Listen to My Heartbeat part 7

Part 7

“Mau kemana kau?” tanya Nickhun pada Junsu yang baru saja melekatkan jaket pada kulitnya. Junsu mengangkat bahunya.
“Mulla, Chansung mengajakku makan di luar,” jawab Junsu. “Kenapa? Kau mau ikut?”
Nickhun menggeleng. “Tidak, hanya bertanya saja,” jawabnya. “Mana Chansung?”
Junsu mengedarkan pandangannya. “Entahlah. Chansung-ah! Ppali!” serunya. Pintu kamar Chansung terbuka, ia keluar dengan terburu-buru sambil menyisir rambutnya dengan tangan.
“Mianhae,” kekehnya sambil tersenyum lebar. “Ayo kita pergi, hyung~!”
“Oh! Hei! Chamka!” seru Wooyoung.
“Ada apa?” tanya Junsu.
“Kalian melihat Junho? Dari tadi pagi aku tidak lihat dia,” tanya Wooyoung. “Heran aku, kemana perginya bocah itu?”
“Tidak lihat,” jawab Junsu cepat.
“Aku juga tidak,” timpal Nickhun.
“Chansung?” tanya Wooyoung. Chansung tersenyum.
“Sudahlah, hyung, Junho hyung ‘kan sudah besar! Biarkan saja kenapa, sih?” kekeh Chansung. Ia meraih tangan Junsu dan menariknya. “Kami pergi, ya?!”
“Kalian baik-baiklah di rumah,” kata Junsu sambil membiarkan Chansung menarik tangannya pergi. Pintu tertutup ketika Nickhun menyilangkan tangannya di dada dan menatap kepergian mereka dengan sebal.
“Kau kenapa?” tanya Wooyoung. Nickhun mendelik padanya.
“Tidak apa-apa,” tukasnya pendek sambil meloyor pergi. Wooyoung menghela nafas.
“Khun-ah~!” panggilnya sambil mengejar Nickhun yang tampak jengkel.

***

(Chansung POV)
“Kau mau membawa aku kemana, sih?” tanya Junsu hyung. Aku yang berjalan disebelahnya hanya tersenyum riang.
“Sudahlah, hyung, kau diam saja dan biarkan aku menraktirmu,” jawabku. Junsu hyung menghela nafas.
“Kau memang anak yang baik,” kekehnya sambil mengacak rambutku. Akan kukenang tiap detikku bersamanya mulai saat ini. Akan kukenang tiap sensasi getaran yang kurasakan darinya mulai saat ini.
“Aku memang baik,” sahutku sambil menggembungkan pipi. “Jangan samakan aku dengan maknae-nya Super Junior, ya!”
Tawa Junsu hyung meledak seketika. “Maksudmu Kyuhyun?” kikiknya geli. Aku senang ia sudah bisa tertawa lagi.
“Oh,” sahutku pura-pura jengkel. Junsu hyung kembali mengacak rambutku.
“Aigoo! Kau mana boleh seperti dia? Aku senang kau adalah kau, Chansung ah!” kekeh Junsu hyung. Jujur saja, hatiku berdesir gembira ketika mendengar kalimatnya itu. Senyumku tidak bisa berhenti terkembang. Terima kasih, hyung, karena sudah membuatku begini bahagia.
“Hyung,” panggilku. Ia menatapku dengan wajah yang masih tersenyum. “Gomawo.”
“Untuk apa?”
“Karena kau tersenyum lagi,” kataku seraya kembali mengembangkan senyumku. “Gomawo.”
Junsu hyung tersenyum. “Aniyo,” tukasnya. “Aku yang harusnya berterima kasih.”
“Wae?” tanyaku.
“Karena kau sudah membuatku tersenyum lagi,” jawabnya. Jantungku kembali berpacu kuat. Ternyata tidak semudah itu untuk menyerah dari perasaan ini. Memang tidak mudah seperti membalikkan udang dalam wajan.
“Pokoknya aku ingin kau berjanji padaku, hyung,” tuntutku.
“Berjanji apa?” Junsu hyung menatapku keheranan.
“Berjanjilah untuk tetap tersenyum, karena wajahmu sangat buruk kalau bibirmu tertekuk,” ujarku. Junsu hyung tertawa.
“Arasso, arasso,” kekehnya. “Yaksokhae.”
“Nah! Kita sudah tiba!” seruku sambil menghentikan langkahku di depan sebuah kafe mungil di tengah kota. Junsu hyung menatapku.
“Wah! Aku suka sekali tempat ini!” serunya. Aku membusungkan dada, berniat menyombongkan diri.
“Tentu saja! Maka itu aku membawamu kemari!” kekehku. Ya, selain itu aku ingin melakukan sesuatu padamu hari ini disini, ditempat kesayanganmu dan Junho hyung ini. “Ayo masuk!”
“Arasso,” sahut Junsu hyung begitu kutarik tangannya.
Kami duduk di sebuah meja untuk berempat, ketika baru saja menempelkan bokong kami pada kursi besi di bawah kami, Junsu hyung menatapku heran.
“Kita ‘kan hanya berdua, kenapa duduk di meja empat kursi?” tanya Junsu hyung. Aku mengangkat bahuku.
“Terasa lebih luas, hyung,” candaku. Junsu hyung menggelengkan kepalanya maklum.
“Dasar,” kekehnya.
“Hyung, pesanlah dulu, aku ke WC sebentar, ya?” kataku. Junsu hyung mengangguk.
“Cepat kembali, ya,” katanya. Kuanggukan kepalaku seraya bangkit. Kemudian kulangkahkan kakiku menjauhi mejanya itu dan akhirnya aku menunggu.
Ponselku berbunyi, menandakan telepon masuk. “Yoboseyo?” sapaku.
“Chansung ah, kau dimana? Aku sudah di depan kafe-nya,” kata Junho hyung. Aku bisa melihatnya berkacak pinggang di depan kafe. Kusunggingkan senyumanku.
“Masuk saja, hyung,” kataku. “Aku duduk di kursi dekat kolam ikan.”
“Oh, arasso,” kataku. “Jangan pesan makanan dulu, ya!”
“Ara, ara,” kekehku. Kuturunkan tanganku, kupandangi Junho hyung yang masih mencariku. Sebentar lagi… Sebentar lagi…
Junho hyung menghampiri kursiku dan Junsu hyung, kemudian ia tersenyum dan menepuk pundak Junsu hyung, lalu mereka saling pandang dan aku tidak bisa melihat apa-apa lagi, karena mataku begitu kabur karena air mata.

