Listen to My Heartbeat FF Part 2

Part 2

(Chansung POV)

Rasanya aneh melihat Junho hyung terlalu lama menatap Junsu hyung. Dengan tatapan yang aneh pula. Apa ada sesuatu diantara mereka.

“Kau kenapa Chansung? Jangan memikirkan hal yang akan membuatmu pusing” ujar Taecyeon hyung mengagetkanku.

“Aniyo… aku hanya memikirkan Jaeboom hyung. Aku rindu padanya” jawabku setengah berbohong.

Taecyeon hyung menghela nafas. “benar juga, apa dia tidak akan mengunjungi kita lagi?” tanyanya.

“molla” jawabku.

Taecyeon hyung menatapku heran lalu tertawa. “Aku ini tidak bertanya padamu Chansung-ah… sepertinya kau memang sedang memikirkan sesuatu tadi” ujarnya sambil memamerkan deretan gigi putihnya yang berkilau.

“Aku memang sedang berpikir hyung, bukan kah tadi sudah kukatakan padamu?” tanyaku agak kesal.

“Iya… iya… aku tahu… sudah kau mandi sana. Badanmu bau!” ujarnya sambil terkekeh.

“Nee…” jawabku.

Dengan malas aku pun beranjak menuju kamar mandi. Namun saat melewati dapur, aku melihat junsu hyung sedang meminum sesuatu. Entahlah, aku tidak tahu apa itu, mungkin saja itu vitamin. Mengingat akhir-akhir ini ia sering kelihatan pucat dan kelelahan. Semoga saja tidak terjadi apa-apa padamu hyung. Yah… setelah Jaeboom hyung pergi, kini Junsu hyung lah yang menggantikan posisinya. Mungkin itulah yang membuatnya kelelahan.

*** (Author POV) Junsu tengah terdiam, bersandar pada dinding ruang latihan dengan mata terpejam. Ruangan masih sangat sepi, berhubung hari ini jadwal latihan mereka dimulai sekitar jam 8 malam. Ia berpikir, mengenai penyakitnya, mengenai kelompoknya dan juga mengenai Junho. “Aish… Lagi-lagi…” keluhnya pelan. Ia membuka matanya dengan segera untuk menghilangkan bayangan Junho dari pikirannya. “Sadarlah wahai Junsu…” Pintu berdecit pelan, menandakan seseorang memaksanya untuk terbuka. “Makin lama makin jelek saja pintu ini,” keluh Chansung seraya mendengus dan menendang pintu ruang latihan mereka. “Oh! Junsu hyung! Ngapain jam segini udah stand-by?” Junsu menatap Chansung dan tersenyum. “Aku tidak tahu mau mengerjakan apa, jadi aku kemari saja. Hitung-hitung biar aku tidak terlambat lagi.” Chansung tertawa dan berjalan masuk sambil melepaskan jaket yang dikenakannya. Ia duduk di samping Junsu. “Tapi apakah kau harus duduk di bawah begini? Kan ada kursi?” tanya Chansung seraya menuding sebuah kursi kayu di sudut ruangan. Junsu terkekeh. “Aku merasa lebih membumi kalau duduk di lantai,” jawab Junsu. Chansung menyeringai. “Kau memang aneh, hyung,” kekehnya. “Tampaknya yang lain masih lama datangnya, karena baru jam 5.” Chansung bangkit. “Kalau begitu aku mau beres-beres dulu, deh,” gumamnya seraya bangkit. Junsu turut bangkit dan menyibak tirai usang jendela dengan sapuan tangannya. “Kau sendiri kenapa datang jam segini, Sung ah?” tanya Junsu. Chansung terdiam, ia mendengung sejenak, lalu tersenyum. “Tidak tahu,” jawabnya enteng seraya mengangkat bahu. Mereka tertawa. Chansung mulai membersihkan lantai kayu ruang latihan dengan lap pel yang tersedia, sementara Junsu mulai membuka tiap jendela di ruangan itu untuk membiarkan udara bersirkulasi dengan bebas. “Oh ya, hyung,” panggil Chansung di tengah kerjanya. Junsu menoleh pada Chansung. “Hnn?” sahutnya. “Belakangan ini kau terlihat pucat, apa kau sakit?” tanya Chansung. Junsu tidak langsung menjawab, ia terdiam sejenak. “Hyung?” panggil Chansung lagi. “Ani,” tukas Junsu sambil tertawa gugup. “Aku baik-baik saja, kok.” Chansung menatap Junsu dengan serius. “Benar-benar baik-baik saja?” tanya Chansung. Junsu mengangguk. “Tentu. Aku baik-baik saja, hanya mungkin sedikit kelelahan. Kau tidak perlu khawatir.” Senyum Chansung terkembang. “Syukurlah kalau begitu,” kekehnya sambil kembali bekerja. “Kalau begitu teruskan meminum vitaminmu, hyung!” Junsu tersentak. “Vitamin?” tanya Junsu. Chansung menatapnya dengan heran. “Bukankah kau sedang mengkonsumsi vitamin?” tanya Chansung. “Ah! Ya,” sahut Junsu berbohong. “Ya, ya, vitamin yang itu.” “Halah, kau ini, hyung,” kekeh Chansung. “Dengan suplemen-mu sendiri saja lupa.” Junsu menatap punggung Chansung, tangannya terengut kuat. Ia merasa gugup, terus berpikir apakah Chansung mengetahui soal penyakitnya. Apakah teman-temannya mengetahui masalah ini? Pintu kembali terbuka. “Astaga!” decak Junho. “Chansung! Kau rajin sekali!” “Yha, hyung! Tidak sopan sekali kau! Memang kau pikir aku pemalas?” tanya Chansung sedikit menyalak. Junho terkekeh. “Aku ‘kan tidak bilang begitu, ppabo!” tukas Junho sambil menjulurkan lidahnya dan melenggang melangkahi Chansung. “‘Misi ya.” “Oh, hyung, kau disini?” sapa Junho. Ia menatap Junsu yang terlihat lebih pucat dari biasanya. “Hnn,” sahut Junsu sambil menyunggingkan sedikit senyuman. “Hai, Junho…” “Kau kenapa, hyung?” tanya Chansung yang sudah berdiri dan menatap Junsu heran. “Aku tidak apa-apa,” sahut Junsu seraya berjalan menuju pintu. “Aku ke WC dulu, ya.” Ia pun berlalu. Chansung dan Junho saling bertatapan. “Kenapa dia?” tanya Junho. Chansung menanggapi dengan mengangkat bahunya, dan keduanya menatap pintu dengan keheranan.

