Ur Smile

Na Young Mi >> Rahmi **yesung**
Park Hae In >> Diie **dungi**
Shin Hyeo Rin >> Fenty **wooki**
Chai Sang Ki >> Gita *Yonghwa**
Kin Hyun Yha >> Yha **hyun jung**
Kim Min Hyo >> Umu ** kyuhyuh**

Jung Yong Hwa >> Shin Woo
Park Cheon Dung >> Thunder
Kim Hyung Joong >> Ji Hoo
Kim Jong Woon >> Yesung
Kim Ryeowook >> Wookie
Cho Kyuhyun >> Kyu

cameo
Dongho >> Ukiss
Jung Soo >> Super Junior
Hyung Sik >> F.Cuz

**

Shin Woo POV
Malam ini aku kembali mengingatnya, mengingat bagaimana sorot matanya yang serius saat membaca, bagaimana senyumnya saat menemukan hal yang lucu, dan bagaimana pertama kali aku bertemu dengannya. Kejadian yang mungkin hanya terjadi sekali dalam hidupku, karena ketidaksengajaanku saat itu.

-2 week ago-
Aku sedang merapikan beberapa buku baru di salah satu rak di toko bukuku, “Shin Woo, letakkan buku ini di rak no 15!!!” teriak omma ketika aku baru saja duduk, “Ne~” jawabku malas dan mengambil beberapa tumpuk buku. Saking tingginya, aku hanya bisa melihat dari celah kecil yang membatasi pandanganku. “Hooaa~~~, aku benci hari minggu,” keluhku pelan dan terus berjalan, namun tiba-tiba peganganku kendur dan aku menjatuhkan semua buku di depan seorang pelanggan.

“Wah, mianhamnida. Anda tidak apa-apa?” tanyaku pada yeoja yang sekarang sedang menggosok kakinya yang tertimpa beberapa tumpuk buku, gadis berkacamata, berambut panjang, dan memiliki senyum yang manis. “Agassi, gwenchanayo? Apa ada yang sakit?” tanyaku dan membantunya berdiri, “Hem, kamu tidak apa-apa?” tanyanya balik dan mengambil beberapa buku, “Maaf, saya yang terlalu teledor, silahkan lanjutkan memilih buku.” ku ambil buku yang terjatuh dan menuju rak no 15.
-end-

‘Ah~~ andai saja waktu itu aku menanyakan namanya, aku tidak akan seperti ini.’ batinku dan melihat foto di ponselku, ya foto gadis itu yang berhasil ku ambil saat dia sedang membaca di tokoku. “Sedang apa kau penguntit? Kalau hanya berkhayal dan melihatnya dari jauh, kamu tidak akan bisa mengenalnya,” tegur Yesung mengagetkanku. “Yaa~~ bisa tidak ketuk pintu dulu?” Yesung hanya tertawa dan duduk di tempat tidurku.

“Mwo?” tanyaku saat dia melihatku heran, “Kau mau datang ke pertandingan dengan piayama beruangmu ini?” pertandingan? Memang hari ini ada pertandingan apa? “Hari ini Kyu dan Ji Hoo hyung ada balapan. Pallie!!!” katanya dan menarikku keluar kamar, “Ya!!! Aku ganti baju dulu!!”
end

Thunder POV
“AH!!!! Kenapa bisa kalah lagi sih!!! Ahhh!!!!” teriak Wookie hyung sambil melempar bola basket dengan kesal, “Sudahlah hyung, kita bisa bertanding lagi, bukankah lusa ada pertandingan lagi?.” kataku sambil bertanya pada Dongho, “Lusa? Lalu besok kita makan apa!? Uangku sudah habis untuk membayar kekalahan kita tadi!!!” bentaknya lagi, huff memang bukan salah hyung jika dia marah-marah seperti sekarang, 50.000 won hilang begitu saja dalam 10 menit.

“Hyung mungkin kita bisa melawan basket jalanan di Heukseok dok, ku dengar lusa mereka akan mengadakan pertandingan dengan uang taruhan 500.000 won.” kata Dongho beberapa menit kemudian, “Heukseok dok? 500.000 won? Apa mereka gila? Mereka hanya atlit kelas udang, bagaimana mungkin mereka berani melakukan taruhan sebesar itu?” tanya hyung tidak percaya, dan kami hanya bisa mengangkat bahu.

