A Short Journey Part 1

balik lagi dengan saya… author sadis yang hobi banget nyiksa tokoh utama sendiri #ditendang
kali ini korbannya adalah YeWook couple. Akhirnya giliran mereka datang juga… #sujudsyukur
langsung aja ya… tapi seperti biasanya saya dibantu oleh istri *?* saya #dilemparae hohohoho
sip! Selamat menikmati~~😄

Author : Miftahul Rahmi, Ae Lee Dongae

Part 1

(Yesung POV)
“WOOKIE!!! MANA PSP-KU??” teriak Kibum dengan Bass-nya. Aku melirik Wookie yang sedang asyik mengerjakan tugasnya. Senyum jahil terlihat jelas diwajah manisnya.
“Wookie, kau menyembuyikan PSP-nya?” tanyaku. Wookie melirikku sekilas lalu meletakan telunjuknya di depan bibirnya sambil tersenyum.
Aku hanya menghela nafas. Sejak dulu aku tidak bisa menghentikan hobinya yang senag menjahili orang lain. Tapi ada satu hal yang menjadi pertanyaanku sejak dulu. Kenapa dia tidak pernah menjahiliku?
Aku kembali pada kegiatanku sebelumnya, mengutak-ati buku musikku sambil sesekali menyuap kripik kentang.
“Wookie!! Mana PSP-ku? Kau yang menyembunyikannya kan?” ujar Kibum kesal. Kini ia telah berada didepan Wookie sambil berkacak pinggang.
“Entahlah, aku tidak tahu. Aku sama sekali tidak menyembunyikannya” jawab Wookie dengan sangat tenang. Aku tak habis pikir, bagaimana dia bisa begitu tenang?
“Itu tidak mungkin!! Aku yakin pasti kau yang menyembuyikannya!!” ujar Kibum tidak percaya sekaligus keras kepala.
“Sudahlah Kibummie, dia sama sekali tidak bohong. Aku melihat PSP-mu terletak di kamar mandi tadi” ujarku menyelesaikan kerusuhan ini. Aku tidak mau ada keributan disini, bisa-bisa pekerjaanku tidak selesai-selesai.
“HUWAA PSP-KU!!” Kibum pun langsung berlari menuju tempat benda kesayangannya itu.
“Hyung bagaimana kau tahu?” tanya Wookie bingung.
Aku menatapnya lalu tersenyum. “Menurutmu bagaimana?” tanyaku balik. Tentu saja karena aku melihatnya meletakkan benda itu. Kau sama sekali tidak sadar ya?
Ia menatapku bingung. Ku akui dia terlihat sangat polos sekali kalau seperti itu. Sejenak aku terpana padanya. Bagaimana mungkin si biang jahil seperti dia bisa menjadi anak yang sangat polos seperti ini? Aku benar-benar tidak megerti. Sejak dulu.
Secepat mungkin aku singkirkan pikiran-pikiran itu dari benakku. Aku membereskan buku-bukuku dan segera masuk ke dalam kamarku. Kurasa aku harus memeriksakan diriku ke dokter. Mungkin ada yang salah dengan jantungku. Akhir-akhir ini selalu berdetak lebih cepat dari biasanya.

