my swan angel

Super Junior Leeteuk
Park Eun Chan >> ANiezha Aiden AngeleeteukyuwoniElf
Kim Nam Il
Sulli

**

Eun Chan POV
Aku duduk di bangku yang ada di pinggir sungai Han. Malam cerah yang bertemankan cahaya bulan dan bintang. Angin yang memainkan rambutku, dan suara nyanyian jangkrik dan sepasang angsa yang sedang kupandangi sekarang. Saling bercengkraman, menari dan bernyanyi. Seakan dunia ini milik mereka berdua. Angsa, binatang yang sangat kusukai. Karena kesetiaan mereka pada pasangannya, sungguh binatang yang indah.

“Andai aku memiliki kekasih seperti angsa itu.” kataku pada diriku. Ku pandangi photo seorang namja yang baru saja membuatku kecewa. Kim Nam Il. Seorang atlit sepakbola yang lebih memilih karirnya daripada diriku, sungguh egois.
POV end

**

Eun Chan berjalan lunglai setelah bertemu dengan kekasihnya, Kim Nam Il. “Mianhae Chan ah, lebih baik kita putus. Aku ingin berkonsentrasi pada Piada Dunia nanti. Aku tidak mau membuatmu sedih karena tidak pernah memberimu kabar,” itulah yang dikatakan Nam Il pada Eun Chan.

“Tidak ingin membuatku sedih katanya? Alasan yang tidak masuk akal. BABOYA!!!!!” teriak Eun Chan yang membuat orang-orang di sekelilingnya melihatnya. Tiba-tiba seorang namja mengulurkan mike ke depan Eun Chan, “Apa masih butuh mike? Ku rasa orang yang kau maksud akan segera mendengar suaramu,” Namja itu tersenyum manis pada Eun Chan.

“Leeteuk imnida. Kau?” Leeteuk mengulurkan tangannya, “Cih, jangan ganggu aku.” Eun Chan pergi meninggalkan Leeteuk yang masih mengulurkan tangan. “Baiklah, kapan-kapan kita bertemu lagi ya!!” teriak Leeteuk. “Dasar namja aneh!” omel Eun Chan pelan.

>>

“Chan ah, jangan menangis terus.” kata Sulli sahabat Eun Chan, “Anio! Kenapa dia begitu tega padaku? Sudah hampir 3 tahun kami berpacaran, dan dengan mudah dia memutuskanku karena Piada Dunia bodoh itu.” tangis Eun Chan semakin pecah. “Chan ah, break itu bukan putus…”
“Sama saja! Tidak saling menghubungi, tidak bertemu, bahkan berpura-pura untuk tidak khawatir pada keadaannya. Secara tidak langsung dia memutuskanku!” teriaknya lagi. “Ah kau ini, susah sekali di kasih tau.” Sulli berbaring di samping Eun Chan.

“Ku kira kamu sudah tau konsekuensinya menjadi kekasih Nam Il,” kata Sulli, “Ne. Tapi ku kira dia tidak akan seperti itu. Egois!!!” Eun Chan membanting photo Nam Il yang sedang memeluknya. “Huff, kalian ini memang tidak cocok. Bagi Nam Il bola segalanya, sedangkan kamu sangat mengidam-idamkan namja yang memiliki sifat setia angsa.”

>>

“Ucapan Sulli benar, dari awal memang aku yang mengejar-ngejar Nam Il, ku kira kesetiaannya pada bola bisa sama seperti padaku.” Air mata kembali menghiasi wajah Eun Chan. Lagi-lagi dia mendatangi salah satu sudut sungai Han yang dimana adalah tempat tinggal binatang kesukaannya. plung, terdengar suara benda yang cukup ringan jatuh ke air. “Namja itu..” Cukup lama Eun Chan memperhatikan namja yang sedang memancing di depannya.

