Listen to My Heartbeat “ChanWoon version” part 1

annyeong~~ ketemu lagi dengan author gaje yang setelah sekian lama gak muncul kali ini datang dengan ff yang gak kalah gaje dengan f yang selanjutnya.
selamat menikmati~~😄

oh iya, perlu di jelaskan disini. di ff kali ini akan ada anak2 2AM muncul.
jadi mohon di maklumi
happy reading~~😄

Part 1

(Author POV )
Chansung menatap langit hitam dengan taburan bintang diatasnya. Pikirannya melayang pada kisah cinta semua hyungnya.
“Pertama Junsu hyung dan Junho hyung, lalu Nickhun hyung dan Wooyoung hyung, terakhir Taecyeon hyung dan Jaebeom hyung. Kisah mereka berakhir indah meskipun diawalnya begitu rumit” ujarnya.
Rasa sakit dihatinya kini perlahan-lahan mulai membaik. Ya, rasa sakit dan bersalah yang dulu ia rasakan saat dimana ia menjadi orang ketiga antar Junsu dan Junho. Terlebih lagi saat ia tahu Junho telah mengorbankan perasaannya.
Chansung terus tenggelam dalam pikirannya hingga ia tak menyadari seseorang memperhatikannya dan mulai mendekatinya.
“Kau benar-benar senang melihat langit ya hyung” ujar sosok tersebut menyadarkan Chansung dari lamunannya. Chansung menoleh lalu tersenyum menatap sosok yang sudah menyapanya.
“Kau membuatku kaget saja Jinwoon-ah” ujar Chansung seraya meluruskan duduknya. Jinwoon hanya menatap Chansung datar lalu melabuhkan dirinya disebelah Chansung.
“Sudah malam begini kau tak berniat pulang hyung?” tanya Jinwoon basa basi. Chansung tersenyum lalu kembali menatap langit.
“Aku ingin melihatnya sebentar lagi” jawabnya.

Jinwoon mengikuti arah pandang Chansung, tapi beberapa menit kemudian ia menunduk. Menenggelamkan kepalanya diantara kedua lututnya. Chansung yang menyadari hal itu kembali mengalihkan perhatiannya pada sosok disebelahnya.
“Kau kenapa Jinwoon-ah? Apa kau sedang ada masalah?” tanya Chansung khawatir. Jinwoon mengangkat kepalanya dan menggeleng.
“aniyo” jawabnya. Ia menatap Chansung tajam.
“hyung, apa yang namanya patah hati itu sakit?” tanya Jinwoon lirih.
Chansung menatap Jinwoon kaget sekaligus heran. Heran kenapa Jinwoon tiba-tiba bertanya seperti itu dan kaget karena pertanyaan itu membuatnya ingat akan dirinya sendiri.
“Kau… baik-baik saja Jinwoon-ah?” tanyanya. Jinwoon mengangguk lemah.
“ne hyung, aku tidak apa-apa. Gottcheongmal” jawabnya lemah.
“lalu kenapa kau bertanya seperti itu” Jinwoon menghela nafas panjang.
“karena kau pernah merasakannya saat kau tahu Junsu hyung dan Junho hyung saling menyukai dan kau menjadi orang ketiga diantara mereka” jawabnya panjang lebar. Chansung mengerjap tak percaya.
“ba… bagaimana kau bisa tahu?” Jinwoon tak langsung menjawab. Ia berdiri membelakangi Chansung.
“karena aku selalu memperhatikanmu hyung. Ya, selalu” jawabnya lalu melangkah menuju pintu.
Chansung tak bergerak dari tempatnya. Entah kenapa hatinya terasa sakit saat mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Jinwoon. Tapi ia tak mau rasa penasaran lebih menguasai dirinya dan akhirnya ia pun menyusul Jinwoon.
“Jinwoon-ah!” panggil Chansung begitu ia melihat Jinwoon berjalan tanpa semangat didepannya.
Jinwoon kanget melihat Chansung menyusulnya, meskipun begitu ia tetap memberikan sebuah senyuman.
“ada apa hyung?” tanyanya.
Chansung menyejajarkan dirinya dengan Jinwoon dan kembali berjalan. Ia menatap Jinwoon dengan pandangan ‘kenapa kau malah bertanya seperti itu?’
“kau… bagaimana kau bisa tahu?” tanya Chansung begitu nafasnya sudah agak teratur. Jinwoon tersenyum.
“kan aku sudah bilang kalau aku memperhatikammu” jawabnya ringan. Entah kemana perginya kesuraman yang tadi melanda dirinya.
“maksudmu?” Jinwoon menyeringai jahil.
“ya aku memperhatikanmu. Lagipula bukankah kau sendiri yang mengatakannya padaku hyung?” jawabnya.
Chansung terbelalak namun tak lama kemudian ia menghadiahkan Jinwoon sebuah jitakan dikepala dongsaeng satu manajemennya ini. Ia menyadari betapa pelupanya dirinya sehingga bisa dikerjai oleh Jinwoon.
“kau benar-benar membuatku kaget. Kenapa malah mengerjaiku sih?” tanya Chansung tak terima. Ia baru saja ingat bahwa Jinwoon jauh lebih usil darinya.
Jinwoon mengelus bagian kepalanya yang tadi dijitak Chansung sambil tersenyum jahil.
“habis kalau melihatmu begitu, aku jadi ingin mengerjaimu hyung” jawabnya cengengesan.
Chanrung menghela nafas. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi, tapi ia benar-benar merasa senang mendengar bahwa Jinwoon memperhatikannya.
“kau mau pulang?” tanya Chansung. Jinwoon mengangguk.
“ne, tapi aku mau menunggu Jokwon hyung dulu” jawabnya.
“kita duluan saja, bagaimana? Aku akan mengantarmu. Jaraknya kan dekat” usul Chansung dengan seringai jahilnya sukses membuat Jinwoon terperangah, namun kembali tersenyum hangat dan tentu saja jahil.
“jika kau tidak keberatan hyung” terimanya dengan senang hati”

