Super Junior “Love Story” >>uri Shin oppa<<

annyeong!!!!!
admin berisik dateng lagi…
kayanya ini ff OS terakhir dariku, coz minggu depan mau ngshare ff series..
*gk ada yang nanya….*
so happy reading all..

My Girl friend can’t cook???

cast :
Super Junior Shindong
Nari >> Shin girlfriend

cameo:
all cast @ SJ

Jagiya manhi muhguh
Nae yuhjachinguneun (Nomu yeppuhyuh)..Nae yuhjachinguneun (Mameun duh yeppuhyuh)
Hajiman geunyuhegedo danhangaji danjuhm – naboda mothan yorisomsshi
Bapdo mothae gukdo mothae..Iguht juhguht amuguhtdo mothae!
Ramyuhne muldo mot matchugo..Ganjanginji colanjido gubyuhl mothae
Nuhreul nomu johahajiman..Nuhreul nomu saranghajiman…
Jongmal idaeroramyuhn..Gyuhlhoneun jom…

Nari, gadis yang berhasil mecuri hatiku, berhati baik, berparas rupawan, dan yang terpenting dia bisa menerima segala kekurangan dan kelebihanku.

“Oppa, kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Nari yang tanpa kusadari memperhatikanku, “Anio jagi, hanya mengingat masa-masa indah saja.” jawabku sambil membelai lembut rambutnya, “Oppa kangen dengan oppadeul yang lain ya?” tanyannya khawatir. “Ne, tapi hari ini kita jangan membicarakan itu ya..”

“Oppa, apa kamu serius dengan perkataanmu kemarin?” katanya malu-malu, “Ne, tentu saja aku serius. Memangnya kenapa?” Nari memandangku lekat-lekat, “Aku tidak bisa memasak oppa~~” katanya manja, aku tersenyum dan mengarahkan kedua jariku ke pipinya, “Kita bisa belajar sama-sama kan? Apalagi appamu seorang chef terkenal, jadi kamu pasti memikiki bakatnya walau sedikit.” jawabku menenangkannya,

“Keunde oppa~~~”
“Tidak ada tapi-tapian. Aku ingin mencoba masakanmu secepatnya. Arachi?” Nari mengangguk pelan, “Geumanhae, sekarang kita pesan makanan yang kita mau, dan nanti kita akan mencobanya di rumahmu.” tambahku lagi. Nari tersenyum manis, wajahnya yang bagai malaikat, matanya yang besar, dan senyumnya yang indah membuatku makin mencintainya.

Waenirinji uhneunal juhnyuhk chodae handamyuh
Nuhui jibeuro nareul boolluhjji naneun gidaehaessuhjji
Gulmgo gulmgo ddo gulmuh niga haejul mashinneun juhnyuk gidaehamyuh
Sangsanghamyuh sutgarageul deun geu sungan (Iruhke matuhbsuhdo dwenayo?!)
Iruhke matuhbsuhdo dwenayo? Dodaeche mu uhlnuheun guhngayo? (Oh ew nomu matuhbsuh)
Charari naega nuneul gamgo mandeunge duh na eulguhtman gatayo
Mashi uttuhnya naege mudneyo (Mwoyaaa!)
Ddo naege museun himi innayo (Ooh, ooh mashiddaaa)
Juhngmal mashiddarago haedduhni geunyuh useumyuh hangeureut duh juneyo… nal sallyuhjwo

Nari POV
“Iya,, tidak,, iya,, tidak,, Aih, bagaimana ini?” berkali-kali aku memandang layar hpku yang menunjukan no telp Shindong, “Jagi, kamu sudah menelepon Shindong ah?” tanya omma, “Belum omma, aku masih ragu.” kembali ku letakkan hpku di meja, “Rasa masakanku ini aneh, aku yakin oppa tidak akan menyukainya,” omma tersenyum dan mengambil hpku.