***

(Junsu POV)
Dasar Chansung. Bisa saja dia membawaku kemari.
Aku sedang memilah-milah menu untuk kusantap nanti. Kira-kira Chansung akan memesan apa, ya? Aku menimbang-nimbang apa yang akan aku makan berdasarkan harganya juga, bisa-bisa Chansung tekor nanti kalau aku tidak tahu diri.
Kulirik arlojiku, sudah hampir 10 menit dia di dalam WC, apa yang dia lakukan? Apakah dia buang air besar? Haha. Bodoh, mungkin mengantri.
Seseorang menepuk pundakku. “Maaf lama, Chansung ah,” helanya. Kubalikkan kepalaku, dan aku terperanjat begitu mengetahui siapa yang ada dihadapanku. Junho. Ia menatapku dengan kaget.
“Junho-ah…”
“Hyung..?”
Junho cepat-cepat menarik tangannya dari pundakku. “Apa yang kau-?”
“Aku dan Chansung..-” jawabanku terputus. Chansung..? Apa jangan-jangan ini semua idenya? Mempertemukan aku dan Junho seperti ini adalah idenya?
“Apa yang kau lakukan disini?” tanyaku. Junho menggigit bibirnya.
“Chansung memintaku kemari,” jawabnya enggan. “Dia mengajakku makan siang.”
Sejenak aku merasa senang karena Junho ada disini, namun aku sadar mungkin keadaannya akan menjadi aneh antara aku dan Junho.
“Oh…” sahutku.
“Hyuung~~!” seru Chansung sambil melompat keluar dari koridor menuju WC. Ia tersenyum lebar sekali.
“Chansung-ah!” protesku dan Junho bersamaan.
“Kenapa?” tanya Chansung cengar-cengir sambil memposisikan dirinya di hadapanku. “Duduk dulu, Junho hyung.”
Junho terlihat enggan. “Kalian sedang makan siang.. kupikir lebih baik aku pergi saja,” katanya. Chansung buru-buru meraih tangannya dan memaksanya untuk mengisi kursi diantara aku dan Chansung.
“Mana boleh begitu?!” protes Chansung. “Aku ‘kan mengundang kalian untuk makan bersamaku, bagaimana sih?”
“Arasso,” sahut Junho masam. Aku mulai gelisah, kakiku mulai bergerak tidak nyaman di bawah meja.
“Ayo pesan, pesan,” kata Chansung sambil membuka buku menu dengan cepat. “Pelayaaan!”
Setelah kami memesan makanan kami, Chansung pun menatap kami, menatapku lalu beralih pada Junho.
“Kalian sedang sariawan?” tanya Chansung.
“Eh?”
“Kalian tidak bicara, sih,” keluhnya jengkel. “Masa sedari tadi hanya aku yang bicara?”
“Aku tidak bicara saat acara makan,” jawab Junho sambil mengalihkan perhatiannya pada ponselnya. Aku terdiam, tidak tahu harus menimpali apa.
“Alah, hyung,” keluh Chansung. “Santai saja kenapa, sih?”
“Junsu hyung! Kau melamun lagi!” protes Chansung. Aku tersentak.
“Ya?” sahutku. “Aku tidak melamun.”
Chansung menggembungkan pipinya dengan kesal, “Kalian ini aneh,” keluhnya. Dan itu adalah kalimat terakhir yang dikatakannya sebelum akhirnya kami menjalani makan siang yang sunyi.

