Listen to My Heartbeat Part 1

Part 1

(Author POV)
Junsu memeriksa tasnya dengan terburu-buru. Entah kenapa perasaannya tidak enak. Tidak hanya itu, rasa sesak didadanya pun nyaris membuatnya pingsan untuk kesekian kalinya.
‘dimana? Kenapa tidak ada di sini?’ batinnya. Ia benar-benar gelisah.
Ia mengeluarkan seluruh benda yang ada dalam tasnya. Mulai dari PSP, i-pod, hingga barang-barang berukuran kecil seperti pulpen dan pensilpun dikeluarkannya.
Chansung yang tidak sengaja melihatnya menghampiri Junsu.
“Mencari apa hyung?” tanyanya.
Junsu menoleh kearah orang yang mengejutkannya, menatapnya kemudian tersenyum. “Bukan apa-apa Chansung-ah…” jawabnya bohong.
Chansung menatap Junsu curiga, namun tak lama kemudian ia pun tersenyum.
“Jika kau butuh bantuan bilang saja padaku hyung… aku pasti akan membantumu” ujarnya sambil tersenyum tulus.
“gomawo Chansung-ah… tapi ini bukan apa-apa kok” tolak Junsu halus.
Chansung menghela nafas pendek, memaklumi kekeraskepalaan hyungnya ini.
“ya sudah kalau begitu… aku ke ruang latihan dulu ya hyung…” ujarnya menyerah.
Junsu hanya mengangguk menjawabnya dan menatap Chansung hingga akhirnya sang maknae menghilang dibalik pintu. Setelah itu ia kembali mengobrak-abrik tasnya, melanjutkan mencari benda yang sedari tadi ia cari.
‘tidak mungkin aku melupakannya… aku yakin memasukkannya kedalam tas tadi’ batinnya.
Secara perlahan rasa sesak yang dari tadi ditahannya semakin menjadi-jadi dan ia mulai limbung. Secara tak sengaja ia menjatuhkan beberapa barang. Sesaat ia sadar bahwa barang yang dicarinya sedari tadi juga terjatuh dan menggelinding hingga akhirnya terhenti karena membentur sepatu seseorang.
Junsu menoleh kearah yang punya sepatu yang kini tengah mengambil botol berisikan obat tersebut. Rasa cemas menguasai dirinya dan membuat keadaannya semakin buruk.
“Ini obat apa hyung?” tanya Junho si pemilik sepatu.
Junsu segera mengambil obat tersebut, namun saat akan berbalik tangannya ditahan oleh Junho.
“Apa kau tidak apa-apa hyung? Wajahmu pucat” tanya Junho lagi. Ia khawatir melihat keadaan Junsu yang biasanya selalu ceria tiba-tiba saja menjadi lemas seperti saat ini.
Junsu memaksakan sebuah senyuman. “Aku baik-baik saja Junho. Terima kasih sudah mengambilnya” ujarnya lemah bahkan nyaris berbisik. Sedetik kemudian Junsu ambruk tak sadarkan diri, dan dengan sigap Junho menangkap tubuh hyungnya ini.

***
(Junho POV)
Kupandangi tubuh Junsu hyung yang terbaring lemah di atas sofa. Bukannya aku tak khawatir dengan keadaannya, tapi aku tak mau membuat yang lain khawatir. Aku yakin Junsu hyung juga berbuat seperti ini karena tidak mau khawatir dengan keadaannya.
Setelah kuminumkan obat yang dicarinya tadi, perlahan-lahan nafasnya mulai kembali teratur. Dasar keras kepala. Ia masih memaksakan dirinya untuk mengikuti latihan yang sama dengan kami padahal ia menderita asma.
“nnggh…” perlahan tapi pasti Junsu hyung mulai membuka matanya. Ia terlihat kaget melihatku menungguinya.
“hyung, gwenchana?” tanyaku.
Ia mengangguk. “gwenchana” jawabnya. “Kenapa kau disini?” tanyanya.
Aku tersenyum pilu. “Hanya ingin menjagamu saja hyung. Kau tadi pingsan saat mencari obat ini” jawabku sambil memberikan obat tersebut.
Junsu hyung kelihatan sangat terkejut saat aku memberikan obatnya. Ia langsung mengambil obat tersebut dan menyimpannya. “terima kasih sudah memberikannya” ujarnya pendek.
Aku mengernyitkan dahi, tak habis pikir dengan sikapnya itu. “kau benar baik-baik saja hyung?” tanyaku.
Lagi-lagi ia hanya mengangguk menjawabku. Ia bangkit dan memasukkan obatnya kedalam tas lalu berjalan keluar ruangan.
“Kau mau kemana hyung?” tanyaku heran.
“Mau latihan, bukankah ini sudah terlambat?” jawabnya.
Aku segera menyusul dan menahannya. “kau yakin akan latihan dengan keadaanmu yang seperti sekarang ini hyung?” tanyaku lagi. Aku benar-benar tidak habis pikir kenapa ia begitu keras kepala dan memaksakan dirinya.
“Aku tidak apa-apa Junho, tak perlu khawatir” jawabnya dengan senyum lebarnya.
Entah kenapa pertahananku runtuh begitu saja melihat senyumnya. Tapi bagaimanapun hati kecilku ingin ia istirahat.
“Syukurlah kalau memang begitu hyung, tapi jangan terlalu memaksakan dirimu” ujarku lalu pergi mendahuluinya menuju ruang latihan.

