FF Oneshoot Because You Loved Me

Annyeong saeng,onnie,chingu semua🙂
Saya kembali dengan FF Romantis One Shoot.
FF ini kembali terinspirasi dari lagu Celine Dion – Because You Loved Me.
Silahkan didownload kalau penasaran🙂
Aku : Shin Joo Seung / Joo
Lee Hyukjae : Eunhyuk / Hyuk
Silahkan dibaca🙂

——————————————————

Duniaku gelap. Duniaku sunyi. Hanya aku yang tahu bagaimana rasanya kesepian tanpa ada yang bisa aku andalkan. Tanpa ada yang bisa membantuku. Aku benar-benar tak bisa mengerti dan memahami apa yang terjadi dengan dunia luar. Aku kesepian. Aku sendiri. Aku tidak ingin sendiri, aku hanya ingin bisa berbaur dengan orang-orang yang aku kenal tapi mereka seakan-akan mengacuhkanku bahkan menganggapku tidak ada.

Aku bisu, tuli, dan penglihatanku tak sepenuhnya berfungsi. Mata kananku mengalami kecelakaan dan aku hanya bisa melihat menggunakan mata kiriku, itupun aku harus bersusah payah untuk melihat sesuatu. Itulah kenyataan yang harus aku hadapi. Ingin membenci kenyataan ini bahkan ingin protes kepada Tuhan kenapa harus aku yang diberikan hal seperti ini. Aku ingin normal dan aku ingin bisa seperti orang lain yang bisa berbicara juga melihat, aku juga ingin mendengar tapi itu semua tak bisa aku lakukan. Aku ingin teriak sekencang mungkin saat aku marah, aku ingin melihat bagaimana dunia, dan aku ingin mendengar bagaimana orang membicarakanku, aku ingin itu semua!

Tapi,semuanya itu bisa aku lalui. Awalnya, aku memang tidak bisa melewatinya bahkan aku ingin menyerah dan bunuh diri. Mungkin Tuhan mengetahui niat burukku dan dia mengirim malaikat padaku? Ya,malaikat. Bukan malaikat dalam arti sebenarnya tapi dia sudah aku anggap malaikat. Dia sangat membantuku melewati masa-masa sulit bahkan dia selalu memberiku semangat. Hanya semangat yang benar-benar aku butuhkan tapi dia memberikan lebih padaku. Dia memberikan cinta dan kasih sayang untukku. Dia adalah tunanganku, Lee Hyukjae atau biasa aku panggil dengan Hyuk oppa. Oppa yang sangat aku cintai dan sayangi. Oppa yang mencintaiku tulus tanpa syarat apapun bahkan di saat semua orang menentang hubungan kami tapi dia tetap mencintaiku.

Aku tidak mau mencintainya karena aku tidak mau melukainya. Aku sudah melukainya karena membiarkannya mencintai aku yang memiliki banyak kekurangan seperti ini. Namaku Shin Joo Seung, aku biasa dipanggil Joo. Oppa selalu memberikan hal-hal indah bagiku walaupun dia tahu kalau aku mungkin tidak bisa merasakannya tapi suatu saat dia pernah berkata padaku, “Chagiya, semua hal indah yang aku berikan padamu karena aku mencintaimu. Rasakanlah dengan hatimu karena akan lebih berarti bila kau merasakan dengan hatimu.” Merasakan dengan hatiku? Bagiku, aku ingin merasakan lebih dari sebuah hati dan perasaan.

Berbagai halangan dan rintangan kami hadapi bersama bahkan oppa selalu membelaku saat banyak orang memakiku. Oppa selalu mengatakan, “Berkacalah dulu pada dirimu sendiri baru kau bisa memaki orang lain.” Sungguh, saat itu aku ingin menangis dan membela oppa yang aku sayang. Tapi, aku tak bisa melihat bahkan melihat wajah tunanganku sendiri saja belum pernah. Aku hanya merasakannya lewat usapan tanganku di wajahnya. Setiap menyentuh wajahnya pasti aku membayangkan bahwa oppaku ini sangat tampan. Oppa, kau tampan kah? Seandainya aku bisa melihatmu oppa, aku akan memandang wajahmu dan tidak akan mengalihkan pandanganku, batin Joo dalam hati.