***
(Ryeowook POV)
Yesung hyung aneh. Kenapa akhir-akhir ini dia sering sekali pergi setiap aku sedang bicara dengannya? Apa ada yang salah dengan sikapku?
“KAMI PULAAANG” terdengar suara Umma dan Appa. Akhirnya mereka pulang juga….
“Umma~~” seruku senang sambil berlari memeluk Umma.
“Wookie, kau ini manja sekali ya…” ujar Appa cemberut
“Jagiya, jangan bilang begitu. Tidak harusnya kau cemburu pada anakmu sendiri” ujar umma lembut. Appa hanya tersenyum kecil.
Ini lah keluargaku. Ayahku bernama Kim Youngwoon tapi lebih sering dipanggil Kangin oleh teman-temannya. Meskipun appa terlihat keras sebenarnyya appa orang yang sangat lembut. Lalu Umma, nama lengkapnya Park Jungsoo. Sama dengan appa, umma biasa dipanggil Eeteuk oleh teman-temannya. Aneh sekali. Aku, Kim Ryeowook, biasa dipanggil Wookie. Aku juga punya kembaran, namanya Kim Kibum. Meskipun kami kemabar tapi kami sama sekali tidak mirip. Terakhir kakak laki-lakiku. Namanya Kim Jongwoon namun lebih sering dipanggil Yesung karena suaranya yang super duper bagus. Yesung hyung lebih tua 3 tahun dari aku dan Kibum.
“Appa, Wookie menyembuyikan barang-barangku lagi…” adu Kibum pada Appa. Kulihat Appa hanya terseyum sambil mengacak-acak rambut Kibum.
“Sudahlah Kibummie, kau sudah tahu kalau itu kebiasaannya kan? Jadi pintar-pintarlah menyembunyikan barang-barangmu ditempat yang akan susah dilacak oleh hyungmu ini” ujar umma sambil mengacak-acak rambutku. Tentu saja Umma dan Appa sudah menganggap hal itu hal yang wajar, soalnya dulu Appa dan Umma juga sering menjadi korban kejahilanku.
“tapi kenapa selalu aku? Aku tidak pernah melihat Wookie menjahili Yesung hyung” ujar Kibum sambil memajukan bibirnya karena kesal.
Aku berpikir sejenak. “Karena Yesung hyung itu aneh, aku tidak bisa menemukan kelemahannya” ujarku.
“Kau ini!! Kenapa bisa tidak tahu? Yesung hyung itu kan selalu dekat dengan Ddangkkoma. Sembunyikan saja kuru-kura itu!!” ujar Kibum lalu pergi. Appa dan Umma manggut-manggut, sepertinya mereka setuju dengan perkataan Kibum tadi.
Tapi setelah kupikir-pikir itu benar juga. Sebenarnya dari dulu aku sangat ingin mengerjai Yesung hyung, tapi entah kenapa aku selalu tidak bisa melakukannya sekalipun.

***
(Yesung POV)
Ya, memikirkan kata-kata Kibum barusan membuatku berpikir. Kenapa selalu Kibum dan tidak pernah aku? Apakah dia sungkan mempermainkan hyungnya sendiri? Ah, itu tidak mungkin karena dia sudah pernah mempermainkan Umma dan Appa dan berakhir dengan kemenangan telak. Meski Appa suka jengkel.
Aku menatap diriku di dalam cermin.
Atau karena aku sudah begitu aneh, sehingga ia menyadari tidak ada satupun cara untuk menjahili aku? Tapi, aku yakin Wookie adalah orang yang pintar. Dia tidak mungkin kehabisan akal untuk menjahili siapa pun. Aku jadi merasa heran sendiri. Yha, Yesung, kau terlalu banyak berpikir. Sudahlah.
Namun entah mengapa aku jadi ingat saat Wookie menjahili anak tetangga si Sungmin dengan menyembunyikan sepatu kelinci merah mudanya di atas genteng. Lalu Heechul hyung, anak salon seberang sana, yang dijahili dengan menukar obat wajahnya dengan salep gatal. Begitulah Wookie, dia tidak pernah habis akal untuk menjahili orang lain. Ah, ada lagi si Eunhyuk, teman sekelasnya, yang dijahili dengan menggemboskan ban sepedanya saat dia mau pulang sekolah kemarin dulu. Memang anak itu jahilnya luar biasa. Kawan mainnya adalah si Kyuhyun, anak tukang rental PS, yang juga temannya Kibum.
Tapi entah mengapa, mengingat segala kejahilannya itu aku tidak marah. Sebagai hyung yang baik seharusnya aku menegurnya. Namun , jika dia tidak jahil, maka sesuatu pasti terjadi padanya.
Aku menatap Ddangkkoma peliharaanku yang lucu namun membosankan. Mungkin karena itu juga aku jadi sedikit membosankan. Umma dan Appa sering memperingatkan aku untuk tidak membeli lagi kura-kura, merusak cita rasa rumah tangga, dalih mereka. Namun apa hubungannya? Aku tidak peduli. Satu-satunya yang membuatku nyaman hingga saat ini adalah bicara dengan kura-kura air tawar itu.
Kuhampiri akuarium Kkoma, duduk di kursi belajarku, dan kuletakkan kepalaku di atas kedua tanganku yang melipat.
“Hei,” kataku mulai gila. Kkoma mengangkat kepalanya dengan pelan, seperti biasanya, dia seperti tahu aku sedang bicara dengannya.
“Kau tahu, Kkoma,” kataku lagi. “Belakangan ini aku begitu tidak tenang. Jantungku selalu berpacu cepat. Dag Dig Dug. Entah kenapa. Mungkin aku stress. Kau tahu, kan? Sebentar lagi ujian dan aku harus belajar keras. Meski Umma dan Appa tidak pernah memaksaku untuk menjadi yang terbaik, namun aku ingin menjadi yang terbaik. Ya, mungkin karena itu.”
“Hari ini Kibum kena lagi. Entah mengapa Wookie kalau sedang tidak ada kerjaan hanya akan menjahili Kibum. Padahal aku akan lebih senang jika sesekali dia menjahiliku juga. Menyembunyikanmu misalnya,” kataku. Kkoma merangkak pergi, kurasa dia marah.
“Yha, aku cuma bercanda. Wookie tidak akan melakukan itu,” ujarku. Kkoma mulai memakan dedaunan yang tersedia baginya.
“Kau mengacuhkan aku?” tanyaku sambil mengetuk-ngetuk dinding akuarium dengan jariku. “Kkoma. Hei, Kkoma.”
Sial. Kura-kura air tawar itu mengacuhkan aku dan tetap menyantap makanannya. Menyebalkan sekali. Aku pun mendengus.
“Arasso,” keluhku sedikit jengkel.
Aku membenarkan posisi dudukku dan menatap tumpukan buku di meja belajarku. Mungkin jika aku belajar, jantungku akan rileks. Mungkin jika aku belajar, aku akan lebih terhibur. Dan mungkin jika aku belajar, Umma dan Appa bisa melihat aku menjadi nomer satu nanti.

