Listen to My Heartbeat FF Part 6

Part 6

(Author POV)

“Khun hyung, apa kau melihat Junho?” tanya Wooyoung pada Nikchun yang masih bengong karena melihat tingkah Chansung yang tidak seperti biasanya.

“Aniyo. Waeyo?” tanya Nickhun.

“Ah… dia kemana sih? Tadi Eunhyuk hyung mencarinya… mau ngajak latihan bareng katanya” ujar Wooyoung agak kesal.

Nickhun mengernyitkan dahinya. “Hanya Junho saja?” tanyanya selidik.

“Entahlah… menejer yang berpesan padaku” jawab Wooyoung cepat. “Sudah ya… aku mau cari Junho dulu. Hujan-hujan begini dia pergi kemana sih?” Wooyoung melangkah cepat menuju pintu, namun saat ia membuka pintu, ia kaget melihat keadaan Junho yang basah kuyup.

“J… Junho?? Kenapa kau basah kuyup begini?” tanya Wooyoung kaget sekaligus khawatir.

Junho sama sekali tidak menjawab, ia melangkah melewati Wooyoung dan Nikchun yang menatapnya heran menuju kamar mandi.

“hyung…” panggil Chansung yang baru saja keluar dari toilet. Ia kaget melihat Junho pulang dalam keadaan basah kuyup.

Lagi-lagi junho tidak menjawab. Ia hanya menatap Chansung kemudian tersenyum lemah dan menghilang di balik pintu kamar mandi.

Chansung menggigit bibir bawahnya. Ia benar-benar merasa bersalah karena telah membuat Junho menjadi seperti ini. Dengan cepat ia menahan pintu kamar mandi sebelum Junho menutupnya dengan sempurna.

“Hyung, bisa kita bicara sebentar?” tanyanya cepat.

“nanti saja Chansung-ah… aku mau mandi dulu” jawab Junho pelan tanpa menatap Chansung.

“baiklah” sahut Chansung lalu membiarkan Junho mengunci pintu.

Ia melangkah menuju ruang tengah, bergabung dengan Wooyoung dan Nickhun yang masih kaget melihat Junho.

“Ada apa dengannya? Tak biasa-biasanya dia seperti itu.” tanya Nickhun bingung.

“Molla, dia tidak pernah cerita padaku” jawab Wooyoung lalu melabuhkan tubuhnya di samping Nickhun. Ia menatap Chansung yang baru saja datang. “Chansung, apa Junho pernah bercerita padamu?” tanyanya.

Chansung terdiam. Junho tidak pernah bercerita apapun padanya, tapi ia tahu bahwa selama ini dia lah yang menyebabkan Junho seperti ini.

“Chansung-ah…” panggil Nickhun.

Chansung mengerjap. “Ne hyung. Wae?”

“Apa Junho pernah bercerita sesuatu padamu?” tanya Nickhun lagi mengulang pertanyaan Wooyoung.

Chansung menggeleng. “Tidak, Junho hyung tidak pernah bercerita apapun padaku. Tapi…” Chansung tidak sanggup melanjutkan perkataannya.

“tapi kenapa?” tanya Wooyoung penasaran.

Chansung menghela nafas. “bukan apa-apa hyung, nanti aku akan coba menanyakannya” jawab Chansung sambil terseyum lemah.

Wooyoung dan Nickhun kembali kecewa mendengar jawaban Chansung. Sementara itu Chansung bertekad untuk membantu dua hyung yang sangat disayanginya itu. Ia tidak mau membuat Junho terluka gara-gara dia. Lagipula ia tahu jika ia memaksakan perasaannya, maka tidak akan ada yang bahagia diantara mereka.

Cukup lama Junho berada di kamar mandi. Meskipun berusaha untuk terlihat lebih baik namun usahanya gagal. Tangisannya sama sekali tidak berhenti. Ia membiarkan air shower membasahi tubuhnya yang semula memang sudah basah kuyup karena diguyur hujan.

“Ayolah Junho… Kau sudah berjanji padanya, jangan kecewakan dia” ujarnya pada dirinya sendiri. Ia menenangkan dirinya setelah menangis keras. Menangisi betapa bodohnya dirinya tidak bisa membunuh perasaan yang seharusnya tidak boleh ada dalam dirinya.

“Apa ada orang didalam?” tiba-tiba suara Junsu mengalihkan perhatiannya. Junho menghela nafas panjang, berusaha agar suaranya tidak bergetar.

“Ne hyung, aku di dalam” jawabnya.

Tidak terdengar sahutan dari luar. Setelah sedikit mengeringkan rambutnya, ia pun keluar. Ia kaget saat melihat Junsu berada di depan pintu. Tak beda dengannya, Junsu pun terlihat kaget karena Junho tiba-tiba keluar dari kamar mandi.

Junsu menatap Junho, mata mereka bertemu, namun kemudian Junho dengan segera memalingkan pandangannya.