Joo dan Hyuk adalah sepasang kekasih dan mereka sudah menjalin hubungan selama hampir 2 tahun dan mereka berencana menikah tahun depan. Joo adalah seorang gadis yang memiliki kekurangan fisik, dia bisu, tuli, dan penglihatannya tak sepenuhnya berfungsi. Orang tua Joo sudah pergi meninggalkannya saat Joo masih duduk di kelas 2 SD. Joo harus berjuang sendiri bahkan dia selalu ditolak oleh orang-orang karena menurut mereka Joo akan menyusahkan saja. Hingga suatu saat, Joo pergi ke gereja sendiri dan berdoa pada Tuhan agar mengirimkan seseorang yang baik dan bisa menjaganya selamanya.

Setelah dari gereja, Joo selalu menunggu dan berharap apakah Tuhan akan mengabulkan doanya. Malam Natal, Joo merayakannya sendirian di gereja kemudian saat misa akan selesai, Joo bertabrakan dengan seseorang. Walaupun Joo tak bisa melihat secara normal tapi dia bisa tahu kalau yang ditabraknya adalah seorang namja. “Aduh. Kau tak apa-apa?” Joo tak bisa menjawab padahal sesungguhnya dia ingin menjawab. Joo menjawab menggunakan bahasa isyarat tapi Hyuk bingung bahkan berniat meninggalkan Joo. Kemudian, ada seorang pastur yang membantu menerjemahkan bahasa isyarat Joo, pastur itu berkata, “Maaf, saya tidak bisa berbicara. Saya bisu. Apakah kau tak apa-apa? Maaf, penglihatanku tak sepenuhnya normal.”
“Oh maaf,saya tidak tahu. Iya,aku tak apa-apa. Kau sendiri?” kata Hyuk pada Joo.
“Aku juga tak apa-apa. Maaf ya, kalau aku harus berbicara menggunakan bahasa isyarat dan terima kasih pastur sudah membantuku.”
“Sama-sama Joo.” Pastur itu menjawab pertanyaan Joo.
Selama hampir 15 menit Joo mengobrol dengan Hyuk dibantu oleh pastur yang menerjemahkan bahasa isyarat Joo. Hyuk yang semula ragu akan mengenal Joo ternyata berubah pikiran. Bagi Hyuk,walaupun Joo memiliki kekurangan tapi dia tak malu bahkan dia sepertinya baik sekali. Obrolan mereka pun harus disudahi karena Joo harus pamit pulang, Hyuk menawarkan untuk mengantar tapi Joo tak mau sebab Joo tak ingin Hyuk melihat bagaimana kehidupan Joo sebenarnya. “Joo, kenapa kau tak mau aku antar pulang? Aku takut kau pulang sendirian.” Joo menggelengkan kepala bahkan melepaskan genggaman tangan Hyuk. Hyuk benar-benar heran siapa gadis ini.

Hampir setiap minggu, mereka bertemu di gereja dan setiap minggu pun mereka mengobrol. Hyuk membawa kamus bahasa isyarat dan belajar bahasa isyarat demi Joo agar mereka bisa berkomunikasi dengan lancar. Joo terharu dengan apa yang sudah dilakukan oleh Hyuk karena selama ini belum pernah ada orang yang begitu peduli seperti Hyuk. Obrolan mereka pun membuat Joo tertarik dan mulai jatuh cinta dengan Hyuk tapi sedetik kemudian dia sadar bahwa dia memiliki kekurangan dan tak mungkin Hyuk mau menerimanya.

Tetapi, ternyata apa yang dirasakan oleh Joo mendapat tanggapan positif dari Hyuk. Hyuk mengucapkan kata cinta padanya dan memintanya menjadi chagiya, “Joo,saranghae. Kau mau menjadi chagiyaku?” Joo bingung dan kaget, dia takut kalau Hyuk akan mempermainkannya. “Joo, aku serius denganmu. Aku mencintaimu tulus bukan karena kasihan. Aku mencintai semua kekurangan dan kelebihanmu. Tuhan mengajarkan kita seperti itu kan?” Setelah Hyuk mengatakan itu, Joo menangis dan menganggukkan kepalanya. Hyuk langsung memeluk dan mencium keningnya. “Panggil aku oppa ya chagi? Walaupun kau tak bisa berbicara tapi aku bisa tahu kalau kau memanggilku oppa.” Oppa saranghae, batin Joo dalam hati.

