Listen to MY HeartBeat Part 8 (end)

Part 8

(Author POV)
Chansung tengah menatap langit ketika pintu atap terbuka dan Junho menghampirinya.
“Untuk apa kau lakukan itu?” tanya Junho. Chansung menatapnya murung.
“Bukankah sudah kukatakan aku menyerah?” tanya Chansung. Junho mengepalkan tangannya.
“Apakah kau tidak mendengarku?” tanya Junho. “Aku tidak apa-apa! Kau tidak perlu melakukan hal itu!”
“Wae? Wae?! Kenapa kau boleh menyerah sementara aku tidak!?” tanya Chansung. Junho menatap Chansung.
“Karena kau dongsaengku!” seru Junho. Chansung mengepalkan tangannya.
“Maka karena kau hyung-ku aku melakukan ini!” timpal Chansung. “Tidak bisakah kau mengerti, hyung? Aku ingin melakukannya untuk kalian.”
“Andwae, Chansung-ah, kau tidak boleh melakukannya,” sergah Junho kehabisan kata-kata. “Kau tidak boleh menjadi sepertiku. Cukup aku.”
Chansung menggeleng. “Shirro!” celanya. “Aku ingin melakukan hal ini karena aku begitu menginginkan Junho hyung-ku yang dulu!”
Junho tersentak. “Mwo?”
“Aku ingin Junho hyung-ku yang dulu!” ulang Chansung keras. “Aku tidak kenal siapa kau sekarang, aku hanya ingin Junho hyung-ku yang dulu! Kembalikan dia maka aku akan berhenti melakukan ini!”
“Geumanhae!” tukas Junho. “Kau tahu aku tidak bisa…”
“Maka terimalah bahwa aku menyerah dan aku ingin menyatukanmu dengan Junsu hyung!” seru Chansung.
“Geumanhae!!”
“Hyung… aku tahu kau menyukainya, dan perasaanmu sudah kau pupuk jauh lebih lama dariku, aku tahu apa yang sudah kulakukan padamu dengan kelakuanku ini. Aku melukaimu, aku membuatmu menderita, aku–”
“Bagaimana jika kukatakan aku tidak menyukainya?” tanya Junho. Chansung terdiam seketika.
“Mwo?”
“AKU TIDAK MENYUKAI JUNSU HYUNG!!!” seru Junho. Chansung menatapnya terkejut.
Trak! Pandangan Chansung dan Junho teralihkan. Keduanya terbelalak menatap Junsu yang berdiri di depan pintu atap. Wajahnya pucat, tangannya gemetar dan matanya merah berair.
“Junsu hyung…” desis Junho pilu.
Junsu melangkah mundur, ia tersenyum. “A-aku tidak mendengar apa-apa,” katanya gugup. “Aku tidak mendengar apa-apa…!”
Junsu berbalik dan berlari pergi. Pupus sudah segala harapannya. Hancur sudah impiannya saat itu juga. Chansung kembali menatap Junho, lalu menyerbunya dan menghajar pipinya. Junho terjungkal dan terjatuh.
“KAU PENGECUT!” seru Chansung.
Junho menatap Chansung dengan kaget.
“Kau begitu mencintainya, tapi kau begitu pengecut untuk mengakuinya!” seru Chansung murka. Air mata sudah menggenang. “Apa kau pikir dengan berlaku seperti ini tidak akan menyakiti siapa-siapa?! Kau salah!! Kau menyakiti Junsu hyung! Kau menyakiti kami! Dan kau menyakiti dirimu sendiri!”
Junho menatap air mata Chansung yang sudah mengalir deras saking marahnya dia.
“Aku menyerah, hyung! Aku menyerah karena aku peduli padamu! Aku menyerah karena aku peduli pada kebahagiaanmu!” kata Chansung. “Dan aku menyerah karena cintaku bertepuk sebelah tangan!!”
“M-mwoya?” tanya Junho. Chansung menghapus air matanya dengan cepat.
“Kau tahu… Apa kau tahu sebesar apa Junsu hyung menyukaimu?!” teriak Chansung. Hati Junho terasa hancur. Dia sudah begitu menyakiti perasaan orang yang dicintainya, dengan segera air mata pun meleleh dari matanya.
“Apa kau tahu sebesar apa Junsu hyung merindukanmu?!” teriak Chansung lagi. “Kenapa begitu bodoh?”
Junho menatap Chansung. “M-mianhae…”
“Bukan aku, hyung. Bukan aku, tapi Junsu hyung!” sergah Chansung. “Pergilah..”
“Chansung-ah…”
“PERGI!!” seru Chansung. “Junsu hyung begitu terluka, apa kau masih akan membiarkannya?! Bukankah kau mencintainya?! Pergilah, hyung! Katakan padanya kau mencintainya!”
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Junho mendorong tubuhnya untuk berdiri, kemudian berlari menyusul Junsu. Chansung jatuh terduduk, ia menunduk dan memukul-mukul dadanya yang begitu linu, sementara semakin lama tangisnya semakin keras.
“Junsu hyung!” serunya pada langit. “Junsu hyung!!!”