“Apa aku setampan itu?” namja itu menoleh ke arah Eun Chan, senyumnya yang berhiaskan lesung pipi kecil memang sempurna di wajahnya yang tampan, “Ne~~” jawab Eun Chan tanpa sadar. “Kamu agassi yang waktu itu berteriak di depan tempat kerjaku kan?” Leeteuk meletakkan pancingannya, mendekati Eun Chan lalu duduk di sampingnya, “Heh? kamu siapa?” tanya Eun Chan, “Ah, namja aneh yang memberiku mike kan? Mian telah membentakmu waktu itu,” ucap Eun Chan. “Gwenchana, oh ya aku belum tau namamu,” Eun Chan mengulurkan tangan, “Park Eun Chan imnida.”

**

Leeteuk POV
“Kamu disini lagi Chan ah?”sapaku pada yeoja yang hampir 3 bulan ku kenal, “Teuki? Ne, aku suka tempat ini.” jawabnya. Ku letakkan belanjaanku dan duduk di sampingnya, “Chan ah, kenapa kamu suka sekali tempat ini?” dia tersenyum sambil memandang pantulan bulan di air, “Bukan tempatnya, tapi keindahan yang tinggal di tempat ini.” ku lihat sekeliling, “Apa yang kamu cari?” tanyanya ketika melihat tingkahku. “Keindahan yang kamu bilang. Disini hanya ada pohon, kursi, air, rumput, bunga, dan kita. Apa yang aku maksud ke indahan itu aku?”

Eun Chan tertawa pelan, “Anio. Tapi sepasang angsa itu.” angsa yang berenang bersama? “Apa yang indah? Mereka hanya berenang bersama, memang angsa adalah binatang yang anggun, tapi aku tidak tau bagian mana yang indah dari mereka.” lagi-lagi Eun Chan tertawa, “Bukan mereka Teuki ah, tapi makna dari diri mereka.”

“Angsa adalah salah satu dari sekian banyak binatang yang akan tetap setia pada keluarganya. Angsa jantan tidak akan pernah meninggalkan angsa betina dan anak-anak mereka. Tidak seperti binatang lain yang dengan mudah berganti pasangan. Angsa memiliki rasa cinta yang dalam pada pasangannya.” jelas Eun Chan penuh kagum. “Apa aku sudah menemukan angsa jantan itu?” tanyaku, “Hampir, tapi angsaku lebih dulu mencintai pekerjaannya dari pada aku. Baginya pekerjaannya adalah segalanya.”

“Wae? Kurasa sulit mendapatkan yeoja sepertimu, angsa.” Eun Chan tersenyum, namun dapat kulihat perasaan sedih tersirat di matanya. “Dia lebih dulu mengikatkan dirinya pada bola.” jawabnya penuh sendu, “Masih banyak angsa jantan lainnya yang akan menjadi pasanganku, aku yakin itu.” katanya lagi. “Bisakah aku menjadi angsa jantanmu?” tanyaku spontan. Kami saling berpandangan, berlahan ku dekatkan wajahku padanya, dengan berlahan aku terus mendekatinya. Tak kusangka Eun Chan menutup matanya dan mendekatiku, kulakukan hal yang sama sampai aku bisa merasakan bibirnya yang lembut.

>>

“Belanjaanmu terlalu banyak untuk seorang namja muda.” katanya saat kami berjalan pulang. Eun Chan membantuku membawa 2 kantung besar dan aku membawa 3 yang lain. “Andai kamu tau keluargaku, angsa. Kami ber20 tinggal di satu dorm yang sama. Dapat kamu bayangkan?” kataku sambil memasukkan belanjaanku ke mobil Eun Chan, “Mwo? 20? Kamu membuka panti asuhan?” tanyanya, “Ani, kami ini namja mandiri, aku sendiri bingung, bagaimana kami bisa saling bertemu.” ucapku sambil tertawa, “Nanti ku kenalkan pada mereka.”

Kami sampai di depan dormku, “Dongsaengdeul!!!! Hyung pulang!!!” teriakku dari depan rumah. Tak berapa lama dapat kurasakan Eun Chan memegang lengan atasku, “Apa disini sering terjadi gempa?” tanyanya panik, “Lihat saja ke rumahku.” tak berapa lama pintu terbuka, “Hyung! Wah yeoja. Ayo noona masuk.” Taemin menarik Eun Chan yang kebingungn ke dalam rumah. “Chullie, Jonghyun, bantú aku.”