***

(Junho POV)
Chansung ternyata serius dengan perkataannya kemarin, bahwa ia akan menyerah. Tidak, Chansung, kau tidak boleh berbuat begini hanya untukku. Kau tidak boleh. Akan lebih baik jika aku yang menyerah, dan bukan kau.
Hatiku berdetak tidak nyaman, mengetahui Junsu hyung duduk di sampingku. Bimbang kembali terasa olehku. Tuhan, jika saja aku bisa menghentikan waktu, ingin rasanya kutatap wajahnya meski hanya satu menit. Namun aku tidak bisa melakukan itu.
Aku sudah selesai dengan kewajibanku menghabiskan makanan di hadapanku, kemudian kutatap Chansung yang sedang meneguk air minumnya.
“Chansung-ah,” panggilku.
“Aaaah!” serunya dengan mata yang membulat.
“Waeyo, Chansung-ah?” tanya Junsu hyung. Hatiku sedikit linu mendengar kekhawatirannya pada Chansung.
“Aku ingin pipis lagi!” bisiknya sambil bergidik. “Aah! Aku benci cuaca dingin!”
Ia mendorong kursinya lalu bangkit dan berlari kecil pergi ke arah WC. Kuteguk habis air minumku, dan kutatap piring bekas makanku lekat-lekat, berharap menemukan sesuatu yang bisa membuat pikiranku teralihkan dari Chansung dan Junsu hyung.
“Dasar Chansung,” kekeh Junsu hyung dengan tawa yang terputus. Kurengut tanganku erat-erat.
“Kalau pada awalnya akan mengajakmu dan aku, mengapa tidak bilang saja dari awal?” keluhku.
“Karena dia tahu kau tidak akan datang,” jawab Junsu hyung menampar hatiku. Kutatap wajahnya. Ia menunduk. “Bukan begitu?”
“Apa maksudmu?” tanyaku. Meski aku tahu apa maksudmu, hyung. Meski apa yang kau katakan memang benar.
“Kau akan menolak ajakan Chansung begitu kau tahu bahwa ia mengajakku, bukan begitu?” tanya Junsu hyung. “Bukankah kau begitu enggan bertemu denganku?”
Ia mengangkat wajahnya, matanya pilu, namun ia tersenyum. “Aku bisa mengerti sekarang, Junho.”
Kupalingkan wajahku pada piringku lagi.
“Meski aku tidak tahu alasanmu menarik diri dariku,” katanya lagi. “Namun setidaknya aku bisa mengerti bahwa kau tidak menyukaiku.”
Aku pun menggigit bibir. Bukan itu yang kurasakan, hyung! Bukan itu! Aku sungguh menyukaimu. Namun aku hanya ingin Chansung bahagia, dan kau pun bahagia.
“Kuharap kita masih bisa berlaku seperti teman di depan mereka,” ujar Junsu hyung. “Aku tidak peduli jika kita tidak saling bicara. Tapi setidaknya, bertemanlah denganku di hadapan sisa member yang lain.”
“Kuusahakan,” jawabku singkat. Kubuang mukaku jauh-jauh dari pandangannya. Tidak bisa lagi kutahan kemarahan yang meluap-luap pada diriku sendiri. Mengapa harus berakhir seperti ini? Andai saja aku bisa dewasa dan menerima kekalahanku dengan lapang dada sejak awal. Hubunganku dan Junsu hyung tidak akan seburuk sekarang.
Ponselku berbunyi, panggilan dari Chansung. Kutekan menu ‘speakerphone’ agar Junsu hyung bisa ikut dengar.
“Yoboseyo,” sapaku.
“Hyung! Mianhae! Aku harus pulang duluan karena ada urusan mendadak! Kalian pulanglah berdua!” seru Chansung.
“Mwo?” tanya Junsu hyung.
“Mianhae, hyung, ini benar-benar urgent! Tenang saja, tagihan makanannya sudah kubayar tadi!” seru Chansung. “Sudah, ya? Daaah!”
“Chansung-ah!” seruku. “Dasar!”
Aku dan Junsu hyung sempat terdiam lama. Hingga kemudian aku bangkit.
“Kau mau kemana?” tanya Junsu hyung. Kutatap dia.
“Pulang, tentu tidak akan pulang bersama bukan?” jawabku sambil lalu. Kuhela nafasku panjang. Aku benar-benar berdosa padamu, hyung… Maafkan aku. Aku harus membuat perhitungan dengan Chansung nanti.

TBC
mohon komen-komennya di wall grup ya~~ (_ _)

Tentang bbkoreafanfiction

this is just blog for fun :)
Pos ini dipublikasikan di Chapter. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s