki lapangan golf dan…” bletak, sebuah buku yang cukup tebal mendarat indah di kepalaku.

“Jangan berkhayal. Katakan apa yang kamu inginkan sekarang, benda sederhana yang murah, dan tidak terlalu berat.” kata Sae Riie, “Hanya satu, aku ingin melihatmu bahagia.” jawabku, “Hanya itu?” aku mengangguk pelan, ku acak-acak rambutnya yang lumayan panjang itu.

>>

Sae Riie POV
“Kemungkinannya sangat kecil Sae Riie shi. Saya takut kalau anda memaksakan keinginan anda, anda tidak akan bisa berjalan lagi.” kata Dokter Lee padaku, “Sedikit itukah harapanku dok?” Dokter Lee mengangguk pelan, ‘Aku tidak akan bisa berjalan lagi?’
“Pikirkan lagi, nona. Masa depan anda masih panjang, saya hanya tidak mau anda menyesal.” Ku anggukkan kepalaku dan berpamitan.

‘Apa benar aku tidak akan bisa berjalan lagi?’ ku ayunkan jungkat jungkit yang sedang ku duduki, “Ada apa memanggilku?” aku tersenyum pada Ryeowook yang baru saja datang. “Hanya ingin mengatakan hal yang tidak penting.”

“Mwo?” mungkin mataku terlihat sayu saat memandangnya, kesedihan ini melandaku saat ini. “Wookie, apa kamu mencintaiku?” mulut Ryeowook membentu huruf O besar sekarang, “Eh, ah,, em.. itu…” ku pegang tangannya, “Em,, ne.” jawabnya kemudian.
“Apa kamu akan tetap mencintaiku walau aku tidak bisa berjalan?” dapat ku duga reaksinya, mata membesar, mulut kembali membundar, tatapan marah.

“Apa maksudmu?” tanyanya kemudian, “Jawab saja.” desakku, aku hanya ingin mendengar jawabannya sehingga aku bisa memberikan hadiahku untuknya nanti. “Ne, tentu saja. Bagaimanapun keadaanmu aku akan selalu mencintaimu.” aku memelukknya erat, erat sekali. “Gomawo, na ddo saranghae.” ku kecup bibirnya kilat dan pergi meninggalkannya. Kini aku yakin aku bisa melakukan ini. Untuk yang terakhir kalinya.
end

**

Aku menyeruput jusku, “Mana Sae Riie?” tanya Hangeng dengan mulut penuh, “Dia telat, katanya jalanan macet.” jawab Hyun Jae yang baru saja menelepon Sae Riie. Hari ini Sae Riie memintaku, Hangeng, Kibum, Hyun Jae dan Seung Mi datang menonton perlombaan lari, “Ku rasa dia merindukan suasana seperti ini,” kata Seung Mi pelan, tentu saja, lari bagian dari hidupnya.

“Kalian sudah datang?” tanya Jung ajumma, ibu Sae Riie, “Ajumma? Mana Sae Riie?” tanya Kibum, “Tadi dia meminta ajumma datang lebih dulu. Ah pertandingannya sudah mulai, kemana anak itu.” Benar saja, para atlet sudah berbaris di posisi masing-masing. “Nah! Akhirnya perlombaan antar sekolah akan segera di mulai,” kata seorang komentator perlombaan, “Baiklah, kami akan memperkenalkan atlit berbakat kita.”

“No 1, ada Lee Seung Gi, kemudian di sampingnya gadis manis bernama Yoon Reeki, lanjut dengan Lee Taemin, Choi Siwon, dan terakhir adalah senior kita, Jung Sae Riie” kami semua saling pandang, “Jung Sae Riie? Ajumma?” Jung ajumma menggeleng, dengan segera kami berenam turun ke tempat duduk paling bawah.