***
(Kibum POV)
Dasar menyebalkan!! Aku lagi, aku lagi! Kenapa selalu aku yang kena sih? Kenapa Wookie tidak menjahili Yesung hyung saja?
“Padahal aku akan lebih senang jika sesekali dia menjahiliku juga. Menyembunyikanmu misalnya”
Tiba-tiba saja aku mendengar perkataan Yesung hyung saat melewati kamarnya. Aku yakin Yesung hyung pasti berbicara pada Ddangkkoma lagi, tapi karena penasaran dari celah pintu yang terbuka.
“Yha! Aku cuma bercanda. Wookie tidak akan melakukan hal itu” ujarnya lucu.
Aku menahan tawaku. Benar-benar orang yang aneh, padahal dia pernah bilang kalau Ddangkkoma itu membosankan tapi dia malah bicara pada kura-kura yang ukurannya bahkan lebih kecil dari ukuran tangannya.
“Kau mengacuhkan aku? Hei kkoma!” ujarnya sambil mengetuk-ngetuk aquarium Ddangkkoma.
Aku memegang perutku yang sakit karena menahan tawa. Baru kali ini aku melihat seekor kura-kura mengacuhkan majikannya. Hyung, meskipun kau aneh kau itu sangat bisa membuatku terhibur. Rasa kesalku karna habis dikerjai oleh Wookie tadi langsung menguap begitu saja.
Aku mencoba menenangkan tawaku. Aku kembali mengintip ke dalam kamar Yesung hyung. Dia sepertinya sedang belajar, tapi apa dengan aura stress begitu? Aku tanya saja ah!
“Yesung hyung” panggilku.
Yesung hyung menoleh. “Kibum-ah, ada apa?” tanyannya seraya memutar kursinya menatapku.
“Aniyo, hanya ingin bertanya sesuatu” jawabku.
“Apa?”
“Apa hyung selalu belajar kalau sedang stress?” tanyaku asal.
“Aku? Aku sama sekali tidak stress kok, hanya sedikit tidak tenang saja” jawabnya.
Aku mengernyitkan dahiku. “Tidak tenang? Waeyo?” tanyaku heran.
“Entahlah, jantungku selalu berdetak kencang. Aku tidak tahu kenapa. Semoga saja itu bukan gara-gara stress” jawabnya.
Aku benar-benar kaget mendengar jawabannya. Rasa ingin tahuku benar-benar memaksaku untuk bertanya lebih jauh. Ada hal-hal yang selama ini sebenarnya sangat ganjal yang kuperhatikan.
“Apa gara-gara Wookie?” tanyaku pelan tapi aku yakin Yesung hyung pasti mendengarnya.
“Maksudmu apa Kibum-ah?” tanyanya. Kaget dan bingung sangat terlihat jelas diwajahnya. Apa mungkin dugaanku selama ini benar?