“Noona yeochingu teuki hyung?” tanya Key, “Bagaimana noona bisa kenal hyung?” Taemin menambahkan. “Jangan terkecoh oleh senyum manisnya noona,” kini Donghae bersuara, “Noona bisa masak? Kita bisa masak sama-sama,” ajak Ryeowook dan Hangeng bersamaan, “Noona, lebih baik noona denganku saja,” Eunhyuk memegang tangan Eun Chan, “Eh. anio, eh? Uri.. senyum? Masak,, ah aku..” Eun Chan terlihat kebingungan menjawab pertanyaan yang membom bardirnya.

“Ya kalian ini. Dia tamu kita, lakukan dia dengan baik. Wookie, buatkan minuman, Han ambil makanan di kulkas.” dengan segera Ryeowook dan Hangeng menuju dapur. “Teuki ah, kalian tinggal bersama?” tanya Eun Chan ragu, aku mengangguk, “Hei kalian. ayo kenalkan diri kalian pada Eun Chan.” kataku. Segera saja ke 19 namja itu berbaris.

“Annyeong Chulli, Hangeng, Yesung, Kangin, Shindong, Minnie, Hyuk, ZhouMi, Hae, Wonnie, Wookie, Kibum, Kyu, Henry” kata mereka ber14, “Dan kami para magnae, Onew, Jonghyun, Key, Minho dan super magnae Tae.” lanjut 5 namja itu. “Pak Eun Cham imnida. Kalian benar-benar tinggal di satu dorm?” dan kami semua mengangguk kompak.
end

==

Eun Chan POV
“Gomawo Teuki, sudah membawaku ke dormmu, tempat ini menyenangkan ya,” kataku saat kami sudah di depan mobilku, “Mereka lucu-lucu,” Leeteuk tertawa, “Ne, malam hari mereka sangat ribut, tapi di pagi hari tempat ini seperti kuburan. Aku harus membangunkan mereka di hari sekolah,” keluhnya, namun terlihat sangat bahagia, “Aku tidak tahu bagaimana kalau kami berpisah.” katanya lagi. “Kamu hebat bisa bersabar mengurus mereka,” aku mencium pipi Leeteuk dan segera memasuki mobilku.

==

Sepanjang jalan aku tak henti-hentinya tersenyum. Hari ini benar-benar menyenangkan, apalagi kejadian di sungai Han itu.

-flashback-
Leeteuk melepas ciumannya, “Mianhae,” katanya dan segera memalingkan wajahnya. “Mungkin aku tidak bisa menjadi angsa jantanmu, tapi aku ingin mencoba menjadi seseorang yang berarti dalam hidupmu, menjagamu, membahagiakanmu, dan menjadi sumber kebahagianmu.” Leeteuk kembali memandangku, “Saranghae Eun Chan.” dapat ku rasakan tangannya mulai meremas tanganku pelan.

“Teuki ah~~” kuluruskan posisi dudukku, kupandang hamparan sungai Han, pantulan cahaya bulan dan dua balerina yang menari di atas air. ‘Apa bisa aku menerimanya secepat ini? Memang aku mulai menyukainya, keunde.. aku masih mencintai Nam Il,’ batinku. “Memang sulit melupakan orang yang sudah begitu lama kita cintai,” kata Leeteuk pelan, ku pandangi matanya yang masih melihat ke arahku.

“Teuki, ini begitu mendadak. Aku.. aku masih mencintai namja bodoh itu, tapi tak bisa ku pungkiri kalau aku juga menyukaimu.” Leeteuk tersenyum, “Bisakah aku membantumu melupakannya, dan membuatmu mencintaiku?” tanyanya lembut. Kembali ku alihkan pandanganku, ‘Tuhan, apa ini jawabanmu atas doa-doaku? Apa Teuki adalah jawabannya?’ Leeteuk bangkit dan berjongkok di depanku, “Eottoke?” senyumnya lagi-lagi membuatku nyaman, dan ku anggukkan kepalaku pelan.

“Gomawo, angsa.” Leeteuk memelukku, “Keunde, kenapa panggil aku angsa?” tanyaku saat dia kembali duduk di sampingku. “Kamu suka angsakan? Lagipula sifatmu yang setia itu mirip dengan definisimu tentang angsa, hanya saja kamu terlalu bodoh karena tetap bertahan pada orang seperti Nam Il.” jelasnya membuatku manyun, “Ne arasso, angel Teuki.” jawabku jail.