“Geumanhae, kalau begitu kalian pulanglah. Besok kalian masih harus sekolah kan? Kajja Thunder.” kami segera membubarkan diri dan menuju motor masing-masing. Ya, aku dan Wookie hyung adalah atlit basket jalanan, dari sinilah kami hidup. Mengandalkan skill kami untuk memenangkan uang taruhan, kehidupan malam yang menyenangkan untukku. “Thunder, besok kita akan menambah jam latihan kita, hyung ingin sekali melawan basket jalan di Heukseok dok.” katanya sambil memberikan helm padaku. “Ne hyung.”
end

>>

10.35 pm
-arena balapan-
Keempat remaja kini sudah menduduki dua motor sport mereka dengan senyuman kemenangan, “Aku tidak menyangka kita menang mudah, bodoh sekali mereka menantang kita.” ucap Ji Hoo pada ke tiga dongsaengnya, “Benar hyung, ku kira mereka satu level di bawah kita, ternyata mereka masih anak – anak yang baru bisa menaiki motor,” balas namja berkacamata, Kyu. “Hyung, kalian memang hebat. Andai aku bisa ikut bertanding dengan kalian,” Yesung mengalungkan tangannya ke leher Shin Woo yang tertunduk, “Jangan bicara seperti itu, yang terpenting adalah sekolahmu dan Kyu.” katanya menenangkan.

“Yesung benar, jadi kita akan makan dimana?” tanya Kyu sambil mengibas-ngibaskan uang yang berhasil mereka menangkan, “Bagaimana kalau……”
“Apa secepat itu kalian akan merayakan kebodohan kalian?” kata suara dari belakang mereka. Ji Hoo tersenyum ketika melihat musuh bebuyutannya, Jung Soo, “Jadi kau ingin bertanding, Jung Soo?” tantanganya dengan nada tenang, “Berani berapa? Kami bukan pembalap kelas kucing seperti lawan kalian tadi,” kata Jung Soo semakin menantang, “1,5 juta won. Itu harga yang pantas ku kira.” jawab Ji Hoo yang berhasil membuat Kyu, Yesung dan Shin Woo melongo, “Ok deal.”

Kyu POV
“Hyung, apa jumlah itu tidak terlalu besar?” tanyaku saat Ji Hoo hyung sedang memanaskan mesin motornya, “Hei, kita ini bukan orang susah. Kekayaan appa tidak akan habis jika kita kehilangan 1,5 juta won. Sudah siapkan motormu, jangan sampai membuat jarak yang terlalu jauh.” jawabnya dan aku segera menuju arena balapan.

Motorku sudah sejajar dengan motor Hyung Sik yang tak lain adalah anak buah Jung Soo, “Apa kabarmu Kyu? Ku harap kau baik-baik saja.” sapanya dengan nada kebencian, “Kabarku? Kita lihat saja nanti.” jawabku sambil menutup kaca helmku dan memainkan gas, Yesung hyung berdiri di antara kami dan melambaikan dua bendera, “Kalian siap?” ku acungkan jempolku dan memantapkan posisiku, begitu juga Hyung Sik.

“Set…. Dul…. Hana….” kurasakan hentakan keras dan motorku mulai melaju kencang, kami saling susul menyusul, terdengar suara teriakan dari beberapa orang yang menonton kami, entah mereka mendukungku atau Hyung Sik. “Rasakan ini!!!” teriak Hyung Sik saat menendang body motorku, sesaat keseimbanganku hilang dan ku rem motorku mendadak, “Sia**an!!! Awas kau!!!” lagi-lagi ku gas motorku kencang dan berhasil mensejajarkan posisiku dengannya.

Kami kembali saling menyusul dengan jarak yang cukup dekat, ‘Sepertinya dia sungguh-sungguh kali ini’ batinku saat melihat raut wajahnya dari kaca helmnya yang transparan. Entah berapa lama kami saling menyusul, akhirnya dapat ku lihat lampu motor Ji Hoo hyung dan sorakan semakin keras, ku tambah kecepatan motorku dan berhasil membuat jarak yang cukup jauh.
end

Ji Hoo POV
Itu dia, warna hijau lampu motor Kyu sudah terlihat. Ku mainkan gasku dan memandang Jung Soo, “Sampai jumpa di garis finish.” kataku sebelum ku tinggalkan garis start. ‘Aku tidak boleh lengah.’ batinku sambil sesekali melihat ke kaca spion. Ah itu dia, Jung Soo dengan cepat sudah sejajar denganku, “Siapkan uangmu, pecundang!!” teriaknya dan mendahuluiku, “Kecepatan apa itu? Aku tidak boleh kalah.” dan segera ku tarik gas motorku dalam-dalam.