Setahun hubungan mereka, Hyuk meminta pada Joo untuk menceritakan semua kisah hidupnya dari awal. Joo sebetulnya sangat keberatan karena dia malu. “Chagi, tolong ceritakan padaku siapa dirimu. Aku sudah mencintaimu dan menceritakan bagaimana keluargaku tapi keluargamu? Aku ingin melamarmu sayang, aku ingin mengenalkan kau pada orang tuaku.” Mengenalkan aku pada orang tua oppa? Astaga. Apa yang harus aku lakukan? Pikiran itu berkecamuk dalam otak Joo tapi tak mungkin dia harus menyembunyikan jati dirinya. Akhirnya Joo menceritakan siapa Joo dan bagaimana keluarganya dengan bahasa isyarat. Hyuk yang mendengar itu semua sangat kaget, dia tak menyangka bahwa calon tunangannya memiliki masa lalu yang sangat berat. Joo menceritakan itu semua dengan tabah dan tegar walaupun air matanya sudah hampir jatuh. Hyuk memeluknya sangat erat dan berkata, “Maaf chagi. Maafkan oppa, oppa tak ingin kau bersedih dan mengingat masa lalumu. Menangislah chagi, aku akan selalu ada untukmu. Aku tak akan meninggalkanmu.” Joo yang mendengar perkataan Hyuk hanya bisa menangis dan memeluk Hyuk, baginya Hyuk benar-benar orang yang tepat yang dikirim Tuhan untuk menjaganya.

Beberapa bulan setelahnya, Hyuk mengajak Joo untuk menemui orang tua Hyuk. Joo sangat galau dan takut kalau orang tua Hyuk tak mau menerimanya. Hyuk menenangkannya dan berkata, “Chagi, tenanglah. Aku sudah menceritakan tentangmu pada mereka dan mereka penasaran denganmu. Kau cantik sekali hari ini. Aku akan selalu berada di sampingmu.” Hyuk menggenggam tangan Joo dan merangkulnya. Saat memasuki rumah Hyuk, orang tua Hyuk menyambutnya dengan sangat ramah. “Hyuk, apakah ini Joo? Annyeong Joo. Apa kabar? Hyuk selalu bercerita tentangmu. Ayo silahkan masuk.”
“Ayah, ibu ini Joo. Dia gadis yang akan aku nikahi nanti. Joo kenalkan ini orang tuaku.”
Joo memberi salam dan menjabat tangan orang tua Hyuk. Joo mengobrol dengan orang tua Hyuk dengan bahasa isyarat. Ayah Hyuk bahkan mengerti dengan apa yang dimaksud Joo tanpa bantuan Hyuk. Joo sangat senang karena mereka bisa menerima Joo apa adanya bahkan Joo seakan-akan memiliki keluarga baru. Mereka semua mengobrol hingga malam dan Joo pun pamit pada orang tua Hyuk. Orang tua Hyuk menyuruh Joo untuk sering-sering mampir. Joo sangat berterima kasih pada Tuhan dan pada Hyuk karena sudah membuatnya bahagia.

Saat memasuki tahun kedua hubungan mereka, Hyuk melamar Joo. Hyuk mengajak Joo ke sebuah tempat di daerah Seoul kemudian Hyuk berlutut dan berkata, “Joo, aku mencintaimu. Aku menyayangimu dan aku tak mau kehilanganmu. Maukah kau menjadi istriku? Aku akan menjagamu selamanya dan aku tak akan membiarkan kau bersedih. Aku akan memberikan kebahagiaan padamu. Saranghae Joo.” Joo yang mengetahui bahwa Hyuk berlutut dan melamarnya, benar-benar tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh chagiyanya ini. Apakah ini mimpi? Apakah aku sedang berada di dunia imajinasiku? Joo memikirkan hal itu hingga dia bengong. Hyuk mencium bibir calon istrinya dan berkata, “Sayang, jangan melamun. Wajahmu lucu sekali saat melamun. Bagaimana Joo? Kau mau menjadi istriku kan?” Joo benar-benar tak percaya kalau Hyuk melamarnya. Akhirnya dia menganggukkan kepalanya dan memeluk Hyuk. Hyuk membalas pelukannya dan mencium bibir Joo lembut sekali setelah itu Hyuk memakaikan cincin di jari Joo.