“Angel Teuki?” tanya Leeteuk, “Hem, angel baik yang akan membantu mengobati lukaku,” ku julurkan lidahku padanya. “Angel Teuki? Bagus juga. Ok angsa, mulai sekarang jadikan aku angel yang selalu ada di hatimu. Akan ku tendang Nam Il hingga ke Afrika nanti. Sayang, aku harus mendukung KorSel, berarti aku juga mendukung dia dong.” canda Leeteuk.
end

“Semoga aku bisa benar-benar menjadikanmu angelku, Teuki.” kumasuki rumahku yang cukup sepi. kubanting badanku ke tempat tidur empukku. “Ah~~~” ku lihat photo Nam Il yang memelukku. “Bye Nam Il” ku keluarkan photo itu dari figura, kemudian ku bawa ke dapur. Kunyalakan kompor dan membakar photo yang mengingatkanku dengannya, “Semoga api ini menghanguskan perasaanku padamu.”
end

**

Nam Il POV
Siapa namja yang bersama Eun Chan? Sepertinya bukan teman Eun Chan. Ku dekati mereka yang sedang makan siang, “Jagi, siapa dia?” tanyaku sambil duduk di antara mereka. “Op..oppa?” katanya terkejut, “Leeteuk imnida,” sapa namja di kananku, “Nam Il imnida, kamu teman barunya Eun Chan?”
“Ne, kami baru saja kenal.” jawabnya, Eun Chan terlihat sedikit gelisah, “Kenapa ada disini?” tanyanya padaku, “Menemuimu. Tadi aku mengunjungi Sulli, katanya kamu disini. Bagaimana kalau….”

“Angsa, lebih baik aku pulang dulu. Nam Il shi, saya duluan.” potong Leeteuk dan meninggalkan kami. “Kenapa kembali? Bukankah sedang sibuk untuki Piada Dunia?” tanya Eun Chan sinis, “Aku merindukanmu, kurasa…”
“Bukankah kita sudah putus? Kamu sendiri kan yang memintanya?” dapat kulihat air mata sudah membendung matanya, “Ne. Keunde, nan andwae. Aku masih mencintaimu jagi,” kupegang tangannya dan sedetik kemudian Eun Chan membanting tanganku.

“Begitu mudahnya bagimu berbicara begitu. Hanya mengucapkan beberapa kata tanpa memikirkna perasaanku? Jujur, aku tidak terima saat kamu memutuskanku tiba-tiba, tapi aku berusaha untuk tegar. Sekarang, setelah 5 bulan kamu datang dan mengatakan kalau kamu mencintaiku? Hem, egois.” katanya panjang lebar. “Aku tau aku salah, aku terlalu egois, keunde aku memang tidak bisa. Beri aku kesempatan.” mohonku. Selama beberapa menit Eun Chan hanya diam, “Jagi~~”

“Berhenti memanggilku seperti itu. Biarkan aku berfikir, beri aku waktu satu minggu.” jawabnya dan pergi meninggalkanku. Ku sandarkan tubuhku dengan senyuman, “Aku yakin kamu akan kembali padaku. Dan kalaupun kamu menolakku, aku bisa dengan mudah mencari yeoja lain.” dan tak lama ada beberapa yeoja yang datang mengelilingiku, “Oppa boleh minta tanda tangannya kan?” kata seorang yeoja SMA, “Oppa, foto bareng ya~~~” kata yang lain, ‘Benarkan? Belum satu menit aku berbicara, semua sudah terbukti.’
end

==

“Jadi dia memintamu kembali padanya?” tanya Leeteuk pada Eun Chan. Mereka kembali bertemu di sudut sungai Han tempat biasa mereka bertemu, sudut swan angel. “Kalau saranku sebagai angel Teuki, aku akan bilang jangan memberinya kesempatan. Tapi jika sebagai Leeteuk, berfikirlah lagi. Yang terpenting adalah kebahagianmu, dan jika kamu memilihnya, aku akan tetap menjadi angelmu.” jawab Leeteuk bijak.