Tik tik tik dressss… hujan mulai membasahi kaca helmku, kesempatan bagus. Ku rapatkan tubuhku ke body motor dan menarik gas dalam, kami sejajar. “Sepertinya ini hari keberuntunganku, Park Jung Soo!!!” kataku dan mendahuluinya, ku perhatikan Jung Soo semakin melambat, ya dia memang lemah di jalan licin. Dengan sedikit mengurangi kecepatan, dapat ku lihat garis finish yang sekarang sudah membentang, ku angkat kedua tangaku dan dapat kurasakan deraan angin menerpa wajahku, kemenangan sudah di tangan.
end

Kyu, Yesung dan Shin Woo segera mendekati Ji Hoo yang baru saja turun dari motornya, “Chuka hyung!! Kemenangan kedua hari ini.” Yesung segera mendekati Hyung Sik dengan maksud meminta uang taruhan, tak lama Jung Soo datang dengan keringat yang bercampur dengan air hujan. Setelah menerima uang, Yesung segera naik ke motor Ji Hoo dan segera meninggalkan arena, Kyu menjalankan motornya pelan. Tiba-tiba dia mengerem dan membuat Shin Woo menabrak punggungnya.

“Waeyo Kyu?” tanya Shin Woo khawatir, “Chakaman hyung, ada yang terlupa.” Kyu membalik motornya dan mendekati Hyung Sik yang memandangnya heran, “Aku lupa menjawab pertanyaanmu, Hyung Sik. Kabarku kali ini sangat baik.” kata Kyu sebelum kembali menyusul Ji Hoo.

**

-Kyung Hee Univ-
Yesung POV
“Oppa,, oppa,, oppa!!!!!” teriakan Young Mi berhasil membangunkanku dari tidur siangku, “Aih Young Mi~~ tidak bisa apa kamu membiarkanku tidur sebentar?” omelku sambil duduk di sampingnya, “Bagaimana bisa aku membiarkanmu tidur, dari tadi ponselmu berbunyi,” jawabnya sambil memberikan ponselku, “Hanya karena ini kau…..” ucapanku terhenti saat melihat pesan yang terpampang di layar ponselku, “Apa-apaan ini?”

Aku memiliki info yang kau butuhkan, temui aku dengan membawa uang 500.000.000 won di gang kecil dekat Kyung Hee. Datanglah seorang diri dan jangan berani-berani memberi tahu orang lain, atau bukan hanya ibumu yang celaka, tapi gadis di sampingmu pun akan merasakan hal yang sama.

“Nugu?” tanya Young Mi khawatir, aku menggeleng dan bangun menuju kelas, “Oppa~ siapa yang mengirim pesan itu? Apa yang dia maksud? Apa yang kamu lakukan, oppa?” tanyanya khawatir, “Mianhae jagi, aku tidak bisa menceritakannya padamu. Dan ku mohon rahasiakan ini dari Ji Hoo hyung dan yang lain. Aku tidak mau mereka khawatir.” lagi-lagi Young Mi menahanku, “Jagi~~”

“Arasso oppa. Keunde, pastikan kau baik-baik saja oppa,” aku sempat terkejut mendengar ucapannya, ku raih tubuhnya dalam pelukanku, “Gomawo jagi untuk selalu percaya padaku, aku janji aku akan baik-baik saja. Dan jika ini semua sudah selesai aku akan menceritakan semuanya padamu.” Young Mi mengangguk dan membalas pelukanku, “Yakso?” ku usap lembut rambutnya, “Nan yakso, jagi”
end

-Sinwa Senior High School-
Kyu side
Siang itu Kyu sedang bergelut dengan berbagai buku di depannya, berbagai rumus yang di lihatnya di tulis dengan cepat di sebuah buku catatan miliknya. Matanya hanya tertuju pada dua buku di depannya, walau sesekali dia melihat ke arah seorang yeoja yang sedang memainkan dua beberapa cairan di depannya. BOOM!!!!! sebuah apsa kecil berhasil tercipta dari botol reaksi yang baru saja di masukkan larutan berwarna biru tua itu.

Kyu sedikit tertawa dan kembali melihat ke arah rumus yang siap untuk dipindahkan, “Hyo~ seharusnya kamu masukkan larutan yang ini dulu,” kata seorang temannya sambil menunjukkan larutan yang tak di kenali oleh Kyu, “Hehehe, mianhae.”jawabnya dengan wajah yang sedikit hitam karena terkena asap kecil itu. Kyu mengangkat wajahnya, merenggangkan otot – otot tangannya, melepas kacamatanya dan memijat pelan leher bagian belakangannya.

“Kau lelah Kyu?” tanya Thunder dari balik komik Shinchan yang baru saja di bacanya, “Hem, aku butuh hiburan. Bagaimana kalau kita ke lab komputer sekarang, aku rasa kita….”
“Hyo, mau kemana?” tanya teman Min Hyo saat gadis itu sudah ada di ambang pintu, “Kamar mandi. Wae?” temannya menggeleng dan kembali pada botol larutannya. “Kajja Kyu,” Thunder yang sudah berdiri kembali duduk karena Kyu sengaja mendorongnya ke tempat duduk. “Diamlah, aku akan ke kamar mandi.” ucapnya dan segera berlari keluar kelas.