“Omma, apa yang…”
“Ah Shindong shi? Ne, bisa datang ke rumah, Nari sudah memasak untukmu. Gomawo.” omma mengembalikan hpku ke atas meja, “Semua beres jagi.”
end

>>

“Oppa, sebaiknya jangan di makan.” kata Nari panik saat aku akan memasukkan steak ke dalam mulutku, “Wae? Ini terlihat enak,” sebelum Nari menahanku, segera ku masukkan daging yang menggiurkan itu ke dalam mulutku dan…
‘Aih, daging apa ini? Keras sekali.’ batinku saat mengunyahnya, “Oppa sudah. Aku tau ini tidak enak.” Nari mengambil piring makanku.

Myuhchil dongan geunyuh amu yuhnlak obgo
Geunyuh chingu tonghae ahn geunyuhui soshik
Yuhnguh ( I’m full) Iruh ( Anou) Jungkuguh (Lai lai~) Hakwuhneul danineura shiganuhbda haneyo!

“Ani jagi, ini enak. Bumbunya pas.” aku menelan daging keras itu dengan susah payah. “Kalau begitu ayo coba spagettinya,” ajumma menawarkan spagetti dengan saus ikan tuna di atasnya. Menggiurkan memang, keunde kalau Nari yang memasak…..
“Shindong?” ajumma melihatkan tatapan meminta tolong, aku tau dia ingin menjaga perasaan Nari, “Ne ajumma, gomawo.”

Ku masukkan spagetti itu ke dalam mulutku, ‘Enak, ini benar-benar enak. Keunde, kenapa mie ini kenyal sekali?’ batinku lagi. “Oppa, sudah. Jangan terlalu memaksakan diri.” Nari benar-benar terlihat khawatir.

==

“Oppa mianhae, omma sudah memaksamu memakan masakanku. Jeongmal mianhae oppa.” mohon Nari saat aku sudah ada di depan pintu rumahnya, “Jagi, nan gwenchana. Aku suka masakanmu, aku…”
“Jangan berbohong oppa. Aku bisa melihat dari wajahmu,kalau kamu tidak menyukai masakannku, tidak satupun!” katanya dan segera berlari ke dalam, “Aih, kenapa jadi begini?” kataku bingung.

Nari POV
Aku tau dia tidak suka masakanku, kenapa dia tidak jujur? “Aih, apa ini?” aku memuntahkan steak yang tadi dimakan oppa, “Kenapa spagetti ini kenyal sekali? Mana bisa di makan?” ku hapus air mataku, “Aku tidak suka di bohongi seperti ini.” ku buang semua masakan yang ada di meja ke tempat sampah, “Babo yeoja!!” kataku kesal
end

Geuruhn geunyuh gapjagi naege yuhnlak haewajjyo dashi hanbuhn duh juhnyuhk chodaereul hageddaneyo
Nan gwaenchanhda baebureuda mareul haejjiman hokshina haneun geuruhn maeumeuro nuhege dallyuh ganneunde
Iruhke mashissuhdo dwenayo? ( Iruhke mashissuhdo dwenayo?) Ige sarami mandeun guhngayo? (Ooh mashissuh!)
Iruhnge iddaneun somundo naneun deuruh bonjuhkdo obneunde
Mashi uhttuhnya naege mudneyo (Joha joha! Nomu johaaa!) Nunmul heullimyuh nan marhaejjyo (Michigessuuuh!)
Muhrie tuhlnago iruhke mashinneun yorineun nan chuheumiya

Sudah beberapa minggu ini Nari tidak pernah menemuiku, kami hanya berhubungan lewat telpon atau email. Sampai suatu hari…
“Oppa, bisa ke rumahku?” tersendar suara Nari di seberang sana.
“Sekarang? Ada apa jagi?”
“Ne, ku tunggu jam 8.00 ya. Bye oppa, saranghae.”