Masa pertunangan mereka pun sangat indah bahkan hampir tak ada masalah sedikitpun. Hanya beberapa orang yang menentang hubungan Joo dan Hyuk tapi Hyuk selalu bisa membuktikan bahwa mereka tak akan terpisahkan. Sebelum pernikahan mereka, Hyuk selalu memberikan surprise kecil pada Joo begitu juga sebaliknya. Mereka adalah pasangan yang sangat romantis. Mereka memilih gaun pengantin bersama, memilih gedung untuk pernikahan bahkan memilih kue pernikahan bersama. Tetapi, beberapa hari menjelang pernikahan, Joo merasa sangat galau bahkan bingung apakah dia akan menikahi Hyuk atau tidak karena Joo tak ingin mengecewakan Hyuk.

Semakin mendekati hari pernikahan, hati Joo semakin takut dan khawatir. Dia benar-benar tak ingin mengecewkan Hyuk walaupun selama mereka berhubungan pun tak ada masalah tapi kenapa hatinya benar-benar takut untuk menikahi Hyuk? Joo pun datang ke gereja dan bertemu pastur. Joo mengungkapkan kegalauannya pada pastur. Pastur mengatakan bahwa Joo harus sangat siap saat akan menikah karena Tuhan tak ingin pernikahan dinodai oleh sebuah kebohongan dan perceraian. Joo memikirkan perkataan pastur bahkan saat bersama Hyuk pun, dia melamun hingga Hyuk berkata, “Chagi? Kau baik-baik saja? Ada apa denganmu?” Joo hanya terdiam kemudian dia berkata dalam hatinya, aku sudah siap dan aku akan menikahi oppaku tanpa sebuah penyesalan dan ketakutan. Sedetik kemudian, Joo langsung memeluk dan mencium bibir Hyuk hingga Hyuk kaget karena tak biasanya chagiyanya ini bertingkah seperti itu. “Chagi? Kau ini membuatku kaget. Terimakasih sayang. Kau tau kalau besok kita akan menikah? Aku benar-benar tak percaya kalau sebentar lagi kau akan menjadi istriku dan aku akan menjagamu selamanya. Aku tak akan meninggalkanmu dan aku akan memberikan kebahagiaan utuh padamu. Aku berjanji pada Tuhan bahwa Shin Joo Seung akan menjadi istriku selamanya dan aku akan menjaganya baik dalam suka maupun duka.” Hyuk tersenyum pada calon istrinya itu dan Joo membalasnya juga dengan menggenggam tangan Hyuk.

Tibalah hari pernikahan Hyuk dan Joo. Gereja dihias dengan sangat indah dan banyak bunga bertebaran di mana-mana. Joo mengenakan gaun pengantin yang sangat cantik sedangkan Hyuk mengenakan setelan jas yang sangat tampan. Joo pun memasuki gereja dan menuju altar diantar oleh ayah Hyuk. Sesampainya di altar, ayah Hyuk berkata pada anaknya, “Hyuk, jaga Joo ya? Ayah percaya padamu.”
“Baik ayah, aku akan menjaganya selamanya. Terima kasih ayah.”
Joo tersenyum pada calon ayahnya kemudian dia dituntun oleh Hyuk menuju altar untuk mengucap janji pernikahan di depan Tuhan dan pastur. “Lee Hyukjae, apakah kau bersedia menikah dengan Shin Joo Seung dan selalu bersamanya dalam suka maupun duka? Apakah kau akan mencintai dan menjaganya selamanya?”
“Saya berjanji pastur. Saya berjanji di hadapan Tuhan bahwa saya akan menikah dengan Shin Joo Seung dan menjaga serta mencintainya selamanya.”
“Shin Joo Seung, apakah kau bersedia menikah dengan Lee Hyukjae dan selalu bersamanya dalam suka maupun duka? Apakah kau akan mencintai dan menjaganya selamanya?”
Joo menganggukkan kepalanya.
“Baiklah, di hadapan Tuhan dan gereja, saya mensahkan pasangan ini sebagai suami istri. Silahkan mencium mempelai wanita.”
Hyuk pun mencium bibir istrinya lembut kemudian berkata, “Saranghae chagi. Sekarang kau istriku.”
Tepukan tangan memenuhi gereja dan lagu pernikahan pun mengalun mengiringi pengantin yang berbahagia.