‘Min Hyo~ kenapa lama sekali~~’ batin Kyu kesal yang sekarang jalan mondar-mandir di depan wc perempuan, “Ya! Sedang apa kamu? Mau mengintip ya?” kata Hae In yang datang bersama Hyun Yha, “Hae In ah~ kalau kamu masuk suruh Min Hyo keluar ya, ada tugas Boram ssaem yang tidak aku mengerti,” bohongnya yang di balas anggukan Hae In. Tak lama Min Hyo keluar sambil mengelap wajahnya yang basah.

“Kenapa tidak menunggu aku kembali ke kelas?” tanya Min Hyo begitu sampai di depan Kyu, “Em…. aku…..” Min Hyo menunggu Kyu menyelesaikan kata-katanya, “Ne?” tanya Min Hyo lagi, “Maukan mengajariku pelajaran kimia? Aku lemah sekali di pelajaran itu.” katanya kemudian, dahi Min Hyo yang setengah tertutup poni itu mengkerut tanda dia sedang bingung, “Bukankah di ulangan kemarin nilaimu paling tinggi?” Kyu menggeleng cepat, “Ani, mungkin itu nilai Thunder. Eottoke?” Min Hyo tampak heran dan sedikit berfikir, “Hyo ah~~~” Kyu mennyatukan ke dua tangannya, dan Min Hyo mengangguk.

>>

Sore itu, Wookie berjalan di salah satu gang kecil dengan sesekali mendrible bola basket dan sedikit memainkannya di antara ke dua kakinya. “Ya!!! Siapa kalian??” terdengar suara yeoja berteriak dari ujung gang, dengan sedikit berjinjit Wookie berjalan menuju ujung gang dan mengintip. “Kami hanya ingin barang yang kau bawa, atau mungkin kamu ingin memberikan bonus dengan tubuhmu?” kata namja berotot besar sambil mengelus pipi yeoja berambut sebahu itu.

‘Mereka lagi, kenapa sih belum kapok-kapok?’ Wookie berdiri tegap, melempar – lempar kecil bola basketnya dan dengan satu gerakan saja bola basket itu sudah mantul dengan keras di kepala namja berotot besar itu, “Ya!!!! Siapa yang……” Wookie mengambil bolanya dan memandang namja itu dengan tatapan meremehkan, “Wae? Lanjutkan kalimatmu tadi.” katanya seolah menantang, salah satu dari mereka mendekati namja berotot tadi dan berbisik. “Oh, jadi kamu yang bernama Wookie?” tanyanya sambil mendekati Wookie, ‘Aigoo~ kenapa dia tinggi sekali?’ batin Wookie sambil sedikit mengadah.

“Ne, wae?” namja itu meraik kerah baju Wookie dan sedikit menangkapnya, “Banyak yang bilang kau adalah orang yang di takuti di sini,” namja itu sedikit tertawa, “Maksudku dengan tubuh sekecil ini? Bagaimana….” dengan sedikit meloto namja itu melepaskan pegangannya dan mundur beberapa langkah, “Wae? Memangnya kenapa jika aku kecil? Bahkan adikmu yang besar itu tidak kuat menerima tendanganku bukan?” ejeknya sambil melempar bolanya ke wajah namja berotot dan mendekatinya. “Aku di takuti karena aku tidak akan segan-segan menyerang setiap kelemahan orang bertubuh besar sepertimu.” katanya sambil menendang perut namja tadi dan menarik tangan yeoja yang dari tadi hanya terdiam melihatnya.

Hyeo Rin pov
Aku tidak tau harus bagaimana, dia sangat sombong dengan setiap ucapan yang keluar dari mulutnya, tapi dia sangat lucu karena berani menendang adik kecil namja tadi. “Apa kamu hanya akan tersenyum dan tidak mengucapkan sepatah katapun?” katanya mengagetkanku dari lamunan kecilku, “Eh?” namja itu melepas tangannya yang dari tadi menggandeng tanganku, “Jangan lagi lewat jalan ini lebih dari jam 19.30 kalau kamu tidak mau di hadang preman kampung seperti mereka.” katanya lagi dan meninggalkanku.

“Eh?? Chakaman, aku….”
“Namaku Wookie,” katanya sambil terus berjalan. Bagaimana dia bisa tau kalau aku ingin menanyakan namanya? Apa dia sering menghadapi hal tadi? “Segeralah pulang sebelum mereka kembali!!!!” teriak Wookie dari jarak yang cukup jauh dariku. Bodohnya aku mengangguk dan pergi sambil tersenyum tak jelas. Dan kenapa dadaku berdebas seperti ini? Ku kencangkan resleting jaketku dan pergi menuju jalan terbuka.
end

Tentang bbkoreafanfiction

this is just blog for fun :)
Pos ini dipublikasikan di Oneshoot. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s