>>

Ayam panggang, ttoboki, spagetti, steak, kimchi dan makanan mengiurkan lainya kini tertata indah di depanku, membuat lidahku menari membasahi bibirku, “Cobalah oppa, ini semua masakanku,” Nari tersenyum lebar. Glek, masakan Nari memang memiliki penampilan yang menipu. “Oppa~~ cobalah sedikit walau nanti rasanya sangat tidak enak,, jebal~~~~”

Ku ambil sesendok kimchi, ‘Bagaimana ini?’ pikirku, Nari masih terus melihat tajam ke arahku. Berlahan ku masukkan kimchi ke dalam mulutku, dan….
“Mashijjyo!!!!” kataku begitu kimchi itu lumer di mulutku, “Jinjja? Coba ini oppa” Nari memberiku ayam panggang, walau sedikit ragu, ku ambil paha ayam yang menggiurkan itu.

Ku koyak daging yang masih sedikit mengeluarkan asap itu, “Oppa, eottoke?” ku kunyah dan dapat kurasakan rasa nikmat dalam lidahku, “Jagi ini enak sekali!” kemudian ku makan daging ayam itu dengan lahap. “Oppa, apa benar-benar enak?” tanyanya ragu, aku hanya mengangguk karena mulutku kini penuh dengan makanan.

“Kamu tidak bohong kan oppa?”
“Apa anyu beom encoanya?” kataku tidak jelas, Nari menggeleng. “Aku takut oppa, aku takut rasanya tidak enak.” ku telan makanan yang sedari tadi ada di mulutku, “Jagi, bagaimana kamu bisa tau masakanmu enak kalau kamu tidak mencobanya? Kajja, ini benar-benar enak.” ku sondorkan sesuap spagetti padanya, “Nari ah~~”

Nari membuka mulutnya dan mengunyah pelan, berlahan tapi pasti senyumnya mulai merekah. “Kamu benar oppa, ini benar-benar enak. Tidak sia-sia kerja kerasku selama ini,” katanya dan mulai mengambil makanan yang lain. “Kerja keras? Apa maksudmu jagi?”

Algoboni geunyuhneun nareul wihaesuh
Yorihakwuhneul danyuhdduhn guhjyo (Oooh mashijjyo!) Naneun geuguhtdo moreunchae

“Jadi selama ini kamu pergi ke sekolah khusus memasak?” tanyaku saat dia selesai bercerita, “Ne oppa, aku tau kamu berbohong padaku beberapa minggu yang lalu. Aku tau kamu hanya ingin menjaga perasaanku. Keunde aku ingin kamu benar-benar memuji masakanku oppa,” jelasnya dengan senyuman, “Kamu tau jagi? Mianhae, bukan maksudku…”

“Ne oppa, arasso. Oppa begitu baik sehingga tidak mau menyakiti hatiku. Makanya aku memutuskan untuk mengikuti sekolah itu. Dan kalau aku berhasil, aku akan menjadi chef terkenal seperti appaku. Dan menjadi istri yang baik untukmu oppa.” lanjutnya dengan wajah memerah.

“Jagi, apa kamu melamarku?” tanyaku jail, “Anio oppa! Itu tugasmu. Aku hanya meminta padamu.” katanya penuh malu sekarang, “Jinjja? Kamu mau jadi istriku?” tanyaku kini memegang tangannya, “Oppa, kenapa cara melamarmu seperti ini? Mulut penuh dengan makanan, dan tanganmu. Penuh dengan minyak oppa~~~” katanya sambil melepas tanganku.

“Kenapa tidak bisa romantis sedikit sih?” Nari menekuk wajah manisnya, “Jagi, menurutku ini romantis. Melamarmu di tengah-tengan makanan enak ini? Sungguh romantiskan?” ku cium kilat pipinya sebelum dia memukul tanganku dengan malu. “Oppa!!!”

Iruhke matuhbsuhdo— (Aniji!)
Iruhke mashissuhdo dwenayo? (Geuruhji!) Ige sarami mandeun guhngayo? (Jagiya!)
Iruhnge iddaneun somundo naneun deuruh bonjuhkdo obneunde (Ooh mashissuh uhttuhkae!) (Nomu joha nomu joha!)
Mashi uhttuhnya naege mudneyo (Choigo!!) Nunmul heullimyuh nan marhaejjyo
Muhrie tuhlnago iruhke mashinneun yorineun nan chuheumiya
(Hahahaha!) (Aah mashissuhyo!) (Eheheh) (Duhwoyo~)

“Yakin ini aman untuk di makan?” bisik Eunhyuk padaku, “Bukankah kamu pernah bilang masakannya buruk?” Kangin menambahkan, “Aku belum mau mati Shindong,” kata Leeteuk pelan saat melihat masakan Nari, “Tapi ini terlihat enak hyung,” kata Sungmin dengan mata berbinar-binar.