“Sae Riie ah, apa yang kamu lakukan?” teriak Hangeng, Sae Riie hanya menjawab dengan senyuman, “Nah, mari kita hitung sama-sama.. Set,, hana,, dul!!!” terdengar suara tembakan. Sae Riie berlari dengan cepat, seakan kecelakaan itu tidak pernah menimpanya.

“Ya, sekarang Lee Taemin menduduki tempat pertama, tak jauh di belakangnya Lee Seung Gi mulai menyusul, lalu…” komentator terus saja berkomentar. Pertandingan berlalu cepat, sedikit lagi garis finish. “Aigoo~ apa yang kamu pikirkan Sae Riie~.” Seung Mi mulai menangis, “Seung Mi ah, jangan bicara seperti itu.” Hyun Jae memeluk Seung Mi dan ikut menangis.

“Jangan menangis, biarkan dia menyelesaikan pertandingan ini.” kata Hangeng, “Ini yang di inginkannya.” tambahnya lagi. Pandanganku tak lepas dari Sae Riie, wajahnya menampakkan rasa sakit, ‘Kenapa kamu melakukan ini Sae Riie?’ garis finish sudah di depan mata, hanya beberapa meter lagi. “Sae Riie, Sae Riie!” teriak Hyun Jae, Seung Mi, Kibum, dan Hangeng.

3 meter mendekati garis finish. Sae Riie terjatuh, dengan segera aku melompati pagar pembatas, “Sae Riie sudah, jangan paksakan!” teriakku. Bukannya mendengarkanku, Sae Riie kembali berdiri dan jalan terpincang-pincang menuju garis finish. Siwon berhasil mendahuluinya dan mencapai garis finish, di susul Taemin, Reeki, dan Seung Gi. Tapi Sae Riie tetap berjalan, “Sedikit lagi,” katanya pelan.

“Sae Riie,” Jung ajumma, Hangeng, Kibum, Hyun Jae, dan Seunggi sudah ada di sampingku, “Berjuang jagi. Hwaiting.” teriak Jung ajumma yang di ikuti oleh yang lain. Tak lama hampir seluruh penonton memanggil nama Sae Riie, begitu juga peserta yang lain. Sae Riie terjatuh tepat di garis finish. Tanpa basa-basi kupeluk tubuhnya yang sudah kehabisan tenaga, “Sae Riie ah, babo.” kataku sambil menangis.

“Saengil Chukae Oppa,” ucapnya pelan, “Tadinya aku ingin memberikan piala Siwon untukmu, tapi aku gagal.” senyum tulusnya merekah, senyum Sae Riie yang ku kenal. “Kamu tidak gagal Sae Riie sunbae,” Siwon memberikan pialanya pada Sae Riie, “Semangatmu berhasil mengalahkanku dan yang lain. Ini terimalah.” Aku membantu Sae Riie mengambil piala dari tangan Siwon. “Ini untukmu oppa.” ku terima piala pemberian Sae Riie, “Gomawo.”

**

-11 tahun kemudian-
“Appa, lihat! Omma berhasil menyusul Siwon ajeossi.” kata Min Woo, “Ne, ajumma hebat,” timpal si kembar Hyeri dan Ki Jae. “Kami berempat pasti bisa seperti ajumma nanti!” tambah Han Mi. Aku, Hangeng-Seung Mi, dan Kibum-Hyun Jae hanya bisa tersenyum mendengar komentar anak-anak kami.

Pertandingan selesai, ku datangi wanita yang berhasil memberiku hadiah ulang tahun sepanjang hidupku, “Omma, omma hebat sekali.” teriak Min Woo lalu memeluk Sae Riie, “Gomawo jagi.”
“Ajumma, nanti kami pasti lebih hebat dari ajumma,” kata si kembar dan Han Mi. “Ne, kalian harus lebih hebat dari ajumma ya.” ku dekati Sae Riie dan memcium keningnya, “Chukaeyo jagi.” dan dia tersenyum. Senyum Sae Riie-ku.

Tentang bbkoreafanfiction

this is just blog for fun :)
Pos ini dipublikasikan di Oneshoot. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s