“Kau mau masuk, hyung?” tanya Junho. Junsu terdiam sejenak, lalu mengangguk.

“Oh, sahutnya pelan. Junho menghela nafas.

“Arasso,” ujar Junho. Ia kembali mengacak rambutnya dengan handuk, ia memiringkan tubuhnya agar Junsu bisa melewatinya, namun Junsu diam tak bergeming ditempat. “Hyung, permisi…”

“Junho ah..” panggil Junsu. Ia mengangkat tangannya dan menghalangi tubuh Junho.

“Wae?” tanya Junho. Junsu menggigit bibirnya lalu memantapkan hatinya untuk bicara.

“Bisa kita bicara? Ada yang ingin kukatakan padamu,” kata Junsu. Junho tidak langsung menjawab. Sebagian dari hatinya mengatakan bahwa ia ingin menerima tawaran itu, namun sebagian lagi menolak mentah-mentah tawaran itu.

‘Ingat Chansung, Junho,’ batin Junho. Ia menatap Junsu lalu menggeleng pelan.

“Tidak ada yang ingin kubicarakan denganmu, mianhae,” tukas Junho datar sambil mendorong tubuh Junsu kesisi dan berjalan melewatinya. Junsu terdiam, berusaha menahan air matanya yang sudah dipelupuk mata. Junsu memejamkan matanya, kemudian merengut dadanya, membiarkan beberapa tetes air mata mengalir sebelum ia masuk ke dalam kamar mandi dan menangis.

Junho berjalan cepat menuju kamarnya, ia menyampirkan handuknya di atas kepala, membiarkan wajahnya tertutupi hingga tidak seorang pun sadar ia tengah menahan tangis. ‘Mianhae, hyung…’ batinnya lagi. Tangannya yang gemetar dengan cepat ia arahkan menuju kenop pintu, lalu memutarnya.

“Hyung, kau sudah selesai?” sapa Chansung yang mendongakkan kepalanya dari PSP ditangannya.

Junho mengangguk lalu mengambil selembar pakaian lalu memakainya. “Kau menunggu disini?” tanya Junho agak heran.

Chansung mengangguk lalu menghentikan permainannya kemudian menghela nafas panjang. Ia pun menatap Junho yang kini kembali mengeringkan rambutnya dengan handuk.

“boleh aku bertanya sesuatu padamu hyung?” tanya Chansung sambil melipat kakinya.

Junho menatap Chansung heran kemudian tersenyum. “Tentu saja, kau mau bertanya apa?” tanya Junho kembali.

“A… apa kau pernah merasa jatuh cinta dan kemudian patah hati?” tanya Chansung hati-hati.

Junho tak langsung menjawab. Ia menatap Chansung tajam, mencari alasan kenapa tiba-tiba sang maknae bertanya seperti itu padanya.

“Kenapa kau bertanya seperti itu Chansung-ah? Apa Junsu hyung menolakmu?” tanya Junho selidik.

Chansung menggeleng cepat. “Aniyo, aku hanya ingin tahu saja karena hyung jarang bercerita tentang hal itu padaku” sanggahnya.

Junho menghela nafas panjang lalu duduk disebelah Chansung. “Ne, aku pernah merasakannya” jawabnya lirih.

“Pasti rasanya sakit sekali?” ujar Chansung.

Junho menggeleng. “Awalnya memang sakit, tapi jika kau melihatnya bahagia maka kau juga akan ikut merasa bahagia” sanggahnya.

Chansung menatap Junho nanar. Ingin ia menangis sambil memeluk hyung nya yang satu ini. Junho sudah sangat baik padanya hingga mengorbankan perasaannya sendiri. Ingin sekali ia meminta maaf karena sikap egoisnya. Namun semua itu ia tahan demi kedua hyungnya.

“Gomawo hyung” ujar Chansung sambil tersenyum.

Junho mendongak, menatap Chansung tajam. “untuk apa?” tanyanya tak mengerti.

Chansung terdiam sesaat. “Untuk semuanya yang sudah kau berikan dan korbankan untukku” sahutnya.

Junho tersenyum. “Tak perlu berterima kasih Chansung-ah, sudah sewajarnya aku membantumu. Kau ini kan sudah kuanggap seperti adik kandungku sendiri” jawab Junho sambil mengacak-acak rambut Chansung yang agak panjang. Chansung pun ikut tersenyum.

“Hyung, sekarang kau tidak perlu membantuku untuk bersama Junsu hyung lagi” ujar Chansung.

Junho tersentak kaget. Ia memandang Chansung tak percaya. “Wae? Apa kau sudah jadian dengan Junsu hyung?” tanyanya kaget.

Chansung menggeleng. “aniyo”

“jadi kau benar di tolak olehnya?” tanya Junho lagi.

“Tidak juga” jawab Chansung.

Junho menatap Chansung, ia tak mengerti kenapa Chansung tiba-tiba berkata seperti itu. “Lalu kenapa?” tanyanya.