***
(Jinwoon POV)
Ternyata memang tidak peka, tapi justru itu lebih baik dibandingkan dia peka dan menyadari semuanya.
“Jinwoon-ah! Kenapa kau malah pulamg duluan?” tanya Jokwon hyung kesal. Sudah bisa diduga memang.
“mianhae hyung. Aku…”
“dia tadi diantar Chansung” ujar Seulong hyung sebelum aku menjawab. Kini ketiga hyungku ini menatapku penasaran. Aissh… Aku tidah suka dalam kondisi yang dipojokkan begini.
“jadi bagaimana?” Changmin hyung bertanya lebih dulu. Kuhela nafasku malas. Ini benar-benar pertanyaan yang paling aku benci.
“apanya yang bagaimana?” tanyaku. Kali ini Jokwon hyung yang menghela nafasnya.
“Jangan bepura-pura tidak tahu Jinwoon-ah. Bagaimana hubunganmu dengannya? Apa kalian sudah jadian?” tanyanya beruntun.
Harus kuakui aku memang tidak bisa menyembunyikan perasaanku dengan baik sehingga ketiga orang yang ada dihadapanku ini mengetahui rahasia yang sudah kukunci dengan sangat rapat.
“biasa saja, tak ada perkembangan” jawabku sedikit lemas. Seulong hyung menghela nafas kecewa. Begitu juga dengan Changmin hyung dan Seulong hyung. Tak ada bedanya.
“Apa kau tak berniat menyatakan perasaanmu? Apa kau akan terus menunggu hingga akhirnya ia menyadari perasaanmu dan mengatakan bahwa ia juga menyukaimu Jinwoon-ah?” tanya Seulong hyung. Aku menggeleng cepat.
“aniyo, aku hanya menunggu waktu yang tepat” sanggahku.
“kapan Jinwoon-ah? Jujur aku takjub padamu yang bisa menahan perasaanmu hingga saat ini, tapi jika hanya menunggu itu akan…”
“aku tak ingin ia terkejut dengan pernyataanku hyung” potongku cepat. “aku hanya menunggu sampai luka dihatinya benar-benar sembuh sepenuhnya. Aku hanya menunggu hingga Chansung hyung bisa melupakan Junsu hyung” tambahku.
Keheningan terjadi saat aku menyelesaikan kata-kataku. Mungkin mereka kaget aku berkata seperti ini. Aku hanya ingin mereka tahu apa yang sedang kupertimbangkan saat ini.
“kau… Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Jokwon hyung tergagap.
“entahlah. Instingku berkata bahwa Chansung hyung masih belum bisa melupakan perasaannya pada Junsu hyung” jawabku bohong.
Ya, tentu saja itu bohong. Aku mendengar sendiri bahwa ia menyukai Junsu hyung, bahkan semua masalah yang terjadi saat itu.
Bagaimana aku bisa tau? Karena Chansung hyung sendirilah yang mengatakannya langsung padaku. Ia mengatakan padaku betapa bodohnya dia tak menyadari perasaan Jun Brothers itu sehingga Junho hyung berubah 180 derajat. Ia juga meminta bantuanku untuk menyatukan keduanya dan kisah mereka berakhir bahagia. Meskipun begitu kadang ia mengeluh hatinya masih terasa sakit, tapi ia mengatakan bahwa ia akan berusahakan melupakan perasaannya pada Junsu hyung meskipun itu sulit.
Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba ia menceritakan semua itu padaku. Mungkin ia tidak mampu mengatakan perasaannya pada Nickhun hyung atau Taecyeon hyung karena keduanya juga menghadapi masalah yang berbeda namun lebih rumit dari masalahnya sendiri. Tapi kenapa harus aku? Kenapa bukan Seulong hyung atau Jokwon hyung? Kenapa aku? Apakah dia tidak tahu kalau itu justru akan menyakitiku?
“Woon-ah… Jinwoon-ah!”
aku mengerjap beberapa kali. Bisa kulihat wajah mereka khawatir menatapku.
“gwenchana Jinwoon-ah?” tanya Changmin hyung seraya menaruh tanganmya didahiku. Aku tersenyum.
“gwenchana hyung. Wae?”
“kau tidak menyahut saat kami panggil tadi. Kami pikir kau pingsan dengan mata terbuka” jawab Jokwon hyung. Aku menahan tawa mendengarnya.
“itu tidak mungkin hyung, aku hanya sedang memikirjan sesuatu” ujarku.
“sesuatu? Apa Chansung?” tanya Changmin hyung berhasil membuat wajahku merah seketika.
“HYUUUUNG~~~!!!”