“Wae?” tanya Eun Chan, pandangannya masih tertuju pada pantulan bulan di air, “Kamu ingin jawaban dari siapa? Angel atau Leeteuk?” Eun Chan memandang Leeteuk memohon, “Hahaha, ne. Angel Teuki menginginkan cintamu hanya pada dirinya. Sedangkan Leeteuk hanya ingin kamu bahagia. Jadi kesimpulannya…”

“Larang aku Teuki. Larang aku untuk kembali padanya, jebal…” mohon Eun Chan yang memeluk Leeteuk, “I can’t. Aku tidak bisa memaksamu, sudah ku bilang semua ada padamu. Lagi pula, hanya dirimu yang bisa menilai siapa yang pantas di sampingmu. Aku mendukung semua keputusanmu, angsa.” Leeteuk mengelus kepala Eun Chan lembut, “Aku bingung. Ke datangan Nam Il yang tiba-tiba mengacaukan pikiranku. Di satu sisi aku benci dengan ke hadirannya, tapi aku juga merindukannya. Dan juga,,”

Eun Chan melihat ke arah Leeteuk, “Dan juga aku mencintaimu,” Leeteuk tersenyum dan menghapus air mata Eun Chan. “Gomawo, tapi pikirkan lagi. Jangan sampai kamu menyesal di akhirnya.” Leeteuk kembali memeluk Eun Chan yang kembali menangis, ‘Apapun keputusanmu nanti, aku hanya ingin kamu bahagian Eun Chan. Dan sepertinya aku harus mulai menyiapkan diriku dari sekarang.’ batin Leeteuk.

>>

“Gomawo sudah mengantarku.” ucap Eun Chan. “Ne, aku pulang dulu. Bye.” Kembali Leeteuk langkahkan kakinya, di pasangkannya earphone dan mulai bernyanyi kecil “Waenirinji uhneunal juhnyuhk chodae handamyuh. Nuhui jibeuro nareul boolluhjji naneun gidaehaessuhjji” sesekali Leeteuk menari-nari kecil, tiba-tiba ada sebuah mobil yang memblokir jalannya.

“Jadi kalian kenal secara tidak sengaja?” tanya Nam Il yang sekarang sudah duduk di sebuah café bersama Leeteuk, “Hem, saat itu seperti kamu baru saja memutuskannya.” Leeteuk menyeruput kopinya dan mengambil sepotong kue, “Dan sekarang kamu mencoba merebut hatinya?” Nam Il tertawa mengejek, “Hem, sepertinya aku sudah berhasil. Ya, dia bilang dia mencintaiku.” jawab Leeteuk santai. Nam Il terlihat kesal dengan sikap Leeteuk yang cukup santai.

“Oh ya? Tapi sepertinya kau akan gagal, bung. Karena aku kembali untuk merebutnya kembali.” sombong Nam Il, “Yah, lihat saja nanti.” Leeteuk sudah mulai malas dengan tingkah laku Nam Il yang menurutnya menyebalkan, Leeteuk mengirimkan sebuah sms kepada Eun Chan,

to : Eun Chan si angsa
Hei angsa, ternyata namjamu ini menyebalkan ya. Aku heran kamu bisa bertahan begitu lama dengannya.

“Sombong sekali jawabanmu. Bersiap-siaplah kecewa kawan,” Nam Il bangkit dan merapikan pakaiannya, “Aku pulang duluan, dan tenang saja. Semua yang kita sudah ku bayar, annyeong.” Leeteuk membalas bungkukan Nam Il, “Bayar katamu? Café ini milikku babo.” ejek Leeteuk yang ternyata pemilik café yang sekarang di kunjunginya, “Jadi untuk apa aku membayar kalau yang aku pesan ini memang dari uangku sendiri?” ejeknya lagi.

**

Eun Chan POV
“Sulli ah, eottoke? Hari ini Nam Il meminta jawabanku. Eottoke Sulli~~”
“Ikuti kata hatimu, seperti kata Leeteuk shi, hanya kamu yang tau siapa yang bisa membahagiakanmu.” kata Sulli dari telpon, “Ah, aku bingung. Baiklah nanti ku telpon lagi. Gomawo Sulli ah.” kututup hpku dan membuangnya ke tempat tidurku. “Tuhan, bagaimana ini?” kututup mataku.