Chansung tersenyum pilu. “Aku sudah memutuskan menyerah hyung, Junsu hyung menyukai orang lain” jawabnya lirih.

Junho menyandar lemas. “Begitu…” bisiknya lirih. “tapi kau tidak boleh menyerah Chansung-ah. Kau harus berusaha mencapai cintamu” ujar Junho semangat.

Chansung menatap Junho, namun dengan cepat pula Junho mengalihkan perhatiannya. Chansung menggenggam tangan Junho erat.

“Aku tidak ingin menyakiti kalian berdua hyung”

Junho tersentak. Ia menatap Chansung kaget. “Apa maksudmu Chansung-ah?”

“Aku tahu selama ini hyung menyukai Junsu hyung” jawab Chansung pasti.

“A… Aku tidak..”

“Jangan berbohong hyung, aku bisa melihatnya!!” ujar Chansung keras.

Junho terdiam. Ia tak bisa mengelak lagi. “Aku tidak apa-apa Chansung-ah…” ujarnya lirih.

“Bohong!” sanggah Chansung cepat. “Jika kau baik-baik saja, maka kau tidak akan seperti sekarang ini”

Junho bangkit lalu menatap Chansung dan kemudian tersenyum. “Jangan korbankan perasaanmu untukku Chansung-ah, jangan pernah kau lakukan itu” ujarnya lirih lalu menghilang di balik pintu.

“Junho hyung!” panggil Chansung. “Kau benar-benar bodoh hyung, kau melarangku melakukannya tapi kau sendiri melakukannya. Kau benar-benar bodoh. Tak tahu kah kau bahwa Junsu hyung juga menyukaimu?” ujar Chansung berharap Junho akan mendengarnya.

***

(Junsu POV)

Lagi-lagi air mataku mengalir. Kenapa dia menjauhi seperti ini? Kenapa kau melakukan ini padaku Junho? Penolakanmu kemarin sudah menjelaskan semuanya. Aku tak bisa berharap lagi sekarang. Meskipun Chansung mengatakan akan membantuku, tetap saja aku tidak bisa berharap banyak.

“Junsu hyung, boleh aku masuk?” suara ketukan dan panggilan Taecyeon memaksaku untuk menghapus air mataku dan menjawab panggilannya.

“Masuk saja” jawabku parau. Aku mengalihkan perhatianku pada keyboard yang ada di samping komputer saat Taecyeon memasuki kamar agar ia tidak bisa melihat air mataku.

“hyung, gwenchana?” tanyanya khawatir. Aku mengangguk.

“ne, aku baik-baik saja” jawabku sambil tersenyum. Ia ikut tersenyum.

“hyung, tadi manejer bilang kau sudah boleh latihan lagi bersama kami” ujarnya.

“Jinjja? Syukurlah kalau begitu. Aku bosan hanya latihan vokal tiap hari” ujarku senang. Ini benar-benar kejutan yang menyenangkan. Kuharap karena kesibukan latihan nanti, aku bisa melupakan masalahku meskipun aku tau itu sulit.

***

(Author POV)

Wooyoung mengetuk pintu kamarnya dan Junho perlahan.

“Junho-ah, aku masuk ya?” tanyanya hati-hati. Takut jika nanti Junho marah padanya mengingat sejak beberapa hari yang lalu ia bertengkar dengan Junsu.

Perlahan ia membuka pintu, ia menatap Junho yang berbaring menghadap dinding di tempat tidur.

“Junho, kau baik-baik saja?” tanya Wooyoung khawatir. Ini kedua kalinya ia melihat Junho terpuruk seperti sekarang setelah kejadian di rumah sakit dulu.

Junho mengangguk.”ne hyung, aku baik-baik saja” jawabnya seraya berbalik menghadap Wooyoung.

Wooyoung kaget melihat wajah Junho yang lebih keruh dibandingkan saat pulang tadi

“ada apa hyung?” tanya Junho sambil memaksakan sebuah senyum.

“ah, itu, tadi manejer bilang Junsu hyung sudah boleh latihan lagi hari ini” jawab Wooyoung. Junho menatap Wooyoung tak percaya.

“cheongmal?” tanyanya tak percaya. Wooyoung mengangguk.

“ne” jawabnya. Junho tersenyum lembut mendengarnya.

“Syukurlah kalau begitu” ujarnya senang.

Wooyoung nyaris saja tidak mempercayai apa yang baru saja ia lihat dan dengar, namun sejurus kemudian ia juga ikut tersenyum.

“ayo! Kita latihan sekarang” ajak Wooyoung.

Junho mengangguk menjawabnya. Ada rasa lega dalam dirinya, namun rasa sedih dan cemas jauh lebih dominan. Ia bertekad akan terus membantu Chansung meskipun Chansung sendiri sudah memutuskan untuk menyerah. Selain itu ia tidak ingin Chansung juga melakukan hal bodoh sepertinya.

TBC

Tentang bbkoreafanfiction

this is just blog for fun :)
Pos ini dipublikasikan di Chapter. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s