“JUNSU HYUNG!!” seru Junho. Ia mengejar sosok Junsu yang berlari jauh keluar dari dorm mereka. “HYUNG! CHAMKAMAN!”
Junho tersandung, nyaris ia terjatuh, namun ia menyeimbangkan tubuhnya dan kembali mengejar Junsu. Kekhawatiran menjalar kesekujur tubuh Junho.
“Hyung! Berhenti berlari dan dengarkan apa yang harus kukatakan!” seru Junho.
“Tidak ada yang harus dibicarakan!” sergah Junsu dengan nafas terengah. “Bukankah itu yang kau katakan?!”
Dada Junho sudah menderu panas. “Hyung! Berhentilah sebelum kau kehabisan nafas!!”
Namun Junsu mengabaikannya. Ia tetap berlari hingga ia terjatuh ketika mereka tiba di sebuah lapangan kecil.
“Hyung!!” seru Junho. Ia mempercepat larinya dan menghampiri Junsu yang terjatuh. “Gwaenchana?”
Junsu mendorong tubuh Junho, dan menatapnya dengan matanya yang berlinang air mata. “Pergi! Jangan pedulikan aku! Bukankah kau tidak menyukaiku?! Bukankah kau benci padaku??!!”
“Hyung,” suara Junho merendah. “Mianhae… Cheongmal mianhae…”
Junsu menampar pipi Junho. “Kau …”
“Tampar aku, hyung! Lakukanlah jika itu bisa meluruhkan sedikit kebencianmu padaku!” kata Junho. “Aku tahu aku bersalah padamu! Tapi kumohon dengarkanlah aku!”
“Aku tidak ingin mendengar apapun lagi!” tukas Junsu. “Aku tidak ingin mendengar kata-kata dinginmu lagi, Junho-ah…”
“Aku begitu merindukanmu, aku begitu menyukaimu, tetapi kenapa kau seperti ini padaku?” isak Junsu. “Aku terus berusaha untuk bersabar. Tapi sekarang aku sudah tidak kuat lagi.”
“Hyung…”
“Aku lelah merasa rindu, aku lelah mencintaimu,” rintih Junsu sambil bangkit dan menarik tubuhnya menjauh dari Junho. “Kau tidak pernah tahu…”
“Aku tidak tahu. Ya, aku memang tidak pernah tahu,” jawab Junho, ia bangkit. “Tapi biarkan aku mengetahuinya, hyung… Biarkan aku mengetahuinya sekarang…”
“Untuk apa?!” teriak Junsu. “Untuk apa kau mengetahuinya?!”
“KARENA AKU MENCINTAIMU!!” seru Junho. “Karena aku jatuh cinta padamu!!”
Junsu menatap Junho dengan pilu.
“Aku begitu membenci diriku, aku benci diriku yang sudah melukaimu,” desis Junho. Ia menunduk dalam. “Maafkan aku… Ampuni aku, hyung…”
“Junho-ah…”
“Tidakkah kau tahu betapa sakit hatiku setiap kulihat kau bersama Chansung? Betapa aku ingin menjadikanmu milikku seorang? Betapa aku sudah menjadi orang yang begitu brengsek di mata semua orang?” lirih Junho. “Aku tahu. Aku adalah bajingan dimatamu. Aku kasar, dingin, tak acuh pada perasaanmu. Karena kupikir perasaan ini hanya milikku… Kupikir hanya milikku… Kupikir dengan menjauhimu aku bisa menghilangkan perasaan ini, namun aku malah menyakitimu…”
Junho berlutut di hadapan Junsu. “Kumohon ampuni aku…”
“Apa yang harus kulakukan agar kau bisa memaafkan aku?” bisik Junho dengan suara yang sangat parau. Junsu masih diam ditempat, masih menangis dan menatap Junho di hadapannya.
“Junho-ah…” bisik Junsu pada akhirnya. Ia berlutut di depan Junho, lalu merangkul tubuhnya, dan membenamkan wajahnya di pundak Junho, sementara Junho membalas pelukannya dengan erat.
“Mianhae,” isak Junho. “Cheongmal mianhae..”
“Sudah cukup kau menyakiti dirimu sendiri,” bisik Junsu.
“Maaf karena aku tidak lebih cepat menyatakan perasaanku padamu, hyung,” kata Junho. Junsu menggeleng pelan.
“Maafkan aku karena membuatmu merasa tersiksa,” timpal Junsu. Nafasnya berat dan tersengal.
“Hyung?” panggil Junho.
“Junho-ah… obatku…” desis Junsu.
“Hyung!” seru Junho. Ia bangkit, lalu menggotong tubuh Junsu dengannya. “Bertahanlah!! Bertahanlah sebentar!!”
“Junho-ah.. gomawo..” bisiknya.
“Hyung!?” seru Junho. Ia menatap Junsu yang sudah terpejam dipelukannya.
“HYUNG!!!”