Banyanganku saat bersama Nam Il muncul begitu saja, senyuman yang terlukis di wajahnya membuatku tersenyum. Dan kini kubayangkan kebersamaanku yang singkat dengan Leeteuk, sikapnya saat memelukku, menertawakanku, mengejekku, bahkan saat dia menawarkan mikenya padaku. Ku rasakan hatiku nyaman saat mengingatnya. “Hua!!!!!!!” teriakku frustasi.

==

Disini, di sudut swan angel aku akan memperjelas semuanya. “Jadi sudah siapa menerimaku kembali jagi?” tiba-tiba Nam Il berkata di belakangku dan bersiap memelukku, “Chakaman. Aku ingin tau, kenapa kamu memutuskanku waktu itu.” Nam Il mendudukan dirinya di sampingku, “Sudah ku bilang, aku ingin konsentrasi latihan.”

“Dan kenapa tiba-tiba kamu kembali.” kembali ku bertanya padanya, “Aku tidak tega melihatmu sedih, lagi pula aku yakin kamu masih mencintaiku. Dan yang terpenting, aku tidak mau kehilanganmu.” Aku tersenyum mendengar jawabannya. ‘Tuhan, inikah jawabannya?’ ku pegang pundak Nam Il lembut, “Gomawo, oppa.”

>>

“Noona? Tumben datang, masuk-masuk.” Henry mempersilahkanku. “Mana yang lain? Kenapa sepi sekali?” tak lama Sungmin, Jinki, Minho, Shindong, Hangeng dan Taemin datang. “Kami sedang jalan-jalan. Sebentar lagi Teuki hyung datang,” jawab Shindong padaku. Setelah mereka masuk, Eunhyuk, Siwon, Jonghyun, Kibum, Heechul, Kibum, dan yang lainnya datang sambil bergantian mengucapkan salam padaku, “Angsa?” kata namja yang dari tadi ku tunggu.

Kami berjalan di taman dekat dorm Leeteuk, “Mian, pasti tadi menunggu lama ya? Minumlah.” kata Leeteuk memberiku kopi panas, “So, bagaimana kalian tadi?” ku minum kopiku, kumainkan kedua kakiku dan melihat beberapa burung sedang mencari makan. “Berakhir bahagia.” jawabku pelan. Ku rasakan Leeteuk mengelus kepalaku, “Syukurlah, berbahagialah.” aku tersenyum padanya,

“Itu jawaban dari Eun Chan, kamu belum mendengar jawaban dari Angsamu kan?” Leeteuk tersenyum parau sambil melihat ke arah yang tak ku ketahui, “Angsa bilang, dia akan lebih bahagia bila ada angel baik hati yang selalu ada untuknya.” Leeteuk mengangguk, “Tentu saja, kamu akan….” Leeteuk memandangku dengan mata terbelalak. “Angel swan akan selalu bersama, oppa.” sedetik kemudian ku rasakan Leeteuk menggendongku dan memutarku ke udara.

“Ya!! Pusing…” aku berdiri gontai saat Leeteuk menurunkanku, “Angsa suka terbangkan?” tanyanya mencolek hidungku, “Jika angel Teuki mengajakku. Aku mau?” jawabku dan mencium bibirnya kilat.

“Nol choum bon sungan a miracle (a miracle)
I love you baby and I’m never gonna stop”

ke 19 dongsaeng Leeteuk datang dan bernyanyi untuk kami, “Kita akan segera mendapatkan omma yang sesungguhnya,” ucap Taemin senang, “Hyung, apapun keputusanmu aku rela. Berbahagialah hyung,” Kangin memeluk Leeteuk dan beralih padaku, “Bahagiakan suamiku,” katanya dan berhasil membuat gelak tawa kami semua. “Swan angel story begin,” bisik Leeteuk padaku, “Anio, angel swan begin.” balasku.

Tentang bbkoreafanfiction

this is just blog for fun :)
Pos ini dipublikasikan di Oneshoot. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s