“Yah oppadeul, kata-kata kalian terdengar olehku tau. Menyebalkan,” Nari kembali mengerucutkan mulutnya, “Makan saja dulu. Kalian boleh membunuhku kalau makanannya tidak enak.” tantangku sambil memeluk Nari, “Tenang jagi, sebentar lagi mereka pasti jatuh cinta padamu,” bisikku yang membuat Nari tersenyum. “Kamu yakin oppa? Bersiaplah kalau begitu.” jawabnya lembut.

Leeteuk memasukkan potongan daging ayam ke dalam mulutnya, “Hyung, eottoke?” tanya Kangin, Eunhyuk dan Sungmin. Leeteuk tersenyum lalu mengangguk dan mengambil lebih banyak daging, “Jinjja? Nari ah, kamu membelinya?” Nari menatap Kangin tajam, “Ah ara ara, aku makan sekarang.” dan Kangin mulai memasukkan spagetti ke mulutnya, “Eottoke?” Sungmin dan Eunhyuk masih tampak ragu.

“En yak!!!! Oba ah,” tangan Kangin mendorong beberapa piring ke arah Eunhyuk dan Sungmin, “Palli palli.” kata Leeteuk sambil mengambil spagetti milik Kangin. Eunhyuk dan Sungmin saling berpandangan dan menggung. Mereka memasukan makanan yang berbeda, “ENAK!!!!!” teriak mereka berdua, dan segera melahap makanan yang ada.

“Jagi, sepertinya mulai sekarang kamu harus sering memasak,” kataku sambil memakan bagianku, “Ne, aku akan memasak untuk oppa mulai sekarang.”
“Nari ah, putuskan saja Shindong hyung. Menikahlah denganku.” kata Eunhyuk di sela-sela makannya, “Kamu mau aku bunuh Hyukkie?” ku acungkan pisau pemotong steakku, “Anio, ku rasa Nari pantas untukku,” kata Kangin dan Leeteuk bersamaan, “Bagaimana dengan Eun Chan onnie dan Shin Yang?” tanya Nari menggoda.

“Kami akan belajar denganmu, Nari ah.” terdengar suara Eun Chan noona yang datang bersama Shin Yang noona. “Oh ya, hyukkie, kamu suda hada Hae In kan? Suruh saja dia belajar memasak,” sergah Sungmin, “Mungkin 20 tahun lagi.” jawab Leeteuk dan Eunhyuk bersamaan, “Oppa!!!” Hae In datang dan segera memukul kepala oppa dan namchingunya.

Dari belakang Sae Riie datang menyusul, “Jagi kita disini untuk makan bersama atau pacaran bersama?” kata Shindong yang heran melihat yeochingu dari Leeteuk, Kangin, Sungmin dan Enhyuk datang, “Aku yang mengundang mereka oppa, akan lebih seru kan?” kata Nari.

“Nari, bagaimana kalau kamu masak lebih banyak makanan? Kita undang yang lainnya.” usul Eunhyuk asal, “Mwo!? Mana mungkin ruang makan ini bisa menampung 40 orang?” kataku terkejut. “Outdoor party!!!!” teriak Eunhyuk dan Hae In, yang lainnya mengangguk setuju. “Jagi??”
“Gwenchana oppa. Girls, help me please.” Nari mengajak para gadis untuk membantunya memasak, “Onnie, aku tunggu di luar saja ya. Aku tidak mau rumahmu kebakaran nanti.” Hae In segera berlari ke luar.