***
(Author POV)
Kibum menatap Yesung yang terdiam bingung.
“Gara-gara Wookie bagaimana maksudmu?” tanya Yesung. Dia benar-benar bingung dengan pertanyaan sang bungsu itu. Kibum menyipitkan matanya, menambah konsentrasinya membaca ekspresi Yesung.
“Benar-benar tidak tahu, ya?” keluhnya sedikit kecewa. Ia berharap Yesung akan kelabakan dan mengakui kalau selama ini apa yang dipikirkannya ternyata benar. Pikiran bahwa Yesung memiliki ketertarikan terhadap Wookie, namun ia cepat-cepat mengibaskan pikirannya.
“Kau ini kenapa?” tanya Yesung. “Aneh sekali.”
Kibum menghela nafas dan berjalan pergi. “Sudahlah, hyung, beritahu aku kalau kau sudah mengerti maksudku,” katanya sambil lalu.
Yesung terdiam di tempatnya, lalu menerawang, memikirkan kata-kata Kibum barusan. Gara-gara Wookie? Apa maksudnya gara-gara dia tidak menjahiliku? batinnya. Yesung menghela nafas, lalu kembali menatap bukunya. Menatap soal mengenai geometri dan rumus bangun. Ia mengangkat tangannya, namun kemudian terhenti.
“Tunggu sebentar…” desisnya. “Aku tahu soal ini..”
Ia menepuk-nepuk kepalanya dengan tinju yang setengah terkepal. “Yha! Kenapa aku tidak ingat?!”
Akhirnya, setelah beberapa saat berusaha untuk mengingat, hasilnya pun nihil. Yesung tidak bisa mengingat rumus untuk soal itu. Ia menyerah, dan mencari soal lain yang menurutnya lebih mudah dikerjakan. Ia menatap soal mengenai bangun tiga dimensi, topik yang tidak terlalu disukainya, namun masih paham dikerjakannya. Ia kembali mengangkat tangannya, namun ingatannya kabur.
“Aish! Yesung! Kenapa kau mendadak bodoh?!” gurutunya sambil terus memaksakan dirinya untuk berpikir. “Ingat! Ingat! Kau pasti bisa mengingatnya!”
Namun kemudian Yesung tersadar dari pikirannya, ketika darah mengalir dari hidungnya. Ia merutuk. Kemudian menarik lima helai tissue dan menekan hidungnya. Ia bangkit dan berjalan keluar. Hampir saja ia menubruk tubuh Ryeowook yang kecil dan menjungkalkannya.
“Hyung,” panggil Ryeowook begitu tersadar dari rasa terkejutnya. “Kau kenapa?”
“Oh?” sahut Yesung. Ia menatap wajah Ryeowook yang khawatir. “Gwaenchana. Aku hanya mimisan.”
“Benar tidak apa-apa?” tanya Ryeowook meyakinkan. Yesung tertawa pelan.
“Gwaenchana, sejak kapan kau jadi cerewet begini sih, Wook?” tanya Yesung sambil berjalan pergi.
“Hyung!” panggil Ryeowook lagi. Yesung menoleh dengan cepat.
“Hnn?” sahutnya.
“Kau mau kemana?” tanya Ryeowook bingung. Yesung tertawa heran.
“Tentu saja ke kamar mandi,” sahutnya. “Bagaimana sih kau ini?”
Ryeowook terdiam sejenak, ia meminggirkan tubuhnya dan menunjuk ke arah yang berlawanan dari arah yang dituju oleh Yesung. “Tapi…”
“Kenapa?”
“Tapi kamar mandi di sebelah sana dan kau menuju dapur,” kata Ryeowook terheran-heran. Yesung terdiam, lalu tertawa.
“Tentu saja aku tahu, bodoh,” kekehnya. “Aku baru akan ke sana setelah aku mengambil minum.”
Ryeowook menatap punggung Yesung ketika ia berlalu menuju kamar mandi. Ia menatap hyung-nya itu dengan keheranan.
“Apa yang terjadi padanya?” bisik Ryeowook. “Tidak biasanya dia linglung seperti itu.”
Ia menghela nafas. “Sudahlah. Lebih baik sekarang aku memikirkan cara untuk menjahili orang lagi,” kekehnya sambil lalu.
Yesung menutup pintu kamar mandi, dan menghela nafas. “Apa yang terjadi padaku?” bisiknya putus asa.

TBC alias to be continued
komen di wall grup ya

Tentang bbkoreafanfiction

this is just blog for fun :)
Pos ini dipublikasikan di Chapter. Tandai permalink.

Satu Balasan ke A Short Journey Part 1

  1. Park Haerin berkata:

    Aish kereeeeen ><
    tp kashn oppa yesungie kena leukimia y??
    *soktau mode on*
    pkokny lanjtn dtunggu author😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s