*** (Junsu POV) Hampir saja.. Untung Chansung menganggap itu hanya suplemen biasa. Kau harus lebih berhati-hati lagi Junsu.. Benar-benar harus lebih waspada.. Aku tidak tahu dengan Chansung, tapi aku tahu Junho sudah merasakan sesuatu terjadi padaku. Aku tidak mau dia tahu, aku tidak mau mereka tahu. Meski pun penyakitku hanyalah penyakit asma, tapi aku yakin mereka pasti akan memperlakukan aku berbeda jika mereka tahu. Aku hanya ingin menari… Aku hanya ingin bersama mereka… Aku hanya ingin bersama dengan J–aish… Hentikan Junsu! Semakin lama otakmu semakin ngawur! Dasar bodoh! Kutatap pantulan wajahku di cermin, kemudian menghela nafas. Aku sedikit bersyukur penyakitku tidak kambuh, setidaknya tidak sampai saat ini. Kalau aku sampai pingsan lagi seperti kemarin, apa yang harus kukatakan pada mereka? “Kau harus kuat,” kukatakan pada diriku di cermin. “Kim Junsu.. Kau adalah orang yang kuat,” bisikku lagi. Akhirnya, aku pun mulai membasahi wajahku dengan air segar dari keran, dan segera kembali ke ruang latihan.

***

(Author POV)

Junsu kaget saat kembali memasuki ruang latihan. “Kenapa hari ini semuanya tiba-tiba jadi rajin begini?” tanyanya heran.

“Junsu hyung, kau juga sudah datang?” tanya Nickhun yang sama herannya.

Junsu mengangguk. “Hnn”

“Junsu hyung yang pertama kali datang” ujar Chansung.

Taecyeon, Wooyoung dan Nickhun yang baru saja datang langsung menatap Junsu tak percaya.

“kenapa cepat sekali hyung?” tanya ketiganya serempak.

“Aku tidak mau terlambat lagi” jawab Junsu sambil tersenyum. “Kalian bertiga, kenapa datang secepat ini? Kau juga Taecyeon, bukankah kau ada jadwal syuting hari ini?” tanyanya panjang lebar.

“Kami hanya sedang tidak ada kerjaan jadi kemari saja” jawab Nickhun dan Wooyoung kompak.

Junsu mengungguk kecil lalu mengalohkan perhatiannya pada Taecyeon, menunggu jawaban dari member tertinggi tersebut.