***

“Kupikir kau akan mati,” kata Nickhun yang disahuti jitakan keras dari Taecyeon dan Wooyoung dikepalanya.
Junsu tersenyum. “Maaf membuat khawatir lagi.”
“Aniyo,” keluh Wooyoung.
“Kalau begini berarti kau disuspend lagi dari latihan, hyung,” kata Taecyeon.
“Mwo??” ratap Junsu.
“Tentu saja!” keluh Junho. “Kubunuh kau kalau ikut latihan!”
“Aah, Junho-ya! Kau kejam sekali!”
Nickhun menghela nafas.
“Kalian sudah baikan?” tanya Nickhun.
“Iya, kenapa kalian mendadak mesra begitu?” selidik Wooyoung.
“Mesra apanya?” tanya Junho.
“Cih,” gerutu Nickhun. “Dasar gerombolan orang tolol. Kalian pikir kami tidak sadar dengan perubahan sikap kalian? Dasar manusia labil.”
Junsu dan Junho saling tatap.
“Jadi selama ini kalian tahu?” tanya Junsu.
“Bahkan kucing tetangga pun akan sadar dengan tingkah kalian itu!” gerutu Wooyoung.
“Jadi apa yang terjadi di antara kalian sebenarnya?” tanya Taecyeon.
“Eh… kami,” kata-kata Junho terputus karena tiba-tiba pintu kamar rawat Junsu terbuka lebar. Chansung melompat masuk dengan senyum lebar.
“Hyuuung~~~~” serunya sambil membawa sebuket bunga untuk Junsu. “Nih. Cepat sembuh, ya?”
“Gomawo,” kata Junsu seraya menerima buket bunga itu dari tangan Chansung.
“AH!”
“Ada apa?”
“Aku minta PJ!” seru Chansung seraya menengadahkan tangannya dan menyodorkannya masing-masing pada Junsu dan Junho.
“PJ?” tanya Junho.
Chansung menyeringai lebar.
“Pajak Jadian!! Kalian sudah jadian, ‘kan??? Chulkaeyo!!” kekeh Chansung jahil.
“MWO?!” seru Nickhun, Wooyoung dan Taecyeon.
“C-Chansung-aaah!!”
Chansung hanya tersenyum, menyeringai lebar menatap Junsu dan Junho yang masing-masing berwajah kemerahan. Ia membelai dadanya dan menghela nafas. Meski masih sedikit sakit, namun setidaknya perasaannya lebih baik sekarang.

***the end***

komen di wall grup ya… ^^

Tentang bbkoreafanfiction

this is just blog for fun :)
Pos ini dipublikasikan di Chapter. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s