>>

Leeteuk-EunChan, Heechul-JaeSun, Hangeng-SeungMi, Yesung-HeeRa, Kangin-ShinYang, Sungmin-SaeRiie, Enhyuk-HaeIn, ZhouMi-HyoRi, Donghae-HyunJae, Siwon-HyanJae, Kibum-HyunJae, Ryeowook-ReeKi, Kyuhyun-HyunRi, Henry-HyeonNa, Jinki-Meijin, Jonghyun-MinRi, Kibum-HyeByul, Minho-MinSeul, dan Taemin-HyeYeon.

“Jagi, bagaimana kalau…” kubisikkan niatku pada Nari, “Oppa, apa tidak terburu-buru?”
“Jagi, lihatlah. Kita sudah mengadakan pesta sekarang. Tidak kamu lihat berapa banyak orang disini? Ini cukup untuk pesta kecil jagi,” bujukku. Nari mulai tersenyum, “Kajja oppa.” katanya sambil menarikku ke dalam rumah.

>>

Author POV

Ke 19 pasangan lainnya kini sedang menikmati BBQ dan alunan musik. Mereka tidak sadar bahwa pasangan utama pesta dadakan ini telah menghilang. Tak lama musik bergenre hiphop telah terganti dengan alunan musik lembut, semua mata kini telah tertarik ke pintu yang menghubungkan rumah Nari dengan taman belakang.

Shindong keluar dengan toxedo hitam, dengan gagah ia menggandeng Nari yang kini terbungkus cantik dengan gaun dengan perpaduan warna pink, biru langit, dan ungu ice cream. “WOOAAAH!!!” terdengar seruan kagum dari ke 19 pasang lainnya, “Ya, awalnya memang tidak terpikirkan hal ini, chinguya. Keunde kulihat kebahagian memancar disini. Jadi kuputuskan untuk mengadakan pesta pertunangan dadakanku dengan Nari.” kata Shindong memecah kesunyian.

“Andwae, kamu mendahuluiku Shindong ah,” protes Leeteuk, “Mian hyung, dalam hal seperti ini aku tidak bisa melihat tingkatan usia. Hehehe,” wajah Shindong kini memerah, “Hyung benar. Noona, menikahlah denganku,” kata Taemin pada Hye Yeon, “Aih Taemin ah, tunggulah sampai aku benar-benar melamar Nari,” Shindong menjitak kepala Taemin pelan. “Cepatlah hyung, atau aku yang akan mendahuluimu?” kata Siwon kemudian.

Dengan segera para Super Junior membentuk sebuah formasi dengan Shindong di depannya, “pyeongsaeng gyeohte isseulge (I do).. Neol saranghaneun goel (I do)..Nungwa biga wado akkyuhjeomhnseoh (I do)..Nuhreul jukyeohjulge (My love)”
Shindong mendekati Nari dan berlutut di depannya, “Will you marry me?” Nari mengangguk dan segera menjulurkan tangannya, tanpa basa-basi Shindong memakaikan cincin ke jari manis Nari.

“Yah, mungkin aku akan menyusulmu Shindong,” kata Leeteuk dan mengecup bibir Eun Chan. Suasana malam ini penuh dengan canda tawa dan aura kebahagiaan. “Sekarang, waktunya makan!!!!!” teriak Hae In, Taemin, Hee Ra, Henry dan Kangin. Mereka mulai menyerbu makanan yang ada di meja maupun diatas panggangan.

“Oppa, aku senang sekali hari ini.” kata Nari sambil menyuapi Shindong, “Hem, na do jagiya. Ternyata ide gila Eunhyuk bisa membuatku melamarmu secepat ini. Bagaimana kalau konsep pernikahan kita nanti seperi ini?” usul Shindong. “Sepertinya menyenangkan oppa,”
“Tapi aku ingin kamu yang memasak makanannya,” Shindong kembali menerima steak yang disuapkan Nari padanya.

“Jagiya baebulluh?” Shindong mengangguk dan mencium Nari lembut.

Tentang bbkoreafanfiction

this is just blog for fun :)
Pos ini dipublikasikan di Oneshoot. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s