***
(Chansung POV)
Kenapa ya? Aku merasa kalau Jinwoon sering bersikap aneh akhir-akhir ini. Seperti ada yang sedang ia sembunyikan dariku.
“Oi! Chansung! Kau melamun lagi?”
Aku mengalihkan pandanganku dari langit malam yang ada diatas sana. Kulihat Junho hyung menatapku tajam.
“Aniyo, hanya berpikir” jawabku mengopy jawabannya terdahulu.
“Kau jangan mengopy jawabanku!” ujarnya kesal.
“Mianhae hyung…” sahutku sambil nyengir.
Junho hyung tersenyum. Senang akhirnya dia kembali seperti dulu lagi. Kembali menjadi Junho hyung yang hangat dan gila seperti Wooyoung hyung.
“Kau sedang memikirkan apa?” tanya Junho hyung seraya menempatkan dirinya disampingku.
“Jinwoon. Dia terlihat aneh belakangan ini.” jawabku sambil kembali menatap langit malam yang entah sejak kapan selalu kupandangi setiap kali ada waktu.
“Jinwoon? Maksudmu Jung Jinwoon? Jung Jinwoon maknaenya 2AM? Yang kakinya bau dan punya bulu aneh disikutnya itu?” tanya Junho hyung beruntun. Aku menatapnya.
“Hyung, aku hanya mengenal satu orang yang bernama Jung Jinwoon. Lagian kenapa kau sampai menanyakan hal yang begituan segala?” tanyaku tak habis pikir. Junho hyung menghela nafas.
“Hanya memastikan saja. Mana tau kau memikirkan Jinwoon yang lain” jawabnya enteng. “tapi…”
“tapi apa hyung?” tanyaku penasaran. Entah kenapa aku merasa Junho hyung mengetahui sesuatu.
“Kenapa kau memikirkannya? Maksudku kenapa kau tiba-tiba…” Junho hyung tidak melanjutkan kata-katanya. Aku mengerti kenapa Junho hyung bertanya seperti itu, karena sebelumnya aku sama sekali tidak pernah memikirkan Jinwoon sampai seperti ini. Aku menghela nafas sambil kembali menatap langit.
“Entahlah, aku hanya merasa dia bersikap aneh akhir-akhir ini. Dia menjadi lebih pendiam dan tidak segila biasanya” jawabku.
“Tapi menurutku dia masih kelihatan seperti biasanya kok” ujar Junho hyung. “tapi dia memang tak segila Jokwon hyung ataupun Changmin hyung” lanjutnya.
Aku sweatdrop mendengarnya. “Jokwon hyung atau Changmin hyung memang paling gila hyung, dan setahuku Jinwoon sama sekali belum pernah mengalahkan tingkat kegilaan mereka” sahutku.
“Nah, itu kau tahu. Lalu kenapa?”
“Mollayo, hanya saja aku merara jika kami hanya berdua saja dia terlihat aneh. Tak jarang ia tiba-tiba mengalihkan pandangannya dariku. Apa aku sudah berbuat salah padanya ya?”
Junho hyung menatapku lama. “Ka… Kau merasa seperti itu?” tanyanya heran. Aku mengangguk.
“Ne, tapi setiap kutanya ada apa dia bilang tidak ada apa-apa” jawabku. Junho hyung bangkit lalu menghela nafas.
“Wajar saja kalau dia menjawab seperti itu. Menurutku lebih baik kau pikirkan jawabannya sendiri dari pada kau bertanya langsung padanya” ujarnya pelan lalu pergi.
Aku kembali menatap keatas. Melihat gelapnya langit malam dengan taburan bintang diatasnya. Pikiranku kembali tertuju padanya. Seingatku dulu Junho hyung juga pernah bersikap seperti itu saat… Tunggu!! Jangan bilang kalau… Aaaarrgh!!! Itu tidak mungkin! Jinwoon tidak mungkin menyukaiku.
Hwang Chansung!! Cepat kembali ke alam sadarmu!! Kurasa otakmu mengalami kerusakan!
Dengan cepat aku bangkit dan kembali menuju apartemen. Aku ingin mandi. Menyegarkan pikiranku yang sudah mengalami kerusakan gara-gara berpikir dari tadi.

TBC
komen di wall grup ya~~ ^^

Tentang bbkoreafanfiction

this is just blog for fun :)
Pos ini dipublikasikan di Chapter. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s