“Tiba-tiba saja jadwal syuting ku dibatalkan karena sutradaranya sakit” jawabnya.

Junsu menghela nafas panjang. “Benar-benar kebetulan yang sangat tidak terduga” komentarnya.

Yang lainnya hanya tertawa kecil mendengar komentar sang lead vocal. Aneh, keras kepala, ceplas-ceplos, bahkan sering terlihat polos dan lugu. Yah… karakter yang tidak jauh beda dengan Jaeboom sebenarnya.

“karena kita semua sudah berkumpul bagaimana jika kita mulai saja latihannya?” usul Junsu tanpa mempedulikan pemikiran rekan-rekannya tentang dirinya.

“Kau yakin hyung? Wajahmu masih kelihatan sedikit pucat” tanya Chansung khawatir.

Junsu menatap Chansung. “Ne, aku sehat-sehat saja kok… tidak perlu mengkhawatirkan aku” jawabnya seraya tersenyum.

“Ya sudahlah kalau memang begitu” ujar Chansung menyerah.

Setelah melakukan sedikit persiapan dan pemanasan, mereka pun memulai latihan. Selama latihan tersebut, sepasang mata terus menatap Junsu tanpa melepaskannya sedikitpun.

***

(Junho POV)

Selalu saja memaksakan diri. Yah… meskipun keadaannya sudah lebih baik dari kemaren tapi tetap saja membuatku cemas. Hyung, apa kau tidak tahu kalau aku ini mencemaskanmu? Ah tidak, lebih tepatnya kami semua. Kami semua mencemaskanmu hyung.

“Junho, kenapa setiap kali aku melihatmu kau selalu melamun?” tanya Taecyeon hyung menghancurkan semua lamunanku.

“aku ini tidak sedang melamun hyung, hanya sedang berpikir” koreksiku.

Ia menghela nafas. “kau selalu bilang seperti itu sejak beberapa hari yang lalu, tapi kau tidak pernah mau mengatakan apa yang sedang kau pikirkan” ujarnya.

“Apakah harus?”

“Yah… setidaknya kau tidak menyimpan masalahmu sendiri” jawabnya.

Aku menghela nafas. Kalau aku katakan, Junsu hyung pasti tau kalau aku sudah tahu tentang penyakitnya dan aku yakin itu akan membuatnya kesal.

“tapi aku tidak mau mengatakannya hyung, lagipula ini bukan masalah yang besar kok” jawabku.

Taecyeon hyung menatapku lalu ia menghela nafas. “ya sudah kalau kau tidak mau, tapi kami semua pasti akan siap membantumu menyelesaikan masalahmu itu kok” ujarnya lalu menghampiri yang lainnya.

Aku kembali menatap Junsu hyung yang tengah istirahat di pojokan. Dilihat dari keadaannya, sepertinya ia sudah kehabisan nafas. Apa yang bisa kulakukan ya? Tanpa pikir panjang, aku mengambil sebotol air mineral dan menghampirinya.

“minum dulu hyung” ujarku sambil memberikan air mineral yang kuambil tadi.

“Gomawo Junho-ah” ujarnya lalu meminum air mineral tersebut.

Aku kembali menatapnya. Entah sejak kapan aku tidak bisa melepaskan mataku dari sosoknya. Sosok yang terkadang terlihat bijaksana namun terkadang juga terlihat sangat lugu dan polos. Salahkah menyimpan perasaan ini padamu hyung?

“Junho, kau kenapa menatapku seperti itu?” tanyanya menyadarkanku dari lamunanku.

“aniyo. Hyung, bagaimana kalau latihan hari ini disudahi saja. Kau kelihatan sangat lelah” usulku.

Junsu hyung terlihat berpikir. Ayolah hyung, setujui saja usulku. Aku tidak mau melihatmu tiba-tiba ambruk seperti kemaren karena kelelahan dan juga penyakitmu itu.

“Aku baik-baik saja Junho. Aku masih bisa latihan kok” jawabnya sambil tersenyum. Senyum yang begitu hangat namun juga menghancurkan semua harapanku saat itu juga.

Ku paksakan diriku untuk tersenyum. “kalau itu keputusanmu tidak apa-apa hyung, tapi kumohon jangan memaksakan dirimu lagi” bisikku padanya. Aku yakin ia mendengarnya karena raut wajahnya langsung berubah.

tbc

Tentang bbkoreafanfiction

this is just blog for fun :)
Pos ini dipublikasikan di Chapter. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s