***
(Junsu POV)
Aku menatap Junho yang melangkah duluan menuju ruang latihan. Apa dia tahu tentang penyakitku? Semoga saja ia tidak tahu. Aku tidak ingin mereka semua tahu tentang hal ini. Tapi ngomong-ngomong tadi aku kan belum meminum obatnya? Apa Junho yang meminumkannya padaku? Aissh!! Kenapa dengan hanya memikirkannya saja wajahku terasa panas? Ayolah Kim Junsu, kau harus latihan hari ini. Kau harus kosentrasi.
Aku melanjutkan langkahku menuju ruang latihan. Sesampainya disana semuanya sudah berkumpul, termasuk Junho yang kini sedang menyendiri di anak tangga.
“Kenapa lama sekali hyung? Kami sudah menunggumu dari tadi” tanya Wooyoung sedikit kesal.
“Mianhae… tadi aku mencari kacamataku tapi sepertinya ketinggalan” jawabku bohong. Aku tersenyum agar mereka tidak mengkhawatirkanku.
“tapi kalau mencari kacamata saja tidak akan selama itu hyung” tambah Nickhun.
“Aku ketiduran” bohongku lagi. “Mianhae” ujarku sambil membungkuk.
“gwenchana hyung. Ayo kita mulai latihan” ajak Chansung dengan sikap bocahnya yang menurutku kadang tidak sesuai dengan wajahnya, tapi tetap saja dia itu bocah. Aku jadi ingat waktu ia melempar balok es ke arah Boom hyung dan telak mengenai punggungnya. Benar-benar maknae yang sedikit kurang ajar, tapi setahuku Cho Kyuhyun, sang maknae dari Super Junior lebih kurang ajar lagi. Apa maknae itu memang ditakdirkan bersikap seperti itu? pemikiran yang bodoh Kim Junsu.
“hyung, ayo kita mulai latihan” ajak Chansung lagi. Aku mengangguk setuju.
“Junho! Ayo kita mulai latihan. Sampai kapan kau akan bengong begitu?” ujar Taecyeon.
Aku menatap Junho yang tengah bangkit dan mendekati Taecyeon.
“Aku ini bukan sedang bengong hyung, aku hanya sedang berpikir” katanya mengoreksi.
“Apapun itulah namanya. Ayo kita mulai latihannya” ujar Taecyeon sambil mengacak-acak rambut Junho.
Junho menatapku lama kemudian tersenyum. Tanpa aku sadari kedua sudut bibirku terangkat sehingga membentuk sebuah senyuman membalas senyuman yang ia berikan. Tapi entah kenapa aku merasa sakit melihat senyumannya.
Harus kuakui Junho adalah orang yang sangat perhatian kepada orang lain, dibalik sikapnya yang tenang dan terkadang dingin. Tadi ia juga menunggui hingga aku sadar. Aissh… kenapa aku jadi memikirkan dia terus sih… Ayolah Kim Junsu!! Kau harus kosentrasi pada latihanmu!! Satu lagi!! Jangan sampai penyakit ini mengganggu latihanku. Lagipula aku kan sudah minum obat meskipun diminumkan oleh Junho. Tuh kan…. lagi-lagi aku jadi memikirkan dia. Pasti tidak ada yang beres dengan otakku.

TBC dulu ya…. ^^
komen di wall grup ya…^^

Tentang bbkoreafanfiction

this is just blog for fun :)
Pos ini dipublikasikan di Chapter. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s