Tiga bulan setelah pernikahan itu, kehidupan rumah tangga Joo dan Hyuk baik-baik saja. Tak pernah ada masalah sedikitpun bahkan mereka semakin saling mencintai dan menyayangi. Hingga suatu ketika, ada kabar dari sebuah RS kalau ada donor mata untuk Joo. Joo memang mendaftarkan diri di sebuah RS untuk mendapatkan donor mata agar Joo bisa melihat kembali secara normal. Joo yang mengetahui hal itu sangat gembira. Dia tidak sabar untuk bisa operasi dan bisa melihat wajah suaminya. Beberapa hari setelah kabar itu, Joo dioperasi. Hyuk menemani istrinya hingga sadar dan menunggu bagaimana reaksi istrinya itu. Menit demi menit berlalu dan berganti dengan jam kemudian dokter pun datang dan membuka perban yang membalut mata Joo. “Joo, apakah kau bisa melihat?” Beberapa detik setelah perban dibuka, Joo langsung tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Sekarang dunianya tak lagi gelap dan sekarang dia bisa melihat wajah suaminya untuk pertama kalinya. Hyuk pun memeluk istrinya, “Chagiya! Kau bisa melihat! Terima kasih Tuhan, terima kasih dokter!”

Aku bisa melihat dan aku bisa melihat wajah suamiku. Seseorang yang berjanji pada Tuhan untuk menjagaku selamanya. Saat dia sedang menemui dokter, aku pun istirahat di tempat tidur. Walaupun aku tak bisa bicara tapi aku ingin sekali mengungkapkan rasa terima kasihku pada suamiku. Aku menulis sebuah surat untuknya sambil menunggunya datang.

“Oppa. Aku bisa melihat! Oppa tahu kan kalau ini adalah impianku dan aku sangat bahagia.
Aku berterima kasih pada pendonor itu dan aku juga berterimakasih pada Tuhan karena telah mengirimkanmu untuk menjagaku.
Aku tak bisa mengucapkan kata-kata lain selain terima kasih padamu suamiku.
Cinta dan kasih sayang yang kau berikan padaku sudah sangat cukup.
Kau membelaku di saat orang lain memakiku dan kau menuntunku di saat aku butuh bantuan.
Oppa,kau adalah kekuatanku di saat aku lemah.
Kau adalah suaraku di saat aku tak bisa bicara.
kau adalah mataku di saat aku tak bisa melihat.
Kau melihat sesuatu yang indah dalam diriku di saat semua orang tidak perduli padaku.
Kau memberikan aku sayap sehingga aku bisa terbang.
Kau menyentuh tanganku sehingga aku bisa menyentuh langit.
Aku kehilangan kepercayaan diriku dan kau bisa mengembalikannya.
Aku memiliki cintamu dan aku akan selalu memilikinya.
Aku bersyukur karena di setiap hari, kau selalu bersamaku oppa.
Mungkin aku tidak tahu terlalu banyak tapi aku tahu bahwa itu semua nyata.
Kau tahu oppa, aku merasa diberkati oleh Tuhan karena kau mencintaiku dengan tulus.
Kau mencintai semua kekurangan dan kelebihanku.
Aku juga mencintaimu oppa.
Aku akan menjagamu oppa dan akan menyayangimu di setiap detik yang aku lewati bersamamu.
Saranghae oppa.
Kau adalah kebahagiaan bagiku.

Tanpa sadar, setelah menulis surat itu Joo tertidur. Saat Hyuk kembali ke dalam ruangannya, dia melihat istrinya tertidur dengan kertas dan pulpen. Sebuah surat yang seharusnya disampaikan oleh Joo pun langsung dibaca oleh suaminya. Hyuk menangis dan mencium kening istrinya. “Chagi, kau selamanya adalah kebahagiaan bagiku.”

Tentang bbkoreafanfiction

this is just blog for fun :)
Pos ini dipublikasikan